Agincourt Resources dan Peneliti IPB Ungkap Mikoriza Bisa Mengurangi Efek Pemanasan Global
JAKARTA, investortrust.id - Seminar ESG digelar pada hari pertama peringatan Hari Pers Nasional hasil kerjasama antara PWI Pusat dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di Candi Bentar, kompleks Cottage Pondok Putri Duyung di Ancol Jakarta, Minggu, (18/02/2024). Hari Pers Nasional dengan tema “Mengawal Transisi Kepemimpinan Nasional dan Merawat Keutuhan Bangsa” digelar sejak tanggal 18 hingga 20 Februari, mundur 9 hari untuk menyesuaikan dengan masa kampanye Pilpres 2024.
Pada seminar ini, KLHK dan PWI Pusat mengangkat tema "Selamatkan Planet Bumi Melalui Penerapan Prinsip ESG" dan menghadirkan pembicara seperti Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam, Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) Dr Myrna Asnawati Safitri, Koordinator Tenaga Ahli Sekretariat Nasional SDGs Kementerian PPN/Bappenas, Yanuar Nugroho, Peneliti IPB, Prof.Dr.Ir. Nampiah, Senior Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Syahrul Fitra dan moderator dari PWI Pusat, Christiana Chelsia.
Dalam kesempatan ini, Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam, Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) Dr Myrna Asnawati Safitri menjelaskan tentang konsep kota hutan netral karbon untuk IKN di Kalimantan Timur. "Ketika melihat IKN kita harus punya imajinasi yang sama. Indonesia akan memiliki lingkungan yang lebih baik, maka IKN akan menjadi kota hutan netral karbon,” Myrna menegaskan.
Sedangkan Koordinator Tenaga Ahli Sekretariat Nasional SDGs Kementerian PPN/Bappenas, Yanuar Nugroho menegaskan bahwa ESG adalah prinsip. "Planet kita ini menderita karena ulah kita sendiri, jadi perang dunia kedua berakhir pada tahun 45, sampai tahun 70-an, dunia ini membangun, cara kita membangun ugal-ugalan."
Senior Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Syahrul Fitra mengaku senang dengan adanya seminar ESG pada Hari Pers Nasional ini. "Masalah lingkungan menjadi masalah kita bersama, jadi bukan hanya masalah sektoral KLHK saja, bukan hanya masalah sektor di kementerian tertentu saja atau urusan aktivis tertentu saja tapi itu (ESG) menjadi concern kita semua karena yang kita bicarakan hari ini adalah tempat di mana kita hidup."
Sementara Peneliti Institut Pertanian Bogor sekaligus Tenaga Ahli pada PT Agincourt Resources (PTAR), Prof.Dr.Ir. Nampiah memaparkan hasil penelitiannya di lahan milik PT Agincourt Resources tentang proses simbiosis mutualisme bernama mikoriza yang memiliki peran sangat penting pada ekosistem yang mampu mengurangi efek pemanasan global. Mikoriza adalah proses kerjasama saling menguntungkan antara cendawan/jamur dengan akar tanaman/pohon. Dalam proses simbiosis mutualisme ini cendawan berukuran mikro ini menyerap karbon dari pohon inang dan mengangkat nutrisi dan mineral melalui tanah menggunakan jaringan berfilamen bernama miselium. Lalu, jaringan miselium akan diperluas menggunakan karbon yang mereka dapatkan. Mikoriza menjadi kunci penghubung dari sumber karbon yang tinggi di bawah tanah (below-ground) menuju rantai makanan yang terjadi di atas tanah (above-ground). Mikoriza berperan penting dalam penurunan CO2 di atmosfer melalui proses fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan inangnya.
"Mikoriza ini dapat mengurangi konsentrasi CO2 di udara." ujar Nampiah. "Kejadiannya sekitar 400 juta tahun yang lalu ketika tumbuhan atau organisme tumbuhan dari laut berpindah ke daratan dan belum mampu menyerap nutrisi dari tanah sehingga tumbuhan ini mengajak organisme cendawan dari laut ke darat dan mencerna nutrisi dari tanah untuk menjadi sumber makanan bagi tumbuhan inang cendawan. 85% tumbuhan di muka bumi membentuk mikoriza, jadi hanya 15% saja yang tidak membentuk mikoriza."
Lebih lanjut Nampiah menjelaskan salah satu peran mikoriza ini adalah mampu menghela toksin atau racun di dalam tanah yang tercemar atau mengandung logam berat. "kemudian bisa menghela toksin, misalnya lahan-lahan kan kadang ada yang memiliki toksisitas karena ada senyawa yang terbentuk, misalnya dengan Hg (merkuri), atua dengan logam-logam lain, logam berat misalnya, kemudian kadar garam terlalu tinggi, ph terlalu rendah misalnya, mikoriza ini bisa membantu tumbuhan mampu bertahan hidup." kata Nampiah.
Pada penelitian di lahan PT Agincourt Resources, Nampiah meneliti keberadaan mikoriza lokal di area sekitar tambang dan melokalisir cendawan tersebut. "Kami mengambil topsoil dan kami melakukan dulu, ada mikoriza apa saja. Kemudian kita isolasi mikoriza-nya, sehingga nanti pada saat reklamasi (dengan pohon lokal di lahan bekas tambang) kita kembalikan lagi mikoriza-nya dan menggunakan tumbuhan lokal dengan mikoriza lokal." Jelas Nampiah. Menurut data dari PT Agincourt Resources, tanaman lokal yang telah disuntikkan mikoriza di area reklamasi PTAR antara lain mahang, simarbaliding, tampu gajah, sanduduk, durian, jottik-jottik, sengon, dan waru.
Dengan menjalin kerjasama dengan PTAR, Nampiah menerima lahan yang membutuhkan reklamasi dan rehabilitasi. Manfaat mikoriza terhadap reklamasi lahan bekas tambang dapat menimbulkan keberlanjutan ekosistem hutan dengan meningkatkan kualitas pertumbuhan dan produksi tanaman, meningkatkan kelangsungan hidup dan keanekaragaman tumbuhan, meningkatkan ketahanan tanaman terhadap cekaman biotik dan abiotik. Dengan merangsang proses mikoriza pada tanaman lokal daopat mengurangi ketergantungan pada pupuk dan irigasi karena cendawan dalam proses mikoriza mampu menyimpan air dalam jaringan miselium sekaligus meningkatkan mutu komunikasi antar tumbuhan melalui jejaring akar, mencegah kerusakan dari logam berat dan polutan lainnya dan hasil akhirnya adalah kontribusi terhadap penyerapan karbon.

