Kemenkomdigi: Pembangunan Ekonomi Digital Indonesia Fokus pada Keseimbangan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) menekankan pergeseran paradigma dalam pembangunan ekonomi digital Indonesia. Jika satu dekade terakhir Indonesia memprioritaskan kecepatan pertumbuhan, ke depan pemerintah akan lebih fokus pada keseimbangan dan urutan yang tepat guna memastikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan stabil.
Hal itu diungkapkan Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Komdigi Sonny Sudaryana dalam acara Indonesia Open Network (ION): IEF Talks Panel 3 bertajuk "Innovate to Integrate: New Tech for a New Network" di Mangkuluhur Artotel, Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Dalam pidatonyo, Sonny menyoroti bahwa kecepatan tinggi dalam ekonomi digital selama ini telah menimbulkan tantangan struktural yang perlu segera diatasi. Sonny menjelaskan bahwa pola pertumbuhan yang hanya mengejar skala seringkali mengorbankan kepercayaan publik.
"Faktanya, kecepatan tanpa keseimbangan mulai menunjukkan dampaknya. Di seluruh dunia, kita melihat pola yang serupa, pertumbuhan digital yang memberikan efisiensi, namun memusatkan nilai (hanya pada segelintir pihak). Inovasi yang melaju pesat, namun mengikis kepercayaan," ungkap Sonny.
Menanggapi tantangan tersebut, Indonesia secara tegas mengambil langkah strategis baru yang lebih terukur. Sonny menyatakan bahwa pemerintah kini lebih memilih kualitas pertumbuhan dibandingkan sekadar angka valuasi yang besar.
"Di Indonesia, kami memilih urutan daripada kecepatan. Dalam dekade mendatang, kami akan fokus pada keseimbangan dan urutan," tegasnya.
Baca Juga
Indonesia Open Network (ION) Disebut Jadi Solusi Jangka Panjang Sistem Logistik RI
Sonny menjelaskan, langkah ini diambil guna mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% dan membantu Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap). Salah satu kunci utamanya adalah efisiensi modal melalui penurunan angka ICOR (incremental capital output ratio), terutama di sektor UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi. Menurut Sonny, digitalisasi adalah alat yang ampuh untuk mencapai hal tersebut.
Untuk menjalankan strategi ini, Kementerian Komunikasi dan Digital memperkenalkan kerangka kerja yang disebut sebagai "6C Framework". Kerangka ini terdiri dari Connectivity, Capital, Competency, Commerce, Compliance, dan Catalyst. Strategi ini dirancang untuk memastikan pembangunan digital dilakukan selapis demi selapis, mulai dari penyediaan infrastruktur dasar hingga penciptaan permintaan oleh pemerintah sebagai katalisator.
Sejalan dengan visi tersebut, pemerintah meluncurkan inisiatif Garuda Spark Innovation Hub. Program ambisius ini menargetkan penciptaan 1.000 perusahaan teknologi dengan valuasi masing-masing sekitar US$ 100 juta, namun tetap mengutamakan dampak nyata bagi masyarakat luas.
"Kami menargetkan sekitar 4 juta penerima manfaat. Kombinasi program ini disimulasikan dapat berkontribusi sekitar 1,6% terhadap pertumbuhan PDB. Dalam 10 tahun ke depan, kami berencana membangun 20 hub dan 500 spoke di seluruh Indonesia, dari wilayah Barat hingga Timur," jelas Sonny.
Lebih lanjut, Sonny pun mengajak seluruh pihak untuk berkolaborasi dalam membangun ekosistem yang terbuka. Ia menekankan bahwa pemerintah tidak bisa bergerak sendiri dalam membentuk masa depan digital Indonesia.
"Masa depan tidak akan dibentuk oleh pemerintah saja atau pasar yang terisolasi, melainkan melalui kolaborasi. Kami mengundang Anda semua untuk berkolaborasi dalam Garuda Spark, fokus bukan hanya pada valuasi, tapi menciptakan dampak nyata. Dari percikan (spark) menuju dampak (impact)," pungkas Sonny.

