Permintaan Mineral Kritis Naik hingga 2030, Indonesia Hadapi Momentum Besar
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Industri pertambangan Indonesia dinilai memegang peran kunci dalam transisi energi global karena permintaan mineral kritis diproyeksikan meningkat hingga 2030, seiring kebutuhan energi bersih, pertumbuhan ekonomi, dan lonjakan populasi. Dengan demikian, kebijakan investasi dan pengembangan ekosistem industri menjadi faktor penentu arah daya saing nasional.
Dewan Pakar Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Irwandy Arif memaparkan kebutuhan mineral akan meningkat dalam beberapa dekade mendatang karena kombinasi transisi energi, pertumbuhan kelas menengah, serta ekspansi industri teknologi.
“Demand mineral kritis sampai 2030 naik semua. Namun, kalau gonjang-ganjing seperti sekarang, enggak akan ada yang berani investasi. Potensi kita sebenarnya luar biasa. Pemerintah dan industri pertambangan harus memiliki pemikiran yang sama, kalau tidak maka akan sia-sia, kehilangan kesempatan,” tandas Irwandy dalam Workshop Mining for Journalist yang diselenggarakan Perhapi, di Jakarta, dikutip Jumat (13/2/2026).
.
Baca Juga
Irwandy juga menyoroti pengembangan ekosistem kendaraan listrik (electrical vehicle/EV) yang masih membutuhkan dukungan infrastruktur dan kepastian teknologi baterai. Ia mencontohkan proyek yang dijalankan oleh PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam, perusahaan pertambangan milik negara yang merupakan bagian holding pertambangan MIND ID sebagai bagian dari upaya membangun rantai pasok baterai nasional.
“Antam sedang menjalankan proyek ini. Namun, memang kebanyakan kendaraan listrik menggunakan baterai LFP (lithium iron phosphate). Di Indonesia rencananya menggunakan NMC (nikel, mangan, cobalt),” terang Irwandy.
Wakil Ketua Umum Perhapi Resvani menegaskan pentingnya mineral kritis dan strategis sebagai fondasi pertumbuhan industri nasional menuju Indonesia Emas 2045. Ia menilai perubahan geopolitik global dan meningkatnya kebutuhan mineral untuk energi bersih serta teknologi tinggi membuka peluang strategis bagi Indonesia.
Resvani melihat pengembangan industri manufaktur berbasis mineral strategis di Indonesia masih belum optimal. Rendahnya aktivitas eksplorasi menyebabkan keterbatasan data hulu, sementara hilirisasi dinilai masih terkonsentrasi pada tahap primer dan ketergantungan impor material maju masih tinggi. "Kondisi tersebut diperparah oleh lemahnya perencanaan strategis, pengawasan, dan iklim investasi sektor pertambangan," kata dia.
Baca Juga
Resvani menilai pengelolaan mineral kritis juga berperan dalam memperkuat ketahanan industri dan pertahanan negara. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui jaminan pasokan bahan baku bagi industri nasional, penguatan hilirisasi hingga material maju, serta penguasaan rantai nilai strategis di tengah dinamika geopolitik global.
Pada saat yang sama, sektor pertambangan diharapkan menjadi motor pemerataan ekonomi daerah. Aktivitas tambang dinilai mampu mendorong pertumbuhan wilayah, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar area operasi. Peran tersebut dianggap penting dalam menopang transformasi ekonomi Indonesia menuju negara maju dan berdaulat.

