Laba Sentul City (BKSL) Lompat, Stabilitas Masih Perlu Pembuktian
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Kinerja laba PT Sentul City Tbk (BKSL) meningkat sepanjang 2025. Namun, peningkatan tersebut perlu dicermati karena sebagian laba berasal dari transaksi yang bersifat nonrecurring.
Pengamat pasar modal, Reydi Octa menyampaikan, kontribusi penjualan aset, termasuk penjualan lahan kepada Genting, menjadi salah satu faktor utama kenaikan laba BKSL pada periode tersebut.
“BKSL memiliki peningkatan kinerja laba pada 2025, tetapi perlu dicermati sebagian peningkatan laba dihasilkan penjualan aset nonrecurring sehingga pertumbuhan kinerja laba yang stabil masih perlu pembuktian lebih lanjut,” kata Reydi saat dihubungi Investortrust.id, Minggu (25/1/2026).
Baca Juga
Saham BKSL Terus Melonjak, Benarkah Danantara Terlibat di Proyek KEK Kesehatan Sentul?
Dia menambahkan, sektor properti secara umum masih menghadapi tekanan, terutama dari sisi daya beli masyarakat dan kondisi suku bunga. Situasi tersebut berpotensi memengaruhi kinerja emiten properti ke depan, termasuk BKSL. “Dengan kondisi sektor properti yang masih menghadapi tekanan dari daya beli dan suku bunga, BKSL diproyeksikan masih fluktuatif dan spekulatif,” terang Reydi.
Dari sisi pergerakan saham, Reydi menilai BKSL masih memiliki peluang penguatan dalam jangka pendek berdasarkan indikator teknikal. Namun, untuk jangka menengah dan panjang, fundamental perusahaan dinilai belum sekuat emiten lain di sektor yang sama.
“BKSL memiliki potensi bullish untuk jangka pendek secara teknikal, tetapi untuk jangka menengah dan panjang belum memiliki fundamental sesolid SMDR,” tutur Reydi.
Berdasarkan catatan Investortrust.id, PT Sentul City Tbk (BKSL) membukukan lonjakan laba bersih 186,22% year on year (yoy) menjadi Rp 74,15 miliar, dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 25,90 miliar. Kenaikan didorong oleh peningkatan serah terima unit dan kepercayaan pasar terhadap produk Sentul City.
Kenaikan tersebut menjadikan total laba per saham dasar BKSL meningkat dari Rp 0,16 menjadi Rp 0,43 per saham. Manajemen BKSL menyebut bahwa kenaikan tersebut sejalan peningkatan pendapatan sebesar Rp 836,97 miliar, tumbuh 96,28% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Lonjakan pendapatan terutama berasal dari penjualan lahan siap bangun, rumah hunian, ruko, dan apartemen dengan kenaikan signifikan 183,85% yoy, dengan kontribusi Rp 648,72 miliar. Selain itu, segmen hotel, restoran, dan taman hiburan mencatat kontribusi positif senilai Rp 135,85 miliar, disusul segmen pengelolaan kota sebesar Rp 52,41 miliar.
Baca Juga
Top! Pendapatan Sentul City (BKSL) Melesat 105,23% di Semester I-2025, Labanya Segini
“Pertumbuhan yang kuat di seluruh segmen menunjukkan kemampuan Sentul City menjaga diversifikasi pendapatan sekaligus memperkuat fondasi bisnis yang berkelanjutan,” tulis manajemen dalam laporan resminya Oktober 2025.
Kinerja positif tersebut, terang manajemen BKSL, mencerminkan peningkatan permintaan pada sejumlah proyek hunian unggulan, seperti Spring Valley Extension, Centronia Residence, Spring Residence, Spring Garden, hingga Saffron Noble Apartment. Mayoritas pembeli berasal dari kalangan usia di bawah 43 tahun, mencerminkan tingginya minat generasi muda dan keluarga baru terhadap hunian bernuansa resort yang ditawarkan Sentul City.
Produk hunian tersebut menjadi pilihan menarik bagi konsumen yang mencari kualitas hidup lebih baik sekaligus potensi investasi jangka panjang di kawasan yang terus berkembang.
Kawasan Sentul City memiliki keunggulan strategis dengan akses langsung ke Tol Jagorawi serta konektivitas luas melalui TransJakarta rute Blok M–Bogor, Trans Pakuan jurusan Sentul City–Bogor, dan bus antarkota.

