Mangrove Pertamina Trans Jadi Rumah Baru Puluhan Satwa, Burung Paling Banyak
Poin Penting
|
BALIKPAPAN, Investortrust.id - Program Revitalisasi Mangrove atau Portal yang dijalankan PT Pertamina Trans Kontinental, penyedia layanan maritim terpadu di bawah PT Pertamina International Shipping, telah meningkatkan keanekaragaman hayati di kawasan operasional Pertamina Trans Kontinental Shorebase Tanjung Batu di Kariangau, Balikpapan Barat, Kalimantan Timur. Hasil monitoring dan evaluasi pada 2026 menunjukkan bertambahnya jenis flora dan fauna yang hidup di kawasan konservasi tersebut.
Pada kelompok fauna, tercatat 49 jenis dari 33 famili, sementara jumlah jenis tumbuhan meningkat menjadi 21 jenis dari sebelumnya 13 jenis pada 2022.
Vice President HSSE PT Pertamina Trans Kontinental Nasruli mengatakan program revitalisasi mangrove di kawasan Kariangau dijalankan untuk mempertahankan fungsi ekologis, ekonomi, dan fisik hutan bakau. Upaya tersebut diarahkan untuk menjaga kesehatan kawasan pesisir, mengurangi risiko abrasi, serta mendukung keseimbangan lingkungan di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Baca Juga
Bersama untuk Flores, Elnusa (ELSA) dan Pertamina Group Jaga Pasokan Energi
“Program Portal merupakan salah satu upaya menjaga kelestarian alam yang dikembangkan PTK sejak tahun 2022, sekaligus menjadi rumah bagi beragam flora dan fauna,” kata Nasruli dikutip Senin (24/8/2026).
Menurut dia, PTK Shorebase Tanjung Batu juga melakukan monitoring dan evaluasi kawasan mangrove sebagai bagian dari tanggung jawab sosial dan lingkungan untuk mengukur perkembangan serta dampak program yang telah berjalan.
Hasil evaluasi menunjukkan kelompok burung mencatat pertumbuhan keanekaragaman paling tinggi di antara kelompok fauna yang diamati. Jumlah jenis burung meningkat 48%, dari 25 jenis pada 2022 menjadi 37 jenis pada evaluasi 2026. Pertambahan juga terjadi pada kelompok herpetofauna, yakni kelompok satwa yang mencakup amfibi dan reptil. Jumlah jenis yang teridentifikasi meningkat dari 6 menjadi 9 jenis.
Pada kelompok mamalia, jumlah jenis yang ditemukan bertambah dari 2 menjadi 3 jenis. Data tersebut menjadi bagian dari pemantauan biodiversitas yang dilakukan di kawasan mangrove PTK Shorebase Tanjung Batu.
“Peningkatan jumlah spesies yang teridentifikasi ini menjadi bukti nyata pentingnya kawasan mangrove PTK Shorebase Tanjung Batu sebagai benteng perlindungan biodiversitas Indonesia,” ujar Nasruli.
Flora Mangrove Naik 61%
Peningkatan keanekaragaman juga tercatat pada kelompok flora. Jumlah jenis tumbuhan naik 61%, dari 13 jenis pada 2022 menjadi 21 jenis pada 2026. Vegetasi dengan habitus pohon mendominasi kelompok flora tersebut dengan proporsi 57%. Bakau minyak atau rhizophora apiculata dan api-api hitam atau avicennia alba menjadi jenis mangrove dominan yang berperan dalam menstabilkan substrat serta menyerap karbon.
Keberadaan kedua jenis tersebut juga berkaitan dengan fungsi ekologis kawasan mangrove sebagai pelindung wilayah pesisir. Sistem perakaran mangrove membantu menahan sedimen, sementara vegetasi di atasnya menyediakan ruang hidup bagi berbagai organisme.
PTK menempatkan pemantauan biodiversitas sebagai bagian dari pengelolaan kawasan konservasi di sekitar Shorebase Tanjung Batu. Hasil evaluasi digunakan untuk melihat perkembangan ekosistem setelah program revitalisasi berjalan sejak 2022.
Evaluasi biodiversitas dilakukan menggunakan pendekatan ilmiah terpadu untuk memperoleh data mengenai kondisi flora dan fauna di kawasan mangrove.
Baca Juga
Pertamina Salurkan 9.600 Paket Sembako untuk Warga Terdampak Gempa Flores
Pemantauan menggunakan metode jalur berpetak atau line transect, yakni pengamatan berdasarkan jalur tertentu untuk mencatat vegetasi yang ditemukan. Tim juga menggunakan metode point count atau indices point of abundance untuk mengamati keberadaan burung dari titik pengamatan.
Untuk kelompok satwa lainnya, evaluasi menggunakan visual encounter survey (VES), yaitu metode pencatatan satwa berdasarkan hasil perjumpaan visual. PTK juga memasang kamera jebak atau camera trap untuk merekam aktivitas satwa yang berada di kawasan tersebut.
Pengamatan dilakukan pada empat formasi kluster alami mangrove, yakni Kluster Sonneratia, Kluster Sonneratia–Avicennia, Kluster Avicennia–Rhizophora, serta Kluster Rhizophora. Keempat kluster tersebut menjadi area pemantauan untuk melihat kondisi vegetasi sekaligus keberadaan satwa yang memanfaatkan ekosistem mangrove sebagai habitat.

