Kantongi 30% RKAB 2026, Vale (INCO) Ajukan Revisi ke ESDM
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Utama PT Vale Indonesia Tbk (INCO) Bernardus Irmanto mengungkapkan, pihaknya telah mengantongi persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2026 dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Namun, kuota RKAB yang disetujui hanya 30% dari total yang mereka ajukan.
Menurut Bernardus, volume yang disetujui tersebut belum sebanding dengan kebutuhan INCO untuk memenuhi komitmen suplai ke proyek hilirisasi yang sedang berjalan di Pomalaa (Sulawesi Tenggara), Morowali (Sulawesi Tengah), dan Sorowako (Sulawesi Selatan). Untuk itu, PT Vale berencana mengajukan revisi kepada Kementerian ESDM.
Baca Juga
“Jadi yang menjadi permohonan dukungan kami adalah terkait kuota penambangan atau produksi ore dari tambang kami di Pomalaa, Bahodopi, dan Sorowako,” kata Bernardus kepada Komisi XII DPR dalam rapat dengar pendapat di Jakarta, Senin (19/1/2026).
Dia menerangkan, PT Vale perlu memastikan kecukupan bijih (ore) untuk memenuhi kewajiban pasokan ke pabrik-pabrik high pressure acid leaching (HPAL) yang dibangun bersama mitra, termasuk kebutuhan stok awal sebelum operasi.
Bernardus menjelaskan proyek HPAL Pomalaa di Sulawesi Tenggara yang digarap bersama Huayou dan Ford menargetkan mechanical completion pada Agustus 2026, sehingga pasokan bijih untuk tahap awal perlu dipastikan sejak jauh hari.
“Jadi mudah-mudahan kami PT Vale bisa mendapatkan kesempatan untuk menajukan revisi RKAB dan mendapatkan volume yang cukup untuk memenuhi komitmen terhadap partner dan komitmen terhadap pemegang saham kami,” sebut Bernardus.
Baca Juga
Vale (INCO) Raih Persetujuan RKAB 2026, Operasi dan Investasi Digenjot
Kendati demikian, Bernardus tidak bisa membeberkan jumlah volume produksi yang diajukan PT Vale dalam RKAB 2026. Untuk saat ini, PT Vale menurutnya harus menyesuaikan kegiatan operasi dengan harapan nantinya mereka masih bisa mengajukan revisi.
“Tentu saja beda (volumenya dengan 2025). Karena kan skup kerja 2026 beda dengan 2025, terutama di proyek-proyek kita mengantisipasi pabrik-pabrik ini sudah mulai mau jadi nih di kuartal 3, kuartal 4, jadi pasti beda lah dengan 2025,” tegas dia.

