Penumpang Pesawat Periode Nataru Turun 2%, Ini Penyebabnya
Poin Penting
|
TANGERANG, investortrust.id - Jumlah penumpang pesawat pada periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 atau Nataru 2025/2026 tercatat mengalami penurunan tipis sekitar 2% dibandingkan periode Nataru sebelumnya.
Wakil Direktur Utama PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) atau Injourney Airports Achmad Syahrir memaparkan, selama periode Nataru yang berlangsung pada 15 Desember 2025 hingga 21 Januari 2026, perseroan memproyeksikan akan melayani sekitar 3,4 juta penumpang. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,3 juta penumpang diperkirakan berasal dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada periode puncak arus penumpang.
“Angkasa Pura Indonesia selama periode Nataru ini, 15 Desember sampai 21 Januari, itu kurang lebih akan melayani 3,4 juta penumpang. Khusus untuk Soekarno-Hatta saja sekitar 1,3 juta penumpang di periode peak,” papar Achmad di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Senin (22/12/2025).
Baca Juga
Masuki Libur Nataru, Kemenhub Temukan 27 dari 85 Bus di Tol Jagorawi Tak Laik Jalan
Ia menambahkan, pergerakan pesawat di Bandara Soekarno-Hatta pada periode puncak diperkirakan mencapai sekitar 7.000 pergerakan. Meski demikian, Achmad menyebut jumlah penumpang pesawat pada periode Nataru tahun ini turun sekitar 2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Kalau kita lihat dari penumpang, memang ada penurunan dibandingkan tahun sebelumnya sekitar 2%. Ini juga mungkin dilihat dari kondisi cuaca,” ungkap dia.
Menanggapi penurunan tren tersebut, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyebutkan, kondisi cuaca yang belum menentu dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan masyarakat untuk bepergian.
“Bisa jadi ini juga ada kekhawatiran atau jaga-jaga melihat kondisi cuaca yang mungkin dianggap belum menentu,” ujar AHY.
Baca Juga
Penjualan Tiket Nataru KAI Tembus 2,44 Juta dengan Okupansi 69,8%
AHY menegaskan sektor penerbangan sangat bergantung pada kondisi cuaca, sehingga aspek keselamatan menjadi perhatian utama.
“Begitu pula di sektor penerbangan karena memang sektor penerbangan ini sangat bergantung juga pada kondisi cuaca. Tapi sekali lagi terlalu dini untuk saya simpulkan apa yang menyebabkan hal itu,” kata AHY.

