Kolaborasi Bisnis–Pemerintah Perkuat Agenda Keanekaragaman Hayati
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) bekerja sama dengan Business for Nature, koalisi yang didukung lebih 100 organisasi mitra internasional, memperkuat kolaborasi dunia usaha dan pemerintah untuk mendorong transisi Indonesia menuju ekonomi yang nature-positive. Kemitraan yang dimulai sejak Mei 2025 ini menjadi upaya strategis menerjemahkan komitmen biodiversitas global ke dalam aksi bisnis yang konkret dan relevan bagi perekonomian nasional.
Direktur Eksekutif IBCSD Indah Budiani mengatakan, IBCSD dan Business for Nature, membangun kerja sama guna mendukung pemerintah dalam penyusunan kerangka kebijakan dan regulasi. "Kerangka tersebut dibutuhkan agar pelaku usaha dapat mengambil peran nyata dalam pencapaian target keanekaragaman hayati nasional serta tujuan global yang telah disepakati," kata Indah dalam keterangannya, Rabu (21/1/2026).
Kemitraan ini merupakan bagian proyek nasional Business for Nature yang dijalankan di sejumlah negara untuk menjembatani kesenjangan antara ambisi global dan implementasi di tingkat nasional. Inisiatif tersebut juga sejalan dengan gerakan internasional yang mendorong kolaborasi bisnis dan pemerintah dalam perlindungan alam, sekaligus mendukung implementasi Global Biodiversity Framework (GBF) dan pembangunan ekonomi yang lebih tangguh.
Sebagai bagian dari kolaborasi tersebut, IBCSD menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Keanekaragaman Hayati Indonesia dan Rencana Aksi Bisnis (Kiranas) di Jakarta pada Selasa (20/1/2026). "Forum ini menjadi tonggak penting dalam proses co-creation Kiranas dengan menghimpun masukan terstruktur dari pelaku usaha lintas sektor prioritas untuk menguji, menyempurnakan, dan memvalidasi draf peta jalan dari sisi implementasi dan investasi," kata Indah.
Kiranas disusun sebagai dokumen peta jalan implementasi yang dipimpin dunia usaha untuk menerjemahkan komitmen keanekaragaman hayati nasional ke dalam aksi korporasi yang konkret, layak investasi, dan terukur. Draf dokumen tersebut disiapkan oleh sektor bisnis dengan masukan dari pemerintah sebagai pembuat kebijakan, sehingga tetap selaras dengan arah kebijakan nasional.
Melalui kemitraan dengan Business for Nature, kata Indah, IBCSD membangun peta jalan yang terstruktur agar perusahaan dapat melakukan lebih dari sekadar komitmen, yaitu dengan menyelaraskan strategi korporasi, keputusan investasi, dan praktik operasional dengan prioritas biodiversitas nasional serta kerangka global.
Baca Juga
DI COP30 Brasil, Pertamina Paparkan Upaya Pelestarian Lingkungan dan Keanekaragaman Hayati Nusantara
Sementara Senior Sustainability ESG Corporate Communication PT Freeport Indonesia Trian Purnamasari menilai diskusi lintas sektor memberikan perspektif yang kaya dalam penyusunan rencana aksi. "Keberagaman sudut pandang tersebut memperkuat penyusunan rencana bisnis yang tidak hanya aplikatif secara komersial, tetapi juga responsif terhadap tantangan ekologis di masing-masing sektor," kata dia.
Sedangkan Asia Lead Business for Nature Conservation International APAC Pallavi Kalita menekankan pentingnya panduan praktis bagi dunia usaha. “Kiranas akan memberikan panduan praktis dan berorientasi pada aksi bagi dunia usaha untuk mempercepat aksi keanekaragaman hayati dan mengubah ambisi menjadi dampak nyata. Business for Nature bangga dapat bermitra dengan IBCSD dalam upaya yang penting dan mendesak ini,” ujarnya.
Menerjemahkan Komitmen Global ke Tingkat Nasional
Pada 2022, sebanyak 196 negara menyepakati Global Biodiversity Framework, rencana global untuk menghentikan dan membalikkan kehilangan alam pada 2030. Kesepakatan tersebut menempatkan dunia usaha dan lembaga keuangan sebagai aktor kunci, karena pemerintah tidak dapat mencapai target tersebut tanpa dukungan sektor swasta.
Chief Executive Officer Business for Nature Eva Zabey mengatakan kerangka global tersebut memiliki implikasi ekonomi yang luas. “Global Biodiversity Framework bukan sekadar kesepakatan lingkungan; ini adalah cetak biru ekonomi,” ujar Eva Zabey.
Ia menambahkan bahwa proyek nasional Business for Nature menunjukkan pentingnya kombinasi kebijakan publik yang tepat dan strategi bisnis yang nature-positive. “Kami tidak meminta perusahaan memilih antara keuntungan dan planet, kami menunjukkan bagaimana perusahaan dapat berhasil karena alam, bukan dengan mengabaikan alam,” katanya.
Melalui kemitraan ini, organisasi terkait menghimpun perusahaan dan perwakilan pemerintah melalui Indonesia Business and Biodiversity Platform (IBBP), platform kolaboratif yang difasilitasi oleh IBCSD. Platform tersebut dimanfaatkan untuk dialog terstruktur dan diskusi teknis guna mengidentifikasi hambatan serta faktor pendukung dalam memperluas aksi bisnis di bidang alam.
Baca Juga
Peringati Hari Keanekaragaman Hayati, Telkom Wujudkan Harmoni Alam dengan Teknologi
Selain itu, pengembangan Kiranas diarahkan untuk memberi panduan yang jelas dan praktis bagi dunia usaha agar dapat berkontribusi pada target biodiversitas dan iklim nasional.
Seluruh proses tersebut diselaraskan dengan upaya nasional yang dipimpin oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Kementerian Lingkungan Hidup, dengan tujuan memastikan ekosistem seperti hutan, air, dan tanah lebih terintegrasi dalam pengambilan keputusan pembangunan.
Inisiatif ini juga mendukung implementasi Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025–2045 sebagai rujukan utama penguatan tata kelola biodiversitas di tingkat nasional dan subnasional. Dokumen tersebut menekankan pentingnya penguatan instrumen kebijakan, koordinasi lintas sektor, peningkatan kapasitas, serta kerja sama pemangku kepentingan.

