Indonesia Bakal Impor Minyak dari Rusia? ESDM Bilang Begini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah belum memiliki rencana khusus untuk mengimpor minyak mentah (crude) dari Rusia meski wacana diversifikasi sumber energi terus menjadi perhatian di tengah dinamika pasar energi global.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan bahwa keputusan terkait impor minyak pada dasarnya merupakan keputusan bisnis yang berada di tangan badan usaha, khususnya PT Pertamina (Persero) sebagai perusahaan energi nasional.
Baca Juga
Program B50 Dikebut, GAPKI Pastikan Pasokan Minyak Goreng Tetap Aman
Menurut dia, perusahaan akan mempertimbangkan berbagai faktor, seperti kebutuhan pasokan dan peluang yang muncul di pasar internasional.
“Itu kan keputusan bisnis itu nanti sama Pertamina. Jadi mana yang lebih membutuhkan sepanjang ada relaksasi ya tentu kita akan memanfaatkan itu prosesnya,” kata Yuliot saat ditemui di Sekretariat Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Dia menjelaskan, pemerintah pada prinsipnya membuka ruang bagi badan usaha untuk mencari sumber pasokan energi yang paling kompetitif dan efisien, selama tetap sesuai dengan regulasi yang berlaku.
Kendati demikian, hingga saat ini pemerintah belum melakukan kajian khusus terkait rencana impor minyak dari Rusia. “Kalau dari pemerintah sendiri, belum ada kajiannya,” tegas Yuliot.
Wacana impor minyak dari Rusia sempat mencuat di tengah perubahan dinamika pasar energi global, terutama dengan meningkatkan ketegangan di Timur Tengah dan ditutupnya Selat Hormuz.
Baca Juga
Sebelum ini, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, salah satu langkah strategis yang dilakukan pemerintah untuk menjaga ketahanan energi nasional adalah dengan mengalihkan sebagian impor crude dari Timur Tengah ke Amerika Serikat. Saat ini impor crude Indonesia dari Timur Tengah berada di angka 20-25%.
“Skenarionya adalah sekarang ini untuk crude yang kita ambil dari Middle East, sebagian kita alihkan untuk ambil di Amerika. Supaya apa? Ada kepastian ketersediaan crude kita,” jelas Bahlil.

