CEO Investortrust Optimistis 'Unit Link' Bangkit di Tengah Target Ekonomi Tembus 6%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – CEO Investortrust Primus Dorimulu optimistis terhadap prospek ekonomi Indonesia dan kebangkitan produk asuransi unit link atau produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) pada 2026.
Hal tersebut disampaikan Primus saat membuka acara Best Unit Link Awards 2026 yang diselenggarakan bersama Infovesta, sebagai bentuk apresiasi kepada perusahaan asuransi yang memiliki produk unit link.
“Selamat datang di acara Best Unit Link 2026, sebuah acara rutin yang kami gelar bersama Infovesta untuk memberikan apresiasi kepada perusahaan asuransi khususnya yang memiliki unit link atau PAYDI,” kata Primus di Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Baca Juga
OJK Beberkan Pemicu Bisnis Asuransi Syariah Tak Tumbuh Signifikan
Ia menyebut, ekonomi Indonesia memasuki 2026 dengan optimisme di tengah sentimen pesimistis. Sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi tercatat 5,11% secara tahunan, sementara pada kuartal IV-2025 mencapai 5,39% atau tertinggi sejak 2023 secara kuartalan.
Menurutnya, lonjakan tersebut dipicu kenaikan belanja pemerintah pada akhir tahun. “Mengapa Q4 (2025) begitu tinggi? Padahal dari 2023-2024, di 2025 itu belanja pemerintah kecil bahkan minus. Khusus pada kuartal IV 2025 belanja pemerintah naik 44%. Itu sebabnya menjadi trigger bagi pertumbuhan ekonomi,” ucap Primus.
Ia menambahkan, pemerintah juga mulai mengubah strategi fiskal dengan mempercepat belanja sejak awal tahun serta menjalankan reformasi kebijakan melalui Satuan Tugas (Satgas) Debottlenecking di bawah koordinasi Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto.
"Indonesia memasuki fase ekspansi ekonomi jangka menengah periode 2025–2033 dengan target pertumbuhan meningkat hingga 7–8% pada 2029," ujar Primus mengacu pada komitmen Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Di sisi global, ia menyoroti ketidakpastian geopolitik serta kebijakan tarif perdagangan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang kembali meningkatkan tarif global hingga 15% pada Februari 2026. “Kita semua mengikuti, ada ketidakpastian global. Perdagangan global kembali bergejolak,” ucap Primus.
Dia menyinggung kondisi moneter global, saat inflasi AS masih berada di atas target dengan fed fund rate sekitar 3,75%. Sementara volatilitas pasar keuangan global mulai menurun meski arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia, melemah.
Baca Juga
Dari sisi domestik, lanjut Primus, jarak suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) dan suku bunga AS (fed fund rate) sekitar 100 basis poin, dengan B rate berada di level 4,75%. Ia berharap keduanya dapat turun sekitar 50 basis poin hingga akhir tahun.
Tak sampai di situ, Primus juga menyoroti kebijakan pemerintah menjaga imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) agar tidak terlalu tinggi guna mendorong investasi ke pasar saham. “Kita ingin orang lebih banyak investasi di pasar saham maka bunga SBN diturunkan,” imbuh dia.

