Mahendra Siregar: Tiga Prasyarat agar Perang Iran vs AS dan Israel Berakhir
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel kemungkinan belum akan berakhir dalam waktu dekat. Ada tiga prasyarat berat yang dinilai sangat sulit dipenuhi Washington dan Tel Aviv sebelum Teheran bersedia melakukan gencatan senjata dan kembali ke meja perundingan.
Ketiga prasyarat tersebut adalah, pertama, penghentian seluruh serangan militer terhadap Iran disertai jaminan bahwa tidak akan ada lagi serangan dari Amerika Serikat maupun Israel di masa depan. Kedua, penutupan dan pembongkaran seluruh aset militer AS di negara-negara sekitar Iran yang berpotensi digunakan untuk menyerang wilayah Iran. Ketiga, kompensasi atas seluruh kerusakan yang terjadi di Iran selama perang berlangsung.
“Nampaknya posisi Iran untuk mau ceasefire dan bersedia kembali ke meja perundingan adalah tiga prasyarat berat ini,” kata Mahendra Siregar kepada Investortrust.id melalui pesan WhatsApp, Jumat (13/3/2026).
Baca Juga
Iran Blokade Hormuz, Pipa Minyak Teluk Ini Jadi ‘Katup Darurat’ Pasar Energi Global
Menurut Mahendra, ketiga syarat tersebut hampir mustahil diterima oleh Amerika Serikat, apalagi oleh Israel. Dengan demikian, kemungkinan konflik dapat dihentikan dalam waktu dekat sangat kecil.
“Artinya, serangan ke Iran oleh AS dan Israel, serangan Iran ke negara-negara GCC dan sekitarnya, serta penutupan Selat Hormuz akan terus terjadi selama tiga hal tadi belum dipenuhi,” ujar Mahendra.
Dampak langsung dari konflik tersebut sudah terasa di pasar energi global. Pada perdagangan terbaru, harga minyak Brent kembali melampaui US$100 per barel, melonjak hampir 10% dalam waktu singkat. Lonjakan harga dipicu kekhawatiran pasar terhadap perang berkepanjangan yang dapat mengganggu pasokan minyak global, terutama karena Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Upaya negara-negara maju yang tergabung dalam International Energy Agency (IEA) untuk meredam gejolak harga melalui pelepasan 400 juta barel cadangan minyak strategis dinilai belum mampu menahan kenaikan harga.
Baca Juga
Perang Iran Diprediksi Panjang, Prasasti Dorong Pemerintah Perlu Efisiensi Fiskal
Mahendra menjelaskan, setidaknya ada dua alasan mengapa kebijakan tersebut tidak memberikan dampak signifikan terhadap harga minyak global.
Pertama, dalam situasi ketidakpastian geopolitik seperti saat ini, harga minyak lebih banyak ditentukan oleh ekspektasi pasar di kontrak berjangka (futures), bukan semata oleh pasokan fisik di pasar spot.
Kedua, meskipun jumlah cadangan yang dilepas terdengar besar, tambahan pasokan yang efektif ke pasar global hanya sekitar 2 juta barel per hari, jauh lebih kecil dibandingkan kebutuhan konsumsi minyak dunia yang mencapai sekitar 100 juta barel per hari.
Di sisi lain, lonjakan harga energi berpotensi menimbulkan tekanan baru bagi perekonomian Amerika Serikat. Mahendra memperkirakan inflasi di AS dapat meningkat setidaknya 0,5% di atas proyeksi saat ini akibat kenaikan harga minyak dan gangguan pasokan berbagai komoditas penting dari kawasan Teluk, termasuk aluminium dan pupuk.
Baca Juga
Selain itu, terganggunya jalur logistik global melalui Selat Hormuz dan Laut Merah juga dapat memperparah tekanan terhadap rantai pasok dunia.
Kondisi tersebut akan menjadi tekanan politik serius bagi Presiden Donald Trump, terutama menjelang pemilu sela (mid-term election) di Amerika Serikat.
Jika konflik berkepanjangan membuat bank sentral AS, Federal Reserve, menunda penurunan suku bunga acuan (Fed Funds Rate), maka ekonomi AS berisiko menghadapi kombinasi inflasi tinggi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Mahendra menilai, jika perang berlangsung lebih dari tiga bulan, skenario yang paling dikhawatirkan adalah munculnya stagflasi—yakni kondisi inflasi tinggi yang terjadi bersamaan dengan stagnasi ekonomi.
Baca Juga
Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Iran, AS dan Israel Kirim Peringatan
Bagi Trump, risiko stagflasi dapat menjadi ancaman serius terhadap kredibilitas politiknya, terutama di kalangan pendukung gerakan America First atau MAGA yang selama ini mendorong kebijakan isolasionisme AS dan menolak keterlibatan militer Amerika dalam konflik global.
Kelompok ini, termasuk sebagian basis politik Wakil Presiden JD Vance, secara konsisten menolak peran AS sebagai “polisi dunia”.
Karena itu, menurut Mahendra, pemerintahan Trump kemungkinan akan berupaya keras mencegah perlambatan ekonomi atau bahkan resesi, meskipun harus menanggung risiko inflasi yang lebih tinggi.
Baca Juga
Redam Krisis Energi Akibat Perang Iran, AS Lepas 172 Juta Barel Minyak dari Cadangan Strategis
Salah satu langkah yang mungkin ditempuh adalah menambah pasokan minyak dari sumber lain, termasuk Venezuela, Rusia, serta produksi minyak serpih (shale oil) dari wilayah Permian Basin di Texas.
“Dalam situasi ini, Trump kemungkinan akan menjadi sangat kritis terhadap kebijakan The Fed yang lebih menekankan pengendalian inflasi dibandingkan risiko resesi,” ujar Mahendra.
Dengan dinamika geopolitik dan tekanan ekonomi yang saling terkait tersebut, konflik Iran melawan AS dan Israel kini tidak hanya menjadi krisis keamanan kawasan, tetapi juga berpotensi menjadi faktor penentu arah ekonomi global dalam beberapa bulan ke depan.

