Maruarar Sirait: Jangan Kompromi untuk Hal yang Prinsip
Poin Penting
|
KARAWACI, Investortrust —Integritas dan nilai-nilai prinsipil tidak boleh menjadi ruang kompromi, baik dalam kepemimpinan, dunia kerja, maupun kehidupan beriman. Menurutnya, banyak orang sesungguhnya sudah memahami mana yang benar, tetapi gagal melakukannya karena takut konflik, tidak enak hati, atau ingin tetap tampil sebagai “good boy”. Dalam hal prinsip, konflik adalah konsekuensi dari upaya menegakkan kebenaran. Oleh karena itu, pendidikan harus melahirkan siswa dan mahasiswa yang memiliki keberanian moral, bukan sekadar kepatuhan formal.
“Untuk hal-hal yang prinsip, tidak ada negosiasi. Integritas itu tidak ada kompromi. Zero tolerance,” Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait yang juga Ketua Umum Natal Nasional 2025 dalam Seminar Nasional ke-10 bertema “Allah Hadir Menyelamatkan Keluarga” yang digelar di Kampus Universitas Pelita Harapan (UPH), Lippo Karawaci, Banten, Selasa (4/2/2026).
Pembicara lain pada seminar yang dipandu Binsar J. Pakpahan, Ketua STFT Jakarta sekaligus Koordinator Seminar Natal Nasional adalah Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek) RI Prof. Dr. Brian Yuliarto dan pendiri Yayasan Pendidikan Pelita Harapan James Riady. Seminar dengan tema yang sama itu telah diadakan sembilan kali di sembilan kota.
“Banyak orang tahu yang benar, tapi tidak berani melakukannya. Takut konflik, tidak enak, ingin aman,” ujarnya. Maruarar menegaskan bahwa sebagai orang beriman, prinsip harus dijaga dan kebenaran harus disuarakan. Namun, upaya menegakkan prinsip dan kebenaran tetap berada dalam koridor koeksistensi secara damai.
Dalam sambutannya, Maruarar menyampaikan apresiasi kepada pendiri UPH James Riady beserta keluarga, pimpinan universitas, para rektor, serta mitra pendukung kegiatan. Ia secara khusus menyebut kontribusi Astra Group, yang menurutnya konsisten mendukung kegiatan sosial, terutama di bidang kesehatan.
Baca Juga
Maruarar: Natal Nasional Digelar Sederhana Disertai Penyaluran Bantuan ke Daerah Bencana
Ia menyapa para undangan dengan gaya spontan dan personal —menyebut satu per satu tokoh yang hadir— sekaligus menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seminar seremonial, melainkan bagian rangkaian panjang diskusi dan aksi sosial yang telah berlangsung hampir setahun.
Maruarar kemudian masuk ke isu strategis nasional. Ia menekankan bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia (SDM) yang berbasis sains dan teknologi. Tanpa itu, Indonesia akan terus terjebak sebagai penjual bahan mentah.
“Kita harus membangun hilirisasi supaya kita tidak lagi menjual bahan mentah, tapi menjual produk jadi,” ujarnya. Ia mencontohkan komoditas utama, seperti nikel, emas, dan batu bara yang harus diolah agar memberi nilai tambah lebih besar bagi perekonomian nasional.
Isu ekonomi itu ia kaitkan langsung dengan kedaulatan negara. Maruarar melontarkan ilustrasi keras. “Bagaimana jika suatu hari ada negara asing yang menyatakan akan mengelola Indonesia? Apakah kita bersedia?” tanyanya. “Kita tidak akan mau itu terjadi. Karena itu Indonesia harus kuat,” tegasnya.
Ia menyatakan keyakinannya bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, agenda penguatan SDM dan kemandirian nasional akan dijalankan secara konsisten. “Presiden Prabowo sangat percaya bahwa hanya dengan SDM berkualitas, bangsa ini bisa berhasil,” katanya.
Pendidikan dan Brotherhood
Di hadapan civitas academica UPH, Maruarar membagikan kisah keluarganya sebagai ilustrasi pentingnya pendidikan dan jejaring sosial. Ia mengatakan kedua anaknya menempuh pendidikan di SPH Kemang. Anak sulungnya lulus dari SPH Kemang, diterima di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, dan kini mengelola usaha sendiri.
Ia menyoroti fakta bahwa anaknya masih menjaga hubungan erat dengan teman-teman SMA, sekitar 8-10 orang, yang ia sebut sebagai brotherhood. “Teman baik sering kali lahir dari sekolah dan kampus. Itu persaudaraan yang bertahan seumur hidup,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dirinya pun masih memelihara persahabatan sejak SD hingga kuliah.
Anak keduanya, kata Maruarar, juga lulusan SPH Kemang dan beberapa tahun lalu melanjutkan studi ke London di bidang politik. Ia menutup bagian ini dengan dukungan moral kepada sekolah dan kampus: “Maju terus SPH dan UPH.”
Baca Juga
Natal Nasional Dorong Ketahanan Keluarga sebagai Pilar Persatuan Bangsa
Dukungan Lintas Iman
Maruarar mengapresiasi panitia yang telah menyelenggarakan sembilan seminar nasional di berbagai daerah dan kampus, yakni kota Bandung (10/12/2025), Manado dan Medan (11/12/2025), Palangkaraya (12/12/2025), Ruteng (13/12/2025), Ambon (15/12/2025), Merauke (17/12/2025), Toraja (18/12/2025), Jakarta (03/01/2026).
“Dan hari ini, di Kampus UPH Lippo Karawaci adalah seminar kesepuluh. Semua seminar diselenggarakan di kampus. Seminar nasional ini membahas tema yang sama dari sudut iman, psikologi, pendidikan, dan realitas sosial dengan menghadirkan pembicara dari berbagai bidang.
Maruarar menekankan bahwa dukungan publik datang bukan hanya dari kalangan Kristen dan Katolik, tetapi juga dari masyarakat lintas iman. Bahkan, distribusi bantuan sosial yang dikumpulkan dalam rangkaian kegiatan ini masih berlangsung hingga saat ini karena cakupan wilayah yang luas.
“Ini sudah sebulan, tapi distribusi bantuan belum selesai. Itu menunjukkan besarnya dampak dan jangkauan kegiatan ini,” ujarnya. Ia menegaskan pentingnya menuntaskan distribusi sebelum laporan akhir dibuat.
Sederhana, Berdampak, dan Terbuka
Bagian terpanjang pidato Maruarar adalah penjelasan tentang konsep Natal sederhana, tetapi berdampak dan terbuka. Konsep Natal itu merupakan arahan langsung Presiden Prabowo. Ia bercerita bahwa sempat muncul wacana menggelar Natal berskala besar di stadion berkapasitas 70–80 ribu orang. Namun arahan Presiden justru menekankan kesederhanaan dan dampak nyata.
Pilihan akhirnya jatuh pada Tennis Indoor Senayan dengan kapasitas 3.580 orang—angka yang, menurut Maruarar, begitu sering dibahas hingga “hafal di luar kepala”. Ia merinci komposisi undangan yang dipilih secara sadar, yakni 500 anak yatim, 500 anak sekolah minggu, 500 guru sekolah minggu, 500 guru agama Kristen dan Katolik, penyandang disabilitas, dan perwakilan gereja dan komunitas pelayanan.
Dengan komposisi tersebut, ruang untuk undangan umum menjadi sangat terbatas. “Ini soal konsistensi. Yang kita lakukan harus sejalan dengan arahan,” katanya.
Baca Juga
Maruarar: Natal Nasional Digelar Sederhana Disertai Penyaluran Bantuan ke Daerah Bencana
Natal Nasional 2025 yang digelar 5 Januari 2026 disebut terbuka atau inklusif karena pihak penyumbang datang dari berbagai agama. Ada penyumbang beragama Islam dan Konghuchu. Selain itu, penerima bantuan sosial Natal tidak hanya umat Kristen dan Katolik, tapi juga warga beragama lain.
Maruarar menjelaskan makna “sederhana” secara rinci. Konsumsi acara menggunakan catering UMKM, menghadirkan makanan khas daerah, seperti Manado dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Tidak ada artis nasional atau penyanyi papan atas; yang tampil adalah penyanyi gereja dari Papua, NTT, dan Tapanuli.
Atribut Natal pun dibuat berbeda. Alih-alih dekorasi mewah, panitia membeli dan membagikan buah-buahan lokal —jeruk dari Karo, nanas dari Subang, mangga dari Majalengka—yang bisa langsung dinikmati peserta. Baginya, ini simbol dukungan nyata pada petani dan ekonomi lokal.
Program Sosial Berdampak Nyata
Maruarar memaparkan berbagai aksi sosial yang telah dan sedang dijalankan, antara lain, bantuan kesehatan, termasuk penyediaan sekitar 35 ambulans untuk berbagai daerah. Bantuan pendidikan, berupa 1.000 paket senilai Rp10 juta per orang, didukung sahabat lintas iman. Renovasi sekitar 100 gereja. Sebanyak 20 ribu paket sembako yang disalurkan di 10 titik nasional.
Ada dukungan infrastruktur sosial dan pendidikan di Papua, termasuk pembangunan fasilitas di Wamena. Distribusi sekitar 30 ribu Alkitab ke berbagai wilayah. Respons kebencanaan di daerah terdampak, dengan relawan yang turun langsung ke lapangan.
Ia menekankan bahwa bantuan sosial tidak boleh eksklusif. “Distribusinya untuk semua, tidak hanya Kristen dan Katolik. Itulah Indonesia yang kita cita-citakan,” ujarnya. Sekitar 80% dana yang dihimpun Panitia Natal 2025 digunakan untuk kegiatan sosial.
Calon Pengusaha
Di pengujung pidato, Maruarar menyampaikan komitmen pribadi yang mengejutkan audiens. Ia meminta UPH menyiapkan 10 mahasiswa terbaik dari berbagai daerah — termasuk Papua, NTT, dan Nias— yang akan didukung menjadi wirausaha. Ia menyediakan dana Rp 2 miliar untuk melahirkan pengusaha baru.
“Satu orang saya siapkan Rp 200 juta dari uang pribadi saya,” katanya. Ia menyatakan akan kembali dalam dua hingga tiga bulan untuk menindaklanjuti program tersebut. Harapannya, lahir generasi pengusaha baru yang sukses sekaligus berdampak sosial.
Pelajaran Wijaya Kusuma
Maruarar menutup pidato dengan kisah masa kecil tentang bunga wijaya kusuma yang sering ditunjukkan mendiang ayahnya, Sabam Surait, pada tengah malam. Bunga wijaya kusuma itu indah, harum, tetapi mekar hanya sebentar. Dari situlah ia belajar bahwa kesempatan, kekuasaan, dan mandat harus digunakan secepat-cepatnya, sebersih-bersihnya, dan seberani-beraninya untuk kepentingan rakyat dan negara.
“Kami acap diajak Pak Sabam di malam hari untuk melihat bunga wijaya kusuma yang sedang mekar sambil ia menjelaskan filosofi bunga ini bagi kehidupan manusia,” jelas Maruarar. Wijaya kusuma tidak mekar di siang hari. Ia memilih malam sunyi, gelap, dan sepi penonton. “Mekar singkat lalu layu. Hidup itu singkat. Oleh karena itu, hidup kita harus memberi makna bagi sesama, terutama orang kecil,” ujar Maruarar mengulang pesan sang ayah.
Ia mengutip kalimat reflektif: “Don’t tell your God how big your problem is, but tell your problem how big your God is.”
“Doakan saya agar amanah ini saya jalankan untuk bangsa dan negara,” tutup Maruarar. “Hidup di dunia ini sementara. Karena itu, tegakkan kebenaran, apa pun risikonya.”

