ASEAN Jadi Magnet Investasi EBT, Ini Strategi Pertamina NRE
Poin Penting
|
Poin Penting
|
MAKATI, Investortrust.id - PT Pertamina New & Renewable Energy (NRE), subholding energi baru terbarukan dari PT Pertamina (Persero), memperkuat komitmennya mendorong investasi energi bersih dan kolaborasi regional ASEAN saat tampil dalam ASEAN Editors and Economic Opinion Leaders Forum 2026 di Makati, Filipina, Senin (24/2/2026).
Kehadiran perusahaan menegaskan posisi Indonesia dalam peta investasi transisi energi kawasan yang dinilai kian strategis di tengah kebutuhan pendanaan jangka panjang dan harmonisasi regulasi lintas negara.
Forum yang diselenggarakan ASEAN Committee on Business and Investment Promotion bersama Departemen Perindustrian dan Perdagangan Filipina itu turut dihadiri Presiden Filipina Ferdinand R. Marcos Jr. dan Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn, serta para pemimpin korporasi dan investor global.
Baca Juga
Perluas Produksi SAF ke Dumai dan Balongan, Kilang Pertamina Raih Sertifikasi Internasional
CEO PT Pertamina New & Renewable Energy John Anis mengatakan sektor energi baru terbarukan (EBT) sangat bergantung pada stabilitas politik dan kepastian regulasi dalam menentukan keputusan investasi.
“Investasi energi bersih bersifat jangka panjang, dengan kebutuhan belanja modal besar dan periode pengembalian yang panjang. Oleh karena itu, selain kelayakan finansial, kestabilan geopolitik, konsistensi kebijakan, kepastian hukum, tata kelola yang transparan, dan konsistensi kebijakan menjadi faktor yang sangat menentukan,” ujar John Anis dalam diskusi panel bertema “Future of Investments Within Our Borders” dikutip Senin (2/3/2026).
Ia menilai ASEAN memiliki prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat serta target peningkatan bauran energi terbarukan hingga 2050. Potensi tersebut menjadikan kawasan sebagai destinasi strategis investasi transisi energi, terutama jika negara anggota mampu menyelaraskan regulasi guna menciptakan iklim usaha yang lebih terintegrasi dan kompetitif.
Disiplin Investasi dan Kepentingan Nasional
Sebagai bagian dari PT Pertamina (Persero), badan usaha milik negara di sektor energi, Pertamina NRE menerapkan pendekatan investasi yang disiplin dan terukur. Perusahaan mengevaluasi setiap proyek dengan menghitung imbal hasil berbasis risiko, termasuk premi risiko negara dan risiko sektoral, serta melakukan uji tekanan terhadap berbagai skenario geopolitik dan makroekonomi.
Dalam ekspansi luar negeri, perusahaan juga mempertimbangkan dampaknya bagi Indonesia. Manajemen memastikan investasi tersebut berkontribusi terhadap penguatan ketahanan energi nasional, transfer pengetahuan, serta penciptaan nilai tambah bagi perekonomian domestik.
Komitmen regional itu tercermin melalui kepemilikan 20% saham pada Citicore Renewable Energy Corporation di Filipina. Investasi ini memperkuat posisi Pertamina NRE sebagai mitra strategis dalam pengembangan proyek surya skala besar di negara tersebut sekaligus membuka peluang kolaborasi lintas batas dalam pengembangan EBT.
Baca Juga
Bangun Ekosistem SAF Terverifikasi Global, Pertamina Siap Ekspor Bioavtur ke Eropa dan Asia
Perusahaan juga mencermati pengalaman Filipina dalam penerapan kebijakan mandatori bahan bakar nabati sebagai referensi pengembangan ekosistem bioetanol di Indonesia, mulai dari aspek regulasi hingga model bisnis dan insentif investasi.
Menutup paparannya, John Anis menekankan bahwa investasi lintas negara hanya dapat berkelanjutan jika terdapat keselarasan visi antara investor dan pemerintah tuan rumah. “Investasi bukan sekadar transaksi, melainkan kemitraan jangka panjang. Diperlukan ambisi bersama, peluang ekonomi yang jelas, serta motivasi untuk berkolaborasi melalui transfer teknologi, penguatan kapasitas lokal, dan tata kelola yang baik,” tegasnya.
Melalui partisipasi aktif di forum regional tersebut, Pertamina NRE mempertegas perannya sebagai salah satu pemain kunci dalam transformasi energi dan investasi hijau di ASEAN, sekaligus mendorong terciptanya ekosistem investasi yang stabil, transparan, dan kolaboratif di kawasan.

