Harga Emas Turun Tipis, Pasar Tunggu Arah Konflik AS-Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas melemah pada perdagangan Senin (6/4/2026) seiring investor menunggu kepastian perkembangan konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran menjelang tenggat pembukaan kembali Selat Hormuz, kondisi yang berpotensi memengaruhi inflasi global dan arah kebijakan suku bunga.
Pergerakan harga ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Iran menyatakan berupaya mengakhiri konflik secara permanen dengan Amerika Serikat dan Israel. Namun, negara tersebut menolak tekanan untuk segera membuka kembali Selat Hormuz meski gencatan senjata sementara tengah berlangsung.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini Turun, Dolar AS dan The Fed Jadi Pemicu
Harga emas turun 0,4% menjadi US$ 4.654,99 per ons pada pukul 13.31 waktu New York. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS justru ditutup naik tipis 0,1% ke level US$ 4.684,70.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengancam akan meningkatkan serangan terhadap Teheran jika tidak tercapai kesepakatan hingga Selasa (7/4/2026). Pernyataan ini memperkuat ketidakpastian pasar yang selama beberapa pekan terakhir dipicu oleh konflik di kawasan Timur Tengah.
Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, mengatakan fokus investor saat ini tidak hanya pada konflik, tetapi juga pada arah suku bunga. “Fokus kemungkinan akan tetap pada perang dan suku bunga. Jika konflik berlarut-larut, harga minyak akan terus naik di tengah kondisi pasokan yang semakin ketat, yang menambah tekanan inflasi,” ujar dilansir Reuters.
Ia menambahkan, kenaikan harga energi dapat mempersempit ruang gerak bank sentral, khususnya bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed), dalam melonggarkan kebijakan moneter. Kondisi tersebut bahkan berpotensi memicu kembali wacana kenaikan suku bunga.
“Hal itu membuat bank sentral memiliki ruang gerak yang lebih terbatas untuk melonggarkan kebijakan dan bahkan dapat menghidupkan kembali diskusi tentang kenaikan suku bunga jika harga energi naik lebih lanjut, yang berdampak negatif bagi emas,” kata Melek.
Kenaikan harga minyak yang terjadi sejak awal konflik turut menjadi faktor penekan bagi emas. Dalam perdagangan Senin, harga minyak bergerak fluktuatif tetapi tetap menunjukkan tren kenaikan dibandingkan sebelum konflik dimulai.
Baca Juga
Pengamat Timur Tengah: Iran Berikan Perlawanan yang Memadai, Trump Putus Asa dan Cemas
Secara fundamental, emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan inflasi. Namun, karena tidak memberikan imbal hasil bunga, daya tarik emas biasanya melemah ketika suku bunga berada di level tinggi.
Pelaku pasar juga mencermati sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat yang akan dirilis dalam pekan ini. Notulen rapat kebijakan Federal Reserve (The Fed) bulan Maret dijadwalkan keluar pada Rabu (9/4/2026), diikuti data Pengeluaran Konsumsi Pribadi atau Personal Consumption Expenditures pada Kamis (9/4/2026), serta Indeks Harga Konsumen pada Jumat (10/4/2026).
Bank sentral Amerika Serikat sebelumnya mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan lalu. Berdasarkan alat FedWatch dari CME Group, mayoritas pelaku pasar kini memperkirakan tidak ada peluang pemangkasan suku bunga sepanjang tahun ini.

