Harga Emas Bergejolak, Hilirisasi Jaga Nilai Tambah BUMN Tambang
Poin Penting
|
JAKARTA,Investortrust.id - Harga emas global sempat terkoreksi 2 pekan lalu setelah reli panjang. Namun, momentum hilirisasi membuat dampaknya terhadap kinerja BUMN tambang dinilai lebih terkendali karena perusahaan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada ekspor bahan mentah.
Dalam beberapa tahun terakhir, holding industri pertambangan MIND ID mendorong integrasi rantai pasok melalui pembangunan smelter bauksit, nikel, dan tembaga, termasuk penguatan industri pengolahan emas domestik agar nilai tambah tidak keluar dari dalam negeri.
Pendekatan ini mengubah cara industri memandang fluktuasi harga komoditas. Ketika harga terkoreksi, perusahaan masih memiliki ruang mempertahankan margin dari produk hilir bernilai tinggi, mulai logam olahan hingga bahan baku industri manufaktur.
Di sisi global, gejolak harga emas yang sempat merambat ke logam mulia dalam negeri setelah kejatuhan tajam 2 pekan lalu justru dinilai membuka ruang penguatan baru. Koreksi dipandang sebagai fase penyesuaian sebelum potensi kenaikan berikutnya, bukan akhir tren.
Pandangan tersebut sejalan dengan proyeksi bullish sejumlah lembaga riset global serta tren pembelian masif oleh bank sentral dunia yang berupaya mengurangi ketergantungan pada dolar AS melalui diversifikasi cadangan devisa.
Daya tarik emas juga tercermin dari perilaku investor ritel. “Saya tetap beli emas walau sempat turun, karena buat jaga nilai uang. Turun sedikit itu biasa, yang penting jangka panjang,” ujar Rina, investor ritel kepada Investortrust.id di Jakarta, Kamis (11/2/2026).
Baca Juga
Prabowo Perintahkan Bahlil Cek Ulang Tambang Emas Martabe, Izin Batal Dicabut?
Harga emas sebelumnya mencetak rekor beruntun sebelum terkoreksi tajam akibat perubahan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat dan penguatan dolar. Meski demikian, banyak pengamat menilai koreksi tersebut lebih bersifat jangka pendek.
Sejumlah lembaga keuangan tetap memandang prospek jangka menengah dan panjang emas kuat. Risiko global yang belum mereda serta permintaan fisik stabil dari bank sentral dan investor dinilai masih menjadi penopang utama harga.
Mengutip Reuters, JPMorgan dalam riset terbaru awal Februari 2026 memproyeksikan harga emas dunia dapat mencapai US$ 6.300 per troy ons pada akhir 2026.
Bank of America Securities menargetkan harga emas di level US$ 6.000 dalam beberapa bulan mendatang. Goldman Sachs memprediksi harga emas mencapai US$ 5.400 pada Desember 2026, Morgan Stanley memperkirakan di kisaran US$ 4.400–4.500 pada pertengahan 2026, dan Citi Research meramal US$ 5.000 dalam 0–3 bulan ke depan.
Kinerja harga emas sepanjang 2026 turut memperkuat optimisme. Sepanjang tahun berjalan, emas telah menguat belasan persen setelah melonjak sekitar 64% sepanjang 2025.
Rekor harga tercipta beruntun, dengan level tertinggi sepanjang masa mendekati US$ 5.600 per troy ons pada 29 Januari 2026. Sebelumnya, rekor terjadi pada Oktober 2025 di sekitar US$ 4.058,98 per troy ons, September 2025 di kisaran US$ 3.747, April 2025 sekitar US$ 3.313, dan Desember 2023 di kisaran US$ 2.070 per troy ons.
Baca Juga
Dari sisi fundamental, laporan Gold Demand Trends: Full Year 2025 yang dirilis World Gold Council (WGC), organisasi internasional yang memantau pasar emas global, menegaskan kuatnya permintaan. Sepanjang 2025, total permintaan emas dunia mencapai 5.002 ton, tertinggi sepanjang masa, dengan nilai investasi tahunan menembus US$ 555 miliar.
Momentum tersebut mempertegas urgensi hilirisasi bagi BUMN tambang Indonesia. Dengan mengolah komoditas menjadi produk bernilai tambah, volatilitas harga global tidak lagi langsung menekan kinerja perusahaan karena sebagian nilai tercipta di dalam rantai industri domestik.
Strategi ini juga berdampak pada daya saing. Produk hasil pemurnian dan pengolahan memberikan fleksibilitas pasar yang lebih luas, mulai dari industri baterai, elektronik, hingga manufaktur logam, dibandingkan sekadar menjual bahan mentah.

