Pertamina Terapkan Dual Growth Strategy untuk Dorong Ekonomi dan Dekarbonisasi Nasional
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Pertamina (Persero) berkomitmen untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus mencapai target dekarbonisasi melalui strategi pertumbuhan ganda atau Dual Growth Strategy. Pendekatan ini berfokus pada menjaga ketahanan dan ketersediaan energi nasional, sembari secara paralel membangun portofolio bisnis rendah karbon (low carbon business).
SVP Business Sustainability PT Pertamina (Persero) Wenny Ipmawan mengungkapkan, implementasi strategi ini mencakup berbagai inisiatif hijau, mulai dari biofuel, panas bumi (geothermal), listrik energi bersih, gas-to-power, waste-to-energy, pengelolaan karbon, greenhydrogen, hingga berbagai proyek rendah karbon lainnya.
"Tidak ada satu teknologi tunggal yang dapat menjawab seluruh kebutuhan dekarbonisasi. Pendekatan yang diperlukan Pertamina adalah technologymix yang disesuaikan dengan karakteristik sektor dan kebutuhan energi," ujar Wenny dalam acara Seminar Nasional Green Economy 2045 di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Baca Juga
Wenny menjelaskan, teknologi kunci yang menjadi enabler dekarbonisasi mencakup pemanfaatan energi terbarukan (geothermal dan PLTS), sistem penyimpanan energi (BESS), biofuel, green hydrogen, waste-to-energy, hingga teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCS/CCUS) serta solusi berbasis alam (nature-based solutions).
Untuk memastikan bisnis rendah karbon memiliki nilai ekonomi dan berdaya saing, Pertamina mendorong proyek-proyeknya bergerak dari tahap kesiapan teknologi menuju commercial readiness. Selain kesiapan teknis, Pertamina berfokus pada aspek keekonomian, kepastian regulasi, kesiapan infrastruktur, model bisnis, dan kepastian pasar (offtaker).
"Beberapa inisiatif dalam portofolio saat ini telah memasuki tahapan seperti finalisasi business model, penjajakan offtaker, FID/EPC, sertifikasi, dan persiapan komersialisasi," ungkap Wenny.
Wenny menegaskan, dekarbonisasi operasional menjadi fondasi jangka pendek hingga menengah untuk menurunkan intensitas emisi sekaligus meningkatkan efisiensi. Menurut Wenny, upaya dapat dilakukan melalui optimasi penggunaan energi dan fuel gas, peningkatan efisiensi peralatan, penggunaan bahan bakar yang lebih rendah karbon, serta penerapan teknologi energi bersih di berbagai operasi.
"Dengan demikian, dekarbonisasi tidak hanya berfungsi sebagai agenda lingkungan, tetapi juga dapat mendukung efisiensi dan ketahanan operasional," jelas Wenny.
Baca Juga
Pertamina Blokir 10 Ribu Barcode BBM Subsidi Bermasalah di Papua
Mendukung Green Economy 2045 dan NZE 2060
Lebih lanjut, Wenny menyebut, dalam mendukung pencapaian Green Economy 2045 dan Net Zero Emissions 206, Pertamina berperan melalui transformasi portofolio energi secara bertahap, dengan tetap menjaga ketahanan dan ketersediaan energi nasional. Kontribusinya mencakup pengurangan emisi dari operasi eksisting sekaligus pengembangan bisnis rendah karbon, sehingga transisi energi dapat berjalan sejalan dengan kebutuhan pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi Indonesia.
Di sisi lain, saat disinggung terkait faktor utama yang menentukan keberhasilan pengembangan bisnis rendah karbon Pertamina ke depan, Wenny membeberkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kesiapan teknologi, tetapi juga oleh keekonomian proyek, regulasi, kesiapan infrastruktur, kepastian pasar, dan kemampuan membangun ekosistem/kemitraan. Karena itu, pengembangan low carbon business perlu dilakukan secara terintegrasi dari tahap pengembangan teknologi dan project definition hingga commercialization, termasuk sertifikasi, pengembangan offtake, dan penyusunan model bisnis yang sesuai.
"Pertamina juga terus melakukan koordinasi dengan setiap stakeholder untuk dapat mendukung keberhasilan pengembangan bisnis rendah karbon Pertamina," tutur Wenny.
