Lukisan Gua Tertua Dunia Ada di Indonesia, Ini Kata Menbud
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon, mengungkapkan ke depan Indonesia dapat memainkan peran penting sebagai pusat peradaban budaya global. Bukan tanpa alasan, Indonesia memiliki potensi besar mengeksplorasi kekuatan budaya, bukan hanya sebagai mesin pertumbuhan ekonomi, melainkan alat diplomasi.
Terbaru, ia mengungkapkan bahwa lukisan gua tertua di dunia ditemukan di Sulawesi dan telah diakui secara internasional melalui publikasi jurnal ilmiah terkemuka Nature.
“Per hari ini, lukisan gua tertua di dunia ada di Indonesia, tepatnya di Sulawesi, dengan usia 67.800 tahun. Ini bukan klaim sepihak, tetapi hasil penelitian ilmiah yang diakui dunia,” kata Fadli saat menyampaikan pidato pada ajang Starting Year Forum 2026 di The St. Regis Hotel, Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Temuan tersebut melampaui rekor sebelumnya yang juga berada di Indonesia, yakni lukisan gua di Maros, Sulawesi Selatan, berusia 51.200 tahun. Lokasi terbaru berada di Leang Metanbona, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.
Baca Juga
Fadli Zon Ingin RI Contoh Korsel dan India, Jadikan Budaya Mesin Pertumbuhan Ekonomi
Menurut Fadli, temuan ini menegaskan bahwa Indonesia bukan hanya kaya dan beragam, tetapi salah satu peradaban budaya tertua di dunia. Ia menilai pencapaian ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi budaya dan ekonomi global.
Selain lukisan gua, Fadli menyoroti pengakuan internasional terhadap berbagai warisan budaya Indonesia oleh UNESCO, seperti wayang, keris, batik, angklung, pinisi, gamelan, pencak silat, hingga kebaya dan reog Ponorogo. Pada 2026, pemerintah berencana mengusulkan tempe dan makyong sebagai warisan budaya tak benda dunia.
“Kuliner juga ekspresi budaya. Semua ini bisa menjadi bagian dari ekonomi budaya yang menghidupi masyarakat,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Fadli menyinggung kebangkitan industri film nasional sebagai contoh sukses ekonomi budaya. Sepanjang 2025, jumlah penonton film Indonesia mencapai sekitar 80 juta, dengan pangsa pasar domestik sebesar 67%. Sejumlah film nasional bahkan menembus angka lebih dari 10 juta penonton.
Ia menilai keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri jika ekosistem budaya dikelola secara serius dan profesional.
Baca Juga
BPK Ingatkan Tata Kelola Anggaran Budaya Harus Akuntabel dan Berdampak Ekonomi
Lebih jauh, Fadli menekankan bahwa kebudayaan memiliki fungsi strategis sebagai kekuatan pemersatu bangsa. Di tengah dinamika politik yang kerap memecah belah, budaya justru menjadi perekat identitas nasional. “Kalau politik bisa memecah, budaya biasanya menyatukan. Inilah kekuatan lunak (soft power) Indonesia,” tegasnya.
Dengan berdirinya Kementerian Kebudayaan untuk pertama kalinya dalam sejarah Republik Indonesia, Fadli berharap kesadaran publik dan dunia usaha terhadap pentingnya kebudayaan semakin meningkat, tidak hanya sebagai identitas, tetapi juga sebagai fondasi ekonomi dan peradaban masa depan Indonesia.

