Investasi Minerba Capai US$ 6,7 Miliar, Hilirisasi Jadi Motor Utama
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Sektor mineral dan batu bara (minerba) menjadi penopang penting peningkatan investasi sekaligus pertumbuhan ekonomi nasional pada 2025. Dorongan utama datang dari percepatan pembangunan dan pengoperasian proyek-proyek strategis hilirisasi, yang ditujukan agar investasi yang telah ditanamkan segera menghasilkan produk bahan baku bernilai tambah dan mendukung transformasi industri Indonesia.
Chairman Indonesia Mining Institute (IMI) Irwandi Arif menilai investasi hilirisasi yang terus mengalir merupakan respons sektor minerba nasional dalam menjawab tantangan industri ke depan. "Langkah tersebut krusial untuk mengubah struktur ekonomi pertambangan Indonesia," kata dia dalam keterangannya, Jumat (23/1/2026).
Berdasarkan laporan capaian kinerja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), realisasi investasi sektor minerba mencapai US$ 6,7 miliar. Capaian tersebut didorong penyelesaian sejumlah proyek strategis nasional yang tersebar di berbagai wilayah dan melibatkan badan usaha milik negara maupun swasta.
Kontribusi besar terhadap realisasi investasi minerba 2025 berasal dari proyek hilirisasi nikel Grup MIND ID, holding industri pertambangan milik negara. Salah satu entitasnya, PT Vale Indonesia Tbk (INCO), terus melanjutkan pembangunan tiga proyek Indonesia growth project (IGP), yakni IGP Sorowako Limonite, IGP Morowali, dan IGP Pomalaa. Ketiga proyek tersebut dirancang untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok nikel global.
Total investasi proyek nikel Grup MIND ID tersebut diperkirakan mencapai US$ 8,7 miliar. Investasi ini diharapkan menjadi penghubung strategis bagi nikel Indonesia agar mampu menghasilkan produk bahan baku yang siap digunakan oleh berbagai sektor industri, termasuk industri baterai kendaraan listrik.
Selain nikel, proyek strategis lain datang dari PT Freeport Indonesia, anggota Grup MIND ID, melalui pembangunan pabrik pemurnian logam mulia atau precious metal refinery (PMR). Proyek dengan nilai investasi US$ 630 juta ini berlokasi di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, dan menjadi bagian dari program hilirisasi untuk mengolah anoda slime menjadi logam mulia seperti emas dan perak.
Grup MIND ID juga mengembangkan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan nilai investasi mencapai US$ 900 juta. Proyek yang mulai beroperasi pada 2025 ini berperan sebagai penghubung rantai pasok hilirisasi bauksit, alumina, hingga aluminium nasional.
Baca Juga
Minerba dan Migas Jadi Penopang Utama, PNBP ESDM Capai Rp 228,05 Triliun
Kontribusi investasi tidak hanya datang dari badan usaha milik negara (BUMN). Dari sektor swasta, PT Solder Tin Andalan Indonesia (STANIA) meresmikan pabrik pengolahan timah di Kawasan Industri Tunas Prima, Batam, pada Juli 2025 dengan nilai investasi Rp 400 miliar. Proyek ini memperkuat kapasitas hilirisasi timah di dalam negeri.
Selain itu, PT Batam Timah Sinergi (BTS) juga meresmikan pabrik hilirisasi timah di Kawasan Industri Sei Lekop, Batam, dengan investasi Rp 1 triliun. Pabrik ini mengolah timah menjadi berbagai produk bahan baku industri, seperti Stannic Chloride, Dimethyl Tin Dichloride (DMCTL), dan Methyl Tin Mercaptide, yang dibutuhkan oleh sektor manufaktur dan kimia.
Menurut Irwandi, investasi di sektor minerba memungkinkan Indonesia mengurangi ketergantungan pada ekspor mineral mentah dan beralih ke ekspor produk hilir dan downstream dengan nilai tambah tinggi. Selain itu, investasi hilirisasi juga menjadi pintu masuk bagi Indonesia untuk meningkatkan peran strategisnya dalam mendukung transisi energi global.
“Kita punya tantangan mendasar, meningkatkan aktivitas eksplorasi untuk memastikan sustainability cadangan dan daya saing jangka panjang. Di sisi lain, demand akan sejumlah produk mineral kritis juga harus dimanfaatkan,” ujarnya.
Pandangan senada disampaikan Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Watch Ferdy Hasiman. Ia mengatakan capaian investasi minerba pada 2025 diharapkan dapat dilanjutkan dan bahkan ditingkatkan pada tahun-tahun berikutnya agar kontribusinya terhadap perekonomian nasional semakin besar.
Meski demikian, Ferdy mengingatkan adanya sejumlah tantangan, terutama terkait kebijakan pengetatan produksi di beberapa komoditas yang berpotensi memengaruhi kinerja sektor minerba secara keseluruhan.
Baca Juga
RKAB 2026 Belum Terbit, Ditjen Minerba Keluarkan Surat Edaran
“Kita berharap ada investasi yang lebih besar supaya mendukung pertumbuhan dan peningkatan nilai tambah ekonomi yang ditargetkan pemerintah. Hanya saja, saya khawatir, pembatasan produksi dari pemerintah memengaruhi kinerja sektor minerba,” katanya.
Di sisi lain, Ferdy berharap strategi pemerintah dalam membatasi produksi pertambangan dapat berdampak positif melalui kenaikan harga komoditas. Ia juga menekankan pentingnya peran sektor swasta sebagai penggerak utama investasi minerba nasional ke depan.

