CEO BDO Indonesia Thano Tanubrata: Adaptasi Jadi Kunci Bertahan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – BDO Indonesia terus memperkuat lini advisory dan layanan berbasis teknologi di tengah dinamika industri jasa profesional dan disrupsi digital. Di bawah kepemimpinan CEO Thano Tanubrata, firma anggota jaringan global BDO International ini mengusung strategi global thinking dengan localdistinctiveness, serta mendorong transformasi menjadi organisasi yang semakin profesional.
BDO Indonesia telah menjadi anggota jaringan BDO sejak 1992. Secara global, jaringan BDO beroperasi di lebih dari 160 negara dengan ribuan kantor dan ratusan ribu profesional. Di Indonesia, firma ini berkembang dari fokus awal pada audit dan business services menjadi penyedia layanan lebih luas, mencakup audit, pajak, advisory, IT (informasi tehcnology) system, human capital, hingga sustainability.
Thano mengawali karier profesionalnya di Australia setelah menempuh pendidikan di Monash University pada 2001. Ia sempat bekerja di BDO Melbourne sebelum melanjutkan karier di Deloitte Australia (Februari 2003 - Februari 2011) hingga posisi senior manager. Pengalaman tersebut membentuk visinya untuk mengembangkan advisory berbasis teknologi di Indonesia.
“Memang kalau cerita saya itu kombinasi antara generation 2 dan profesional. Namun, saya lebih cenderung ke jalur advisory, bagaimana kami memberikan masukan sebagai advisor untuk mengembangkan bisnis klien,” kata Thano dalam wawancara bersama investortrust.id di kantornya, Menara Prudential, Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Anak dari Richard B Tanubrata itu kembali ke Tanah Air di usia 30 tahun dan dua tahun kemudian membangun lini advisory di BDO Indonesia. Menurut Thano, pengalaman di Australia membuatnya melihat bahwa advisory IT akan menjadi peluang besar.
Baca Juga
Pemerintah Evaluasi Uji Coba Tahap Pertama Program Bansos Digital
“Memang fokusnya banyak di audit. Najun, saya melihat peluang berdasarkan pengalaman saya di Australia, advisory IT itu akan menjadi peluang yang baik. Jadi saya setup dan saya kembangkan sampai saat ini,” ucap dia.
Lebih lanjut, Thano menjelaskan, perubahan besar dalam industri akuntansi global terjadi pasca-kasus Enron yang memicu pengetatan aturan independensi.
“Sebelum adanya Enron, accounting firm lebih bebas melakukan audit dan service-service lain. Namun, setelah itu sangat dipisahkan antara audit dan advisory dari segi independensi,” tutur dia.
Dikatakan Thano, pemisahan tersebut justru membuka peluang bagi firma seperti BDO untuk menggarap klien-klien besar di bidang advisory, terutama ketika firma besar terkendala aturan independensi karena sudah menjadi auditor klien tersebut.
Thano menyebut, BDO Indonesia tidak ingin terlalu berat pada satu lini bisnis saja agar tetap resilien menghadapi siklus ekonomi.
BDO Indonesia membidik perusahaan menengah ke atas atau second tier sebagai target utama audit. Sementara untuk advisory, peluang lebih terbuka untuk perusahaan besar dan emiten.
Menanggapi penurunan peringkat persepsi korupsi Indonesia, Thano menilai dari sisi pengalaman lapangan terdapat perbaikan tata kelola, khususnya di Kementerian Keuangan dan BUMN.
Baca Juga
CEO BDO: Empat Hal Ini Jadi Tantangan Perbankan dalam Penerapan Digital
“Saya mungkin hanya bisa berbicara based on experience. Ketika dealing dengan pemerintahan, saya malah melihat jauh lebih baik dibandingkan cerita-cerita sebelumnya,” kata dia.
Menghadapi disrupsi digital, Thano menekankan pentingnya adaptasi cepat. Ia mencontohkan transformasi PT Blue Bird Tbk (BIRD) yang berkolaborasi dengan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan Grab Indonesia saat model bisnis transportasi berubah. “Sama halnya dengan kami. Kalau tidak adapt dan tidak memakai teknologi, otomatis lama-lama kita akan kalah bersaing,” imbuh dia.
BDO Indonesia telah mengembangkan layanan cybersecurity sejak hampir satu dekade lalu, termasuk webtrustaudit, serta kini masuk ke AI security dan sustainability advisory. Firma ini juga aktif mendampingi perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam aspek sustainability.
“Sustainability akan menjadi tren yang besar untuk bisnis advisory. Mau tidak mau kita harus investasi di sana,” tegas Thano.
Menurut Thano, untuk saat ini fungsi audit belum tergantikan teknologi sepenuhnya karena tetap membutuhkan penilaian profesional dan tanggung jawab manusia. Namun lini advisory harus terus berinovasi mengikuti kebutuhan pasar.
Dengan jumlah karyawan mencapai 1.000 orang, BDO Indonesia mengandalkan kekuatan sumber daya manusia. Thano menyebut industri jasa profesional sebagai in-people business. “Kita tidak punya mesin, tidak punya pabrik. Pabriknya manusia. Key-nya bagaimana kita treat partners dan staff members supaya mereka bisa grow dan bertahan,” tandas dia.
Thano pun mengakui saat pandemi Covid-19, tingkat ketidakpastian sangat tinggi karena perusahaan tetap harus menggaji ratusan karyawan tanpa kepastian bisnis. Namun, adaptasi teknologi dan dukungan jaringan global membantu perusahaan melewati masa sulit tersebut.
Sebagai generasi kedua, Thano menekankan pentingnya transformasi tata kelola perusahaan.
“Filosofi saya adalah bisnis untuk keluarga, bukan keluarga untuk bisnis. Perusahaan harus berubah dari perusahaan keluarga menjadi perusahaan profesional,” ujar dia. Menurutnya, profesionalisme menjadi kunci keberlanjutan lintas generasi di industri jasa profesional.
Baca Juga
BDO Indonesia Perbesar Lini Layanan "Assurance", Pajak, dan Konsultasi
Dalam mengelola talenta generasi muda, beberapa tim BDO Indonesia menerapkan skema kerja hybrid, seperti tiga hari di kantor dan dua hari dari rumah, untuk meningkatkan efisiensi di tengah kondisi padatnya lalu lintas Kota Metropolitan Jakarta. “Balance tidak bisa hitam-putih. Harus adapt dengan kebutuhan generasi sekarang,” kata Thano.
Kepada generasi Z, ia berpesan agar tidak cepat menyerah dan mau belajar dari generasi sebelumnya. “Pengalaman tidak bisa dibeli. Namun, di saat yang sama, Gen Z harus menguasai teknologi dan AI. Kompetisi bukan hanya dengan manusia, tapi dengan mesin,” lugas Thano.
Dengan strategi diversifikasi layanan, penguatan digital, dan fokus pada pengembangan talenta, BDO Indonesia membidik pertumbuhan berkelanjutan di tengah perubahan lanskap industri jasa profesional yang semakin kompetitif

