Saat Perang Memanas Harga Emas Justru Melemah, Mengapa?
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia melemah lebih 1% pada Senin (9/3/2026) karena penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga di tengah eskalasi konflik Timur Tengah yang memicu kekhawatiran inflasi global.
Pelemahan terjadi saat investor mencermati risiko inflasi yang dipicu lonjakan harga energi sekaligus menimbang potensi kebijakan moneter yang lebih ketat dari bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).
Harga emas spot turun 1,5% menjadi US$ 5.091,62 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman April ditutup melemah 1,1% ke level US$ 5.103,70 per ons.
Baca Juga
Investor Berburu 'Safe Haven' karena Konflik Timur Tengah, Harga Emas Naik 1,6%
Analis senior Kitco Metals Jim Wyckoff mengatakan tekanan pada emas datang dari kekhawatiran inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga yang dipicu ketidakpastian perang di Timur Tengah. Namun, konflik yang berlarut-larut juga berpotensi menjaga permintaan terhadap aset safe haven atau aset lindung nilai.
Menurut Wyckoff, kondisi tersebut membuat penurunan emas berpotensi terbatas. “Ketidakpastian perang meningkatkan kekhawatiran inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga, tetapi konflik yang berkepanjangan juga akan menjaga permintaan aset aman dan memberikan batas bawah bagi harga emas,” kata Jim Wyckoff dikutip CNBC.
Emas secara tradisional dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Namun, ketika suku bunga naik, daya tarik logam mulia ini cenderung menurun karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.
Penguatan dolar Amerika Serikat turut menekan harga emas. Mata uang tersebut menguat seiring melonjaknya harga minyak yang mendekati US$ 120 per barel, memicu kekhawatiran investor terhadap dampak konflik Timur Tengah terhadap pasokan energi global.
Lonjakan harga energi membuat investor meningkatkan kepemilikan kas dolar AS. Kondisi ini menjadikan emas yang diperdagangkan dalam dolar lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga permintaannya melemah.
Ketegangan geopolitik juga meningkat setelah militer Israel melaporkan serangan terhadap target di Iran tengah dan serangan ke ibu kota Lebanon, Beirut.
Konflik tersebut turut memicu kekhawatiran terhadap gangguan jalur energi global, terutama Selat Hormuz. Jalur laut strategis ini dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia serta pengiriman gas alam cair yang diangkut melalui laut di dekat wilayah Iran. Gangguan di jalur tersebut berpotensi menekan pasokan energi global dan memperburuk tekanan inflasi internasional.
Pasar Menunggu Data Inflasi AS
Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat dalam beberapa hari ke depan. Indeks harga konsumen Amerika Serikat untuk Februari dijadwalkan dirilis pada Rabu (11/3/2026).
Sementara itu, indikator inflasi pilihan Federal Reserve atau bank sentral Amerika Serikat, yakni indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE), akan diumumkan pada Jumat (13/3/2026).
Wyckoff mengatakan data inflasi yang tinggi dapat mempersulit langkah Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan moneternya. “Jika kita mendapatkan angka inflasi yang tinggi minggu ini, maka itu benar-benar akan menempatkan Federal Reserve dalam dilema. Hal itu dapat menyebabkan penurunan lebih lanjut pada harga emas,” ujarnya.
Baca Juga
Setahun 'Bullion Bank', Emas Kelolaan BSI (BRIS) Tembus 22,5 Ton
Federal Reserve dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan moneter berikutnya pada 17-18 Maret 2026. Pasar secara luas memperkirakan bank sentral tersebut akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini.
Di pasar logam mulia lainnya, pergerakan harga cenderung bervariasi. Harga perak spot turun tipis 0,2% menjadi US$ 84,18 per ons. Sementara itu, platinum naik 1,1% menjadi US$ 2.158,02 per ons dan paladium menguat 2,4% ke level US$ 1.663,79 per ons.

