Menengok Strategi BP: Kembali Fokus ke Oil & Gas di Tengah Transisi Energi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Menengok strategi bisnis BP, langkah perusahaan minyak global ini menjadi pembelajaran penting soal bagaimana perusahaan energi menyesuaikan diri dengan tuntutan investor dan kondisi pasar. Pengamat energi yang juga mantan Wamen ESDM Arcandra Tahar menilai keputusan BP untuk kembali fokus ke oil and gas merupakan respons logis setelah lebih dari 20 tahun menekuni energi terbarukan dengan hasil finansial yang kurang memuaskan.
“Setelah beberapa tahun, BP menyadari renewable business menghasilkan return yang kecil, dan tingkat pengembalian investasi lebih lama. Di banyak negara, bisnis ini bergantung pada subsidi pemerintah dan regulasi yang berpihak. Tanpa itu, sulit berkembang,” ungkap Arcandra.
Baca Juga
Tambal Utang, BP Lepas 65% Saham Castrol ke Stonepeak Senilai US$6 Miliar
Strategi BP terbaru menunjukkan keseriusan perusahaan untuk meningkatkan kinerja finansial sekaligus menjaga posisi di industri energi global. Pertama, perusahaan mengganti CEO Murray Auchincloss dengan Meg O’Neill, yang sebelumnya memimpin Woodside Energy. Arcandra menyoroti, pergantian ini diharapkan dapat meyakinkan investor bahwa BP kembali fokus pada bisnis yang memberikan return tinggi.
Langkah kedua BP adalah melepas sebagian saham anak perusahaan yang return-nya rendah, salah satunya Castrol Lubricant yang dijual 65% sahamnya kepada Stonepeak, dengan harapan dana sekitar US$ 10 miliar bisa digunakan untuk mengurangi utang dan membeli aset upstream dan downstream yang lebih menguntungkan.
Ketiga, BP menambah aset-aset upstream dengan potensi return tinggi, seperti lapangan Atlantis Drill Center 1 di U.S. Gulf of Mexico. Aset ini relatif minim risiko karena BP sudah memiliki data operasional sebelumnya. “BP berharap di tahun 2026 akan terjadi kenaikan performa keuangan, kinerja operasi lebih baik, dan return yang memuaskan untuk investor,” tambah Arcandra.

