Minyak Lapangan Tua Masih Berharga, Pertamina Hulu Rokan Buktikan dengan CEOR
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) menghadirkan penerapan teknologi chemical enhanced oil recovery (CEOR) untuk meningkatkan produksi minyak dari lapangan tua yang selama ini sulit dioptimalkan dengan metode konvensional. Inovasi ini menjadi bagian upaya menjaga ketahanan energi nasional di tengah tantangan penurunan produksi migas, dengan target peningkatan perolehan minyak yang signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
CEOR adalah metode peningkatan perolehan minyak dengan injeksi bahan kimia khusus ke dalam reservoir. Teknologi ini dirancang untuk mengekstraksi sisa minyak yang masih tersimpan di lapangan tua, tetapi tidak dapat keluar secara optimal dengan teknologi injeksi air biasa.
Sebagai pelopor penerapan CEOR skala komersial di Indonesia, PHR menginjeksikan kombinasi tiga bahan kimia berupa alkali, surfaktan, dan polimer atau dikenal sebagai metode ASP. Ketiga bahan tersebut bekerja simultan di dalam reservoir untuk menyapu minyak dari pori-pori batuan dan mengalirkannya ke sumur produksi.
"PHR akan melaksanakan injeksi perdana ASP skala komersial pada Selasa (23/12/2025)," kata Vice President Secondary & Enhanced Oil Recovery PHR Regional 1 Syaiful Ma’arif dalam keterangannya, Minggu (21/12/2025).
Dia mengatakan, peningkatan produksi diperkirakan mulai terlihat pada pertengahan 2026, dengan target tambahan mencapai 2.800 barel per hari pada puncak produksinya.
Uji coba lapangan dilakukan melalui proyek Surfactant Extended Stimulation (SES) di Lapangan Balam South, Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Injeksi berhasil dilakukan pada Juli 2025 dan menunjukkan peningkatan produksi yang signifikan, sehingga menjadi dasar pengembangan ke tahap yang lebih besar.
Baca Juga
Lapangan Minas di Wilayah Kerja Rokan telah berproduksi sejak 1952 dan termasuk dalam kategori lapangan tua. Meski demikian, lapangan ini masih menyimpan potensi cadangan minyak yang besar di bawah permukaan. Melalui penerapan teknologi CEOR, PHR menargetkan tambahan tingkat perolehan minyak sekitar 12-16% dari original oil in place (OOIP).
“Sukses CEOR di Lapangan Minas membuktikan bahwa teknologi mampu memperpanjang usia produksi lapangan tua sebagai kontribusi terhadap produksi migas nasional,” kata dia.
Ia menjelaskan, penerapan teknologi CEOR dalam skala penuh membutuhkan dukungan dan kerja sama yang solid dari berbagai pihak. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, Pertamina, serta masyarakat menjadi kunci agar proyek dapat berjalan berkelanjutan dan memberikan manfaat optimal bagi negara.
Program Chemical Enhanced Oil Recovery tidak hanya diposisikan sebagai terobosan teknologi, tetapi juga sebagai bagian dari strategi nasional menjaga ketahanan energi. Dengan memaksimalkan cadangan minyak di lapangan tua, teknologi ini diharapkan mendekatkan Indonesia pada target produksi 1 juta barel minyak per hari pada 2030.
Selain berdampak pada peningkatan produksi, teknologi CEOR juga membawa nilai keberlanjutan. Pemanfaatan infrastruktur yang sudah ada memungkinkan proyek dijalankan lebih efisien, sekaligus memaksimalkan perolehan minyak dari lapangan yang telah terbukti cadangannya.
Keberhasilan proyek CEOR di Lapangan Minas berpotensi menjadi tonggak penting bagi industri hulu migas nasional. Penerapan teknologi serupa di lapangan-lapangan lain di Indonesia diharapkan dapat mengikuti, sekaligus menegaskan bahwa inovasi lokal mampu menjawab tantangan strategis nasional.
Baca Juga
Mantan Pejabat Kilang Pertamina Indonesia Bantah Ada Hubungan dengan Kerry Riza soal Sewa Kapal
Bahan ASP
Sementara surfaktan berfungsi menurunkan tegangan antar-muka antara minyak dan air sehingga minyak terlepas dari batuan reservoir. Polimer kemudian bertindak sebagai penyapu yang mendorong minyak yang telah terlepas agar mengalir menuju sumur. Sementara itu, alkali membantu mengurangi penyerapan surfaktan dan polimer oleh batuan reservoir sehingga efisiensi proses meningkat. "Dengan mekanisme ini, produksi minyak diharapkan meningkat secara signifikan dibandingkan metode konvensional," kata dia.
Menariknya, surfaktan utama yang digunakan dalam teknologi CEOR PHR merupakan hasil inovasi perwira Pertamina yang dikembangkan di Laboratorium PHR. Bahan ini berbasis petroleum sulfonate dan dikembangkan melalui sinergi dengan PT Pertamina Lubricants (PTPL) sebagai mitra teknis, mulai pengadaan bahan baku, proses blending, quality assurance dan quality control, hingga pengiriman ke lokasi proyek. Surfaktan tersebut telah melalui serangkaian uji coba di laboratorium maupun di lapangan.

