Pakar Universitas Kyoto Beberkan Dinamika ESG dan Tantangan Pembiayaan Keberlanjutan Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Konsep Environmental, Social, and Governance (ESG) dan tata kelola manajemen perusahaan kini berada di bawah sorotan tajam global. Berbicara dalam acara Parallel Discussion & Paper Presentation Management & Environmental, Social, and Governance (ESG) yang digelar Universitas Paramadina, Associate Professor dari Global Environmental Economics Kyoto University Akihisa Mori membeberkan dinamika terkini mengenai integrasi ESG dalam sektor keuangan, investasi, hingga dampaknya terhadap perubahan transformatif di tingkat korporasi.
Mori menjelaskan bahwa ESG memiliki spektrum yang sangat luas dan tidak terbatas pada isu iklim belakangan ini. Dimensi lingkungan (Environmental) kini turut mencakup isu keanekaragaman hayati dan ekonomi sirkular. Sektor sosial (Social) melingkupi tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), resolusi konflik, hingga penerimaan sosial masyarakat. Sementara dari sisi tata kelola (Governance), fokus utamanya tertuju pada efektivitas tata kelola perusahaan (corporate governance).
"Dan tata kelola, tidak terbatas pada pemerintah saja, tetapi juga tata kelola perusahaan (corporate governance). Jadi, ESG memiliki cakupan wilayah yang sangat luas," ujar Mori, Selasa (18/8/2026).
Dalam paparan mengenai latar belakang dan kondisi saat ini, Mori menggarisbawahi besarnya tekanan internasional, khususnya dari Eropa terhadap penerapan keuangan berkelanjutan. Kerangka regulasi Uni Eropa seperti Taksonomi UE, Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM), hingga Corporate Sustainability Reporting Directive (CSRD) menjadi pendorong utama instrumen pelaporan (disclosure) sebagai alat tata kelola ESG yang paling berpengaruh saat ini.
"Saya rasa hampir Anda semua, khususnya para mahasiswa S3, sudah mengetahui tentang latar belakang tekanan terhadap keuangan berkelanjutan dan ESG. Dan salah satu tekanan tersebut datang dari luar Indonesia, khususnya dari Eropa, atau dari negosiasi iklim dan lingkungan global/internasional," ungkap Mori.
Lebih lanjut, Mori menyebut, rekomendasi dari lembaga internasional seperti Task Force on Climate-related Financial Disclosures (TCFD) dan Task Force on Nature-related Financial Disclosures (TNFD) kini telah diadopsi ke dalam standar akuntansi global melalui International Sustainability Standards Board (ISSB).
Baca Juga
Bos JETP Indonesia Sebut Pembiayaan US$ 20 Miliar Tak Cukup untuk Capai Nol Emisi 2030
"Inti dari keterbukaan informasi ini bukan sekadar mengungkapkan data lingkungan, melainkan untuk meyakinkan investor dan lembaga keuangan agar terus mempertahankan serta meningkatkan investasi pada perusahaan tersebut," tegas Mori.
Ia menambahkan bahwa perusahaan, terutama perusahaan terbuka atau yang bertransaksi dengan pasar Eropa dan Jepang diwajibkan menunjukkan tata kelola yang kuat, strategi emisi net-nol (net-zero), perlindungan keanekaragaman hayati, serta pengelolaan risiko fisik dan transisi berbasis target ilmiah.
Meski keterbukaan informasi makin meluas, tantangan besar justru membayangi dari sisi pembiayaan aktual. Mori menyoroti komitmen keuangan internasional seperti Glasgow Financial Alliance for Net Zero (GFANZ) dan Just Energy Transition Partnership (JETP) yang sebelumnya disambut antusias oleh negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Namun, ia mengungkapkan bahwa perkembangan terkini menunjukkan penyusutan dan penghentian sementara pada berbagai dukungan pembiayaan tersebut. Aktivitas JETP, khususnya di wilayah Asia, hampir terhenti akibat dinamika politik global dan perubahan peta kebijakan eksternal.
"Jadi, dalam kuliah umum ini, saya ingin menunjukkan bagaimana tekanan global ini mendorong perubahan transformatif pada investor dan lembaga keuangan, lalu bagaimana para investor dan lembaga keuangan ini mendorong perubahan transformatif di dalam perusahaan-perusahaan," tutur Mori.

