Kolaborasi Ekonomi Sirkular Tekstil Didorong, Daur Ulang Baru 12%
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Indonesia Business Council for Sustainable Development atau IBCSD bersama Rantai Tekstil Lestari (RTL) mendorong kolaborasi lintas pelaku industri untuk mempercepat penerapan ekonomi sirkular di sektor tekstil dan produk tekstil (TPT).
Dorongan tersebut mengemuka dalam Roundtable Discussion bertajuk “Mewujudkan Aksi Kolaborasi Ekonomi Sirkular dalam Rantai Nilai TPT” yang digelar sebagai bagian dari rangkaian menuju Indonesia Sustainability 360 Forum 2026, Selasa (18/8/2026).
Forum tersebut mempertemukan pelaku dari berbagai bagian rantai nilai tekstil, mulai manufaktur, merek, pengumpul, pendaur ulang, penyedia solusi, lembaga riset, asosiasi industri hingga pemerintah. Para peserta membahas tantangan, peluang, serta langkah kolaboratif yang dapat diterapkan untuk memperkuat ekonomi sirkular dari hulu hingga hilir.
Sektor TPT menjadi salah satu sektor prioritas dalam Rencana Aksi Nasional Ekonomi Sirkular Indonesia 2025–2045. Sektor tersebut berkontribusi 1,3% terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2023. Namun, penerapan ekonomi sirkular di sektor tekstil masih menghadapi sejumlah kendala. Tingkat daur ulang limbah tekstil berdasarkan baseline 2023 baru mencapai 12%, sementara pemanfaatan kembali material dan penerapan prinsip sirkular di sepanjang rantai nilai belum optimal.
Baca Juga
Kemenperin Pastikan Pasokan Bahan Baku Tekstil Aman Pasca-ledakan di PT MCCI
Tantangan lainnya mencakup koordinasi antarpelaku industri, kesiapan teknologi, serta ketersediaan infrastruktur daur ulang. Penguatan kebijakan juga dinilai diperlukan agar penerapan ekonomi sirkular dapat berjalan lebih operasional di tingkat industri.
Direktur Eksekutif IBCSD Indah Budiani mengatakan penerapan ekonomi sirkular membutuhkan pendekatan menyeluruh karena setiap pelaku dalam rantai nilai memiliki peran yang saling terhubung.
“Ini bukan lagi hanya membicarakan permasalahan ekonomi sirkular di sektor tekstil, tetapi bagaimana kolaborasi harus terjadi, siapa yang perlu terlibat, dan intervensi apa yang dapat mulai dikerjakan bersama. Kami ingin mendorong agar diskusi ini menghasilkan business-actionable solutions dan peluang pilot project yang benar-benar dapat dijalankan,” ujar Indah dalam keterangannya, Selasa (18/8/2026).
Menurut dia, forum tersebut diarahkan tidak hanya untuk mengidentifikasi persoalan, tetapi juga menemukan solusi yang dapat diterapkan pelaku usaha. Pendekatan tersebut diharapkan membuka peluang proyek percontohan yang dapat menguji penerapan ekonomi sirkular secara langsung di sektor tekstil.
Dari sisi rantai nilai industri, Chairman of the Executive Board Rantai Tekstil Lestari Basrie Kamba mengatakan ekosistem ekonomi sirkular perlu menghubungkan berbagai pelaku dengan kebutuhan implementasi di lapangan. “Kolaborasi tidak boleh berhenti pada forum atau diskusi, tetapi perlu diterjemahkan menjadi aksi nyata,” kata Basrie.
Basrie mengatakan penguatan ekosistem membutuhkan peningkatan kapasitas pengolahan, edukasi, akses terhadap informasi dan teknologi. Peluang pemanfaatan kembali material serta daur ulang textile-to-textile juga perlu diperluas. “Yang tidak kalah penting adalah memperkuat koordinasi antar-pemangku kepentingan agar ekosistem ekonomi sirkular dapat berkembang dan berkelanjutan,” sebutnya.
Peran Pemerintah dan Industri
Kolaborasi lintas pelaku juga perlu berjalan beriringan dengan kebijakan serta langkah implementasi di tingkat industri. Pemerintah, asosiasi, dan pelaku usaha dinilai memiliki peran masing-masing dalam menerjemahkan rencana ekonomi sirkular menjadi praktik di lapangan.
Ketua Tim Kerja Koordinasi Standardisasi, Implementasi Industri 4.0, Industri Hijau, dan Industri Halal Direktorat Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian Diana Muji Hartati mengatakan rencana aksi ekonomi sirkular tidak dapat berjalan otomatis tanpa penerapan konkret.
Baca Juga
Kemenperin Pastikan Pasokan Bahan Baku Tekstil Aman Pasca-ledakan di PT MCCI
“Berbagai inisiatif yang dikembangkan perlu diarahkan untuk mendorong efisiensi penggunaan sumber daya, pemanfaatan kembali material, serta memperkuat implementasi ekonomi sirkular di sektor industri,” ujar Diana.
Dalam diskusi tersebut, peserta turut membahas pengalaman penerapan ekonomi sirkular dari masing-masing bagian rantai nilai. Pembahasan mencakup hambatan utama, peluang pasar, bentuk intervensi yang dibutuhkan, kebutuhan kolaborasi, serta potensi penciptaan lapangan kerja hijau atau green jobs dan keterampilan hijau atau green skills.

