Harga Emas Naik 2% ke Level Tertinggi 3 Minggu Seusai Trump Naikkan Tarif Impor
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia melonjak lebih 2% pada perdagangan Senin (24/2/2026) dan menyentuh level tertinggi dalam tiga minggu terakhir, didorong lonjakan permintaan aset aman di tengah ketidakpastian kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump setelah putusan Mahkamah Agung (MA) yang menentang pungutan sebelumnya, sehingga memicu kekhawatiran baru di pasar global.
Harga emas spot naik 2% menjadi US$ 5.206,39 per ons atau sekitar Rp 81,22 juta per ons (kurs Rp 15.600 per dolar AS), setelah sempat mencapai level tertinggi sejak 30 Januari pada awal sesi. Sebelumnya, logam mulia ini mencetak rekor US$ 5.594,82 per ons pada 29 Januari.
Kontrak emas berjangka Amerika Serikat (AS) untuk pengiriman April ditutup menguat 2,8% di level US$ 5.225,60 per ons. Kenaikan tersebut terjadi ketika pelaku pasar kembali mencari perlindungan di tengah dinamika ekonomi dan politik global yang belum stabil.
Mitra Pengelola CPM Group Jeffrey Christian mengatakan berbagai risiko global berpotensi menjaga momentum emas dalam waktu dekat. “Ada banyak masalah ekonomi dan politik di seluruh dunia, dan dengan pasar yang lebih tenang selama Tahun Baru Imlek, ekspektasi kami adalah harga emas dapat naik tajam minggu ini begitu aktivitas kembali meningkat,” ujar Jeffrey Christian dilansir CNBC.
Baca Juga
IHSG Bergerak Melesat 1,09% di Awal Pekan Ini, Saham EMAS Hingga TPIA Melambung
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin (23/2/2026) kembali mengkritik putusan Mahkamah Agung yang menentang rencana tarifnya. Sebelumnya pada Sabtu (21/2/2206), ia mengumumkan kenaikan tarif sementara untuk seluruh impor Amerika Serikat dari 10% menjadi 15%, batas maksimum yang diizinkan oleh hukum.
Kebijakan tersebut menambah ketidakpastian perdagangan global dan memperkuat sentimen risk off di pasar keuangan. Investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman seperti emas ketika risiko geopolitik dan kebijakan meningkat.
Daratan Tiongkok, konsumen emas terbesar dunia, masih tutup karena libur Tahun Baru Imlek dan dijadwalkan kembali beroperasi pada Selasa (24/2/20206). Aktivitas perdagangan yang kembali normal diperkirakan dapat meningkatkan volume transaksi dan memperkuat volatilitas harga.
Christian memperkirakan tren kenaikan masih berlanjut dalam jangka menengah. “Dalam jangka panjang, selama beberapa kuartal mendatang, kami memperkirakan harga emas akan terus naik dan mungkin mencetak rekor baru,” katanya.
Inflasi AS dan Arah Suku Bunga The Fed
Data pada Jumat (20/2/2026) menunjukkan inflasi inti Amerika Serikat meningkat lebih tinggi dari perkiraan pada Desember. Di sisi lain, data terpisah memperlihatkan pertumbuhan ekonomi melambat tajam pada kuartal keempat.
Kombinasi inflasi yang masih tinggi dan perlambatan ekonomi berpotensi menempatkan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), dalam posisi sulit untuk segera menurunkan suku bunga. Pasar menunggu sinyal dari sejumlah pejabat The Fed pekan ini guna memperoleh kejelasan arah kebijakan moneter, termasuk perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Naik ke Rp 3,028 Juta Dipicu Tarif Trump
Secara historis, emas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik. Logam mulia ini juga cenderung berkinerja lebih baik ketika suku bunga rendah karena tidak memberikan imbal hasil bunga seperti obligasi.
Selain emas, harga perak spot naik 3,2% menjadi US$ 87,23 per ons, level tertinggi dalam lebih dari dua minggu. Sementara itu, platinum turun 0,7% ke US$ 2.140,75 per ons dan paladium menguat tipis 0,1% ke US$ 1.750,53 per ons.

