Bukukan Kontrak Rp113,85 Triliun di 2025, Tapi Pendapatan Defend ID Turun 18%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Holding BUMN industri pertahanan, Defend ID membukukan realisasi nilai kontrak sebesar Rp113,85 triliun sepanjang 2025, dengan kontrak baru mencapai Rp19,07 triliun. Hal ini dipaparkan Direktur Utama Defend ID Joga Dharma Setiawan dalam rapat bersama Komisi VI DPR.
Dalam paparannya, Joga merincikan, total kontrak tersebut kontribusi terbesar berasal dari PT Dirgantara Indonesia (PT DI) sebesar 35,4%, disusul PT PAL Indonesia 31,1%, PT Pindad 17,4%, PT LEN Industri 13,2%, dan PT Dahana 3%.
"Secara year-on-year, empat entitas memang mengalami penurunan kinerja kontrak yang dipengaruhi oleh pergeseran jadwal pengadaan yang bersumber dari pembiayaan dalam negeri dan luar negeri Kementerian Pertahanan, serta refocusing anggaran APBN," ucap Joga, Rabu (11/2/2026).
Secara operasional, Defend ID mencatatkan realisasi pendapatan usaha pra-audit 2025 sebesar Rp20,74 triliun. Angka ini menggambarkan penurunan 18,1% dibandingkan 2024. Menurut Joga, penurunan ini dipengaruhi rendahnya tingkat konversi kontrak menjadi pendapatan, yang hanya mencapai 18,2%.
Baca Juga
Defend ID Tuntaskan Proyek Strategis Rp 12,3 Triliun pada 2025
"Hal ini dipengaruhi dampak masih cukup rendahnya tingkat konversi kontrak menjadi pendapatan yang hanya mencapai 18,2% dari total kontrak, akibat mayoritas kontrak baru diperoleh pada akhir tahun 2025 dan terjadinya pergeseran efektif kontrak lini pertahanan ke kuartal ketiga dan keempat 2025," paparnya.
Lebih lanjut, Joga juga memaparkan, komposisi per lini produk tahun 2025, di mana sektor pertahanan didominasi oleh PT PAL, kemudian PT DI, PT LEN, dan Pindad, kemudian PT Dahana. Kontribusi pendapatan pertahanan yang signifikan yaitu 68,7% dari total pendapatan sebesar Rp14,25 triliun, meliputi produk defense electronics, produk kapal perang, pesawat terbang, senjata dan munisi, dan ranpur.
"Pada lini non-pertahanan, kontribusinya sebesar Rp6,49 triliun atau 31,27% yang ditopang oleh pertumbuhan pada railway signaling, renewable energy, ICT dan navigation system, serta engineering service dan aerostructure. Namun, beberapa segmen seperti alat berat, infrastruktur perhubungan, rekayasa umum, dan jasa peledakan masih mengalami tekanan," beber Joga.

