Harga Minyak Turun Seusai AS Beri Sinyal Longgarkan Sanksi Iran
Poin Penting
|
NEW YORK, Investortrust.id - Harga minyak dunia turun pada Kamis (19/3/2026) setelah Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengisyaratkan kemungkinan mencabut sanksi terhadap minyak mentah Iran, langkah yang berpotensi menambah pasokan global di tengah ketegangan geopolitik.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan rencana tersebut sebagai bagian dari upaya meredakan tekanan harga energi setelah gangguan distribusi akibat penutupan Selat Hormuz.
Harga minyak mentah Brent, acuan global, turun sekitar 2% menjadi US$ 106 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), patokan Amerika Serikat, melemah 1,56% ke level US$ 94,64 per barel.
Baca Juga
Sekutu AS Enggan Kawal Tanker di Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Tembus US$ 103
Bessent mengatakan Pemerintah AS mempertimbangkan pelepasan minyak Iran yang selama ini tertahan di kapal tanker. “Dalam beberapa hari mendatang, kami mungkin akan mencabut sanksi terhadap minyak Iran yang berada di perairan, sekitar 140 juta barel,” ujarnya kepada Fox Business Network.
Ia menambahkan langkah tersebut diperkirakan dapat menahan kenaikan harga dalam jangka pendek, khususnya dalam 10 hingga 14 hari ke depan.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan negaranya turut mendukung upaya membuka kembali Selat Hormuz. Ia juga menyebut konflik berpotensi berakhir lebih cepat dari perkiraan, meskipun ketegangan masih berlangsung.
Proyeksi harga minyak tetap menunjukkan ketidakpastian. Bank investasi Citigroup menaikkan perkiraan harga jangka pendek, dengan Brent dan WTI berpotensi mencapai US$ 120 per barel dalam satu hingga tiga bulan. Dalam skenario yang lebih optimistis, harga bahkan bisa menyentuh US$ 150 per barel jika gangguan pasokan meningkat.
Baca Juga
Harga Minyak Turun, Trump Tekan Sekutu Lindungi Kapal Tanker di Selat Hormuz
Namun, dalam skenario dasar, Citi memperkirakan ketegangan akan mereda dalam empat hingga enam minggu, yang dapat mendorong harga Brent kembali ke kisaran US$ 70 hingga US$ 80 per barel pada akhir tahun.
Di tengah kondisi tersebut, selisih harga antara Brent dan WTI juga melebar, mencerminkan tingginya biaya pengiriman serta kuatnya permintaan dari kawasan Pantai Teluk AS terhadap pasokan minyak domestik.
Pergerakan harga minyak ke depan diperkirakan tetap fluktuatif, dipengaruhi perkembangan konflik geopolitik dan kebijakan pasokan energi global.

