Peneliti Sebut Emisi Karbon LNG Tak Lebih Baik dari Batu Bara
JAKARTA, Investortrust.id - Pemerintahan Biden menghadapi salah satu pilihan kebijakan terkait iklim paling mendasar pada musim gugur ini: Haruskah mereka terus mengizinkan ekspansi ekspor gas alam cair (LNG), atau sebaiknya menghentikan pengembangan industri ini dengan cepat, setidaknya sampai mereka dapat merumuskan pedoman baru.
Tantangannya besar karena pembangunan infrastruktur LNG di Amerika Serikat adalah contoh terbesar ekspansi bahan bakar fosil yang ada di mana pun di dunia. Tetapi ada data baru yang mungkin akan memudahkan pilihan pemerintah, atau setidaknya membuatnya lebih tegas.
Adalah analisis Robert Warren Howarth, seorang profesor ekologi dan biologi lingkungan di Cornell yang merupakan salah satu ilmuwan metana terkemuka di dunia. Analisis ini berusaha untuk membuka jejak gas rumah kaca dari LNG yang diekspor ke Eropa dan Asia, dan angka-angka yang disajikan sangat luar biasa. Sejauh ini pembangkit listrik tenaga batu bara telah lama menjadi standar untuk mengukur kerusakan iklim. Skemanya adalah sebagai berikut, ketika batu bara terbakar, karbon dioksida dilepaskan ke udara dalam jumlah besar.
Baca Juga
Jokowi: PLTS di IKN Mampu Kurangi 104 Ribu Ton Emisi Karbon Tiap Tahun
Dalam beberapa tahun terakhir, Howarth telah mendemonstrasikan bahwa, secara domestik di AS, gas alam sejatinya tidak lebih baik bagi iklim dibandingkan batu bara, sebagian besar karena kebocoran metana yang diakibatkan dalam proses produksi. Lewat langkah ekspor LNG, yang dibarengi terjadinya kebocoran tambahan gas superdingin tersebut selama transit, memungkinkan jumlah metana yang terlepas ke atmosfer bisa lebih besar. Situasi ini dapat menyebabkan kerusakan iklim yang jauh lebih besar ketimbang emisi dari produksi batu bara.
Kebocoran terjadi pada setiap tahap proses, jelas Howarth. Bahkan setelah gas dipadatkan di kapal di tangki berinsulasi, sebagian dari gas "menguap" saat panas tersebut bocor dalam proses insulasi. Kapal tanker dengan teknologi terbaru memang mencoba membakar metana yang diuapkan untuk bahan bakar, tetapi bahkan dalam proses ini menurut Howarth sebagian dari gas itu dikeluarkan tanpa terbakar lewat aliran gas buang. "Dan semuanya terakumulasi," kata Howarth dikutip Newyorker.com.
Baca Juga
BEI Sebut Bursa Karbon Buka Potensi Kredit Karbon RI ke Tingkat Global
Howarth membuat model sejumlah skenario berbeda, dari seberapa jauh LNGitu dibawa dalam sbeuah perjalanan, hingga seberapa banyak metana yang mungkin terlepas. Menurut perhitungannya, bahkan ketika gas dikirimkan dengan menggunakan kapal termodern, berdasarkan rute yang paling dekat, emisi gas rumah kaca dari seluruh siklusproduksi, pengiriman hingga pembakaran akhir LNG ternyata 24% lebih buruk ketimbang menggali dan membakar batu bara dalam jumlah setara.
Kasus terburuk tentunya jika perjalanan panjang pengiriman dengan menggunakan kapal tua yang menggunakan pembakaran berbasis BBM, dengan dampak 274% lebih buruk pada emisi gas rumah kaca.
Namun, Howarth cukup berhati-hati untuk mengemukakan dalil-dalilnya. Pasalnya makalah yang ia buat belum rampung dalam proses review, kendati telah dikirimkan ke sejumlah ke jurnal.
"Sangat mungkin saya membuat beberapa kesalahan, dan semoga saja tidak besar." Tetapiselama pokok data tersedia, makalahnya bisa membantah argumen utama para pendukung LNG yang menganggap LNG lebih bersih daripada batu bara. Howarth menyimpulkan makalahnya dengan mengatakan bahwa "mengakhiri penggunaan LNG harus menjadi prioritas global."

