Mengenang dan Menghargai Entrepreneur Bambang Hartono
Oleh Didik J. Rachbini
Ekonom
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Beberapa bulan sebelum M. Bambang Hartono wafat, Universitas Paramadina mengundang Victor Hartono untuk memberikan kuliah umum. Sebagai pemimpin Grup Djarum sekaligus pewaris takhta bisnis Bambang dan Budi Hartono, Victor membagikan narasi luar biasa mengenai perjalanan panjang grup bisnis yang telah berdiri sejak 1927 tersebut.
Pengalaman pelaku bisnis sekaliber Victor sangat krusial bagi generasi muda untuk memahami kompleksitas dunia usaha, terutama mengenai proses suksesi dalam bisnis keluarga.
Sejarah Grup Djarum yang membentang hampir satu abad telah melahirkan konglomerasi besar yang menyerap ratusan ribu tenaga kerja.
Secara langsung, grup ini mempekerjakan sekitar 100 ribu hingga 120 ribu orang, dengan rincian 25-30 ribu karyawan di Bank BCA, 70 ribu di industri rokok, serta 10 ribu lainnya tersebar di sektor elektronik, jasa, dan e-commerce.
Secara tidak langsung, ekosistem ini menghidupi jutaan orang, mulai dari petani tembakau dan cengkih di rantai pasok hingga jaringan ritel dan pedagang kecil di seluruh Indonesia.
Sebagai generasi kesembilan keluarga besar Hartono, Victor menjelaskan bahwa keberhasilan saat ini adalah buah dari belasan kali jatuh bangun. Dimulai dari sang kakek, Oei Wie Gwan, yang merintis pabrik mercon merek "Cap Leo" yang kerap bangkrut akibat kecelakaan ledakan, perampokan, hingga larangan produksi saat pendudukan Jepang tahun 1942.
Setelahnya, bisnis keluarga beralih ke perdagangan minyak kacang, yang akhirnya juga tumbang akibat efisiensi pasar kelapa sawit yang berkembang pesat.
Menurut Victor, tantangan terbesar tidak hanya datang dari faktor eksternal seperti dinamika politik dan pasar, tetapi juga dari internal keluarga.
Baca Juga
Michael Bambang Hartono Meninggal Dunia, Ini Perjalanan Hidup Sang Pemilik Djarum
Hambatan kritis terhadap bisnis acap kali datang dari dalam keluarga. Beragam perselisihan mulai dari masalah arus kas, kepemimpinan, hingga pembagian dividen yang tidak adil bisa menjadi bom waktu yang menggoyahkan bisnis.
Untuk mengatasi hal tersebut, Grup Djarum menerapkan sistem unik semacam "Dewan Syuro" dalam struktur kepemimpinannya.
Aturan mainnya sangat ketat dan objektif: Bambang Hartono tidak diperbolehkan mengajukan anaknya sendiri sebagai pemimpin, begitu pula dengan Budi Hartono.
Anggota dewan lainlah yang harus mengajukan calon berdasarkan kompetensi, bukan semata garis keturunan. Strategi ini memastikan bahwa pemimpin yang terpilih adalah pelaku bisnis sejati yang mampu membaca zaman.
Meskipun sosok Bambang Hartono kini telah tiada, regenerasi yang solid telah dipersiapkan.
Bagi Victor, kunci sukses bisnis lintas generasi bukan terletak pada pewarisan nama besar, melainkan pada kemampuan organisasi untuk terus berinovasi dan menjaga kekompakan internal melalui keterbukaan dan pembagian peran yang adil.

