Ilmuwan Jerman Minta Indonesia Hati-Hati soal Sawit
JAKARTA, investortrust.id – Ilmuwan asal Jerman yang juga Rektor The Technical University of Munich (TUM), Prof Volker Sieber meminta pemerintah dan pengusaha sawit Indonesia berhati-hati merespons isu sawit yang dalam beberapa dekade terakhir menjadi pilar perekonomian naskonal.
Menurut Prof Volker Sieber, kelapa sawit memiliki peran yang sangat strategis dalam mengurangi angka kemiskinan dan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, pengelolaan industri sawit harus tetap mengedepankan kaidah-kaidah keberlanjutan atau pelestarian lingkungan.
“Pendapat saya tentang sawit sama seperti tentang semua produk berbasis biologi. Anda harus berhati-hati agar tidak menghancurkan terlalu banyak keanekaragaman hayati saat memproduksinya,” kata Prof Sieber pada sesi tanya jawab kuliah umum Bioeconomy with TUM: Pioneering Sustainable Solutions for a Changing World di The Habibie-Ainun Library di Jakarta, Senin (09/10/2023).
Baca Juga
Profesor Ini Bilang Indonesia Sedang Mengembangkan Bahan Bakar Khusus, Apa Itu?
Acara yang digelar The Habibie Center bersama TUM Campus Straubing itu juga menghadirkan Ketua Dewan Pengawas Habibie Center Ilham Akbar Habibie, Ketua Institut Demokrasi, Sains, Teknologi dan Inovasi (IDSTI) The Habibie Center yang juga Profesior Riset di Badan Tiset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Eniya Listiani Dewi, Managing Director TUM Asia Markus Watcher, Duta Besar Jerman untuk Indonesia dan Timor Leste Ina Lepel, serta peneliti Habibie Center Herawati.
Prof Volker Sieber menjawab pertanyaan Direktur Kebijakan Lingkungan, Maritim, Sumber Daya Alam, dan Nuklir BRIN, Muhammad Abdul Kholiq tentang kontroversi tuduhan Uni Eropa (UE) bahwa perekebunan sawit di Indonesia tidak ramah lingkungan sehingga UE membatasi komoditas tersebut.
Baca Juga
Ilham Habibie: Keberlanjutan Adalah Kunci Mewujudkan Indonesia Maju 2045
Pemanfaatan Limbah Sawit
Prof Volker Sieber juga menyoroti kemungkinan penggunaan bahan sisa atau limbah dan teknologi bahan bakar nabati (biofuel) untuk mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan minyak kelapa sawit.
“Tentu minyak kelapa sawit adalah bahan baku yang sangat baik, sangat mudah diproses. Tetapi di sisi lain minyak sawit harus dihasilkan secara berkelanjutan dan tidak menghancurkan hutan alam,” ujar Sieber.
Yang harus dilakukan pemerintah dan pengusaha sawit Indonesia, kata Prof Sieber, adalah menemukan keseimbangan yang tepat agar produksi minyak sawit nasional, dari menamam, mengolah, sampai memasarkannya, tidak melanggar prinsip-prinsip keberlanjutan.
Baca Juga
Lawan UE soal Sawit, RI Perlu Gandeng AS, China, dan Timur Tengah
Sieber menganjurkan agar para pengusaha dan petani sawit tidak membakar lahan saat mereka membuka atau meremajakan Kembali (replanting) kebun sawit. Limbah sawit juga dapat diolah kembali menjadi berbagai produk, termasuk biofuel, sehingga menghasilkan nilai ekonomi tinggi dan tidak merusak lingkungan.
“Dan (mungkin) tidak langsung membakar lahan untuk replanting, tetapi lebih banyak menggunakan bahan sisa. Dengan begitu, akan lebih banyak bahan sisa yang terpakai untuk untuk menghasilkan biofuels,” papar dia. (CR-3)
