Sanksi Rusia dan Venezuela Topang Harga Minyak
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga minyak dunia menguat tipis pada Kamis (18/12/2025) seiring investor mencermati potensi sanksi lanjutan Amerika Serikat (AS) terhadap Rusia serta risiko gangguan pasokan akibat rencana blokade kapal tanker minyak Venezuela. Sentimen geopolitik tersebut menahan tekanan penurunan harga dan memberi dukungan jangka pendek pada pasar energi global.
Harga minyak mentah Brent acuan global naik 14 sen atau 0,23% dan ditutup di level US$ 59,82 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 21 sen atau 0,38% ke posisi US$ 56,15 per barel.
Pelaku pasar menilai risiko pasokan meningkat setelah muncul kekhawatiran terganggunya ekspor minyak Venezuela. Wakil Presiden Senior Perdagangan BOK Financial, Dennis Kissler, mengatakan pasar berjangka minyak berupaya mencari pijakan dari isu tersebut.
“Harga minyak mentah berjangka mencoba mencari dukungan dari blokade ekspor minyak Venezuela, yang jika berlanjut kemungkinan akan menyebabkan produksi di wilayah tersebut terhenti tanpa tujuan pengiriman,” kata Kissler dilansir CNBC.
Baca Juga
Pemerintah Sudah Punya Strategi Bidik 'Lifting' Minyak 2026 Sebesar 610.000 BOPD, Ini Caranya
Selain Venezuela, perhatian investor juga tertuju pada Rusia. Pada Rabu (17/12/2025), Bloomberg melaporkan bahwa Amerika Serikat sedang menyiapkan sanksi tambahan terhadap sektor energi Rusia jika Moskwa tidak menyetujui kesepakatan damai dengan Ukraina, mengutip sumber yang mengetahui pembahasan tersebut. Namun, seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada Reuters bahwa Presiden AS Donald Trump belum mengambil keputusan terkait sanksi baru terhadap Rusia.
Kissler menilai ketidakpastian tersebut berpotensi memperketat pasokan global. “Jika kesepakatan damai Rusia/Ukraina tidak tercapai, serangan terhadap Rusia dapat meningkat, dengan cepat memperketat pasokan, dan jika ditambah blokade minyak Venezuela, harga minyak mentah mungkin akan sedikit lebih rendah dari nilai sebenarnya,” ujarnya.
Analis ING dalam catatan risetnya menyebut langkah tambahan yang menargetkan minyak Rusia dapat menimbulkan risiko pasokan lebih besar bagi pasar dibandingkan pengumuman Trump sebelumnya terkait rencana pemblokiran kapal tanker yang terkena sanksi dari dan menuju Venezuela. Menurut ING, tekanan pasokan dari Rusia memiliki dampak lebih luas mengingat peran negara tersebut sebagai salah satu eksportir energi utama dunia.
Di Eropa, Inggris telah memberlakukan sanksi terhadap 24 individu dan entitas dalam rezim sanksi Rusia, termasuk perusahaan minyak Rusia Tatneft. Informasi tersebut disampaikan Pemerintah Inggris pada Kamis sebagai bagian respons lanjutan terhadap konflik geopolitik yang masih berlangsung.
Sementara blokade terhadap Venezuela diperkirakan dapat memengaruhi ekspor minyak negara tersebut hingga 600.000 barel per hari, dengan sebagian besar pengiriman ditujukan ke China. Namun, ekspor sekitar 160.000 barel per hari ke Amerika Serikat diperkirakan masih berlanjut. ING mencatat kapal-kapal milik Chevron tetap berangkat ke Amerika Serikat berdasarkan otorisasi yang sebelumnya telah diberikan Pemerintah AS.
Baca Juga
Sidak Bahan Pokok Jelang Nataru, Mendag Pastikan Stok Beras dan Minyak Goreng Aman
Penerapan teknis blokade tersebut masih menjadi tanda tanya. Pekan lalu, penjaga pantai Amerika Serikat mengambil langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan menyita sebuah kapal tanker minyak Venezuela. Sejumlah sumber menyebutkan Washington sedang mempersiapkan langkah pencegahan serupa dalam waktu dekat.
Secara global, minyak mentah Venezuela menyumbang sekitar 1% dari total pasokan dunia. Meski relatif kecil, potensi gangguan pasokan dinilai cukup untuk memengaruhi sentimen pasar yang saat ini sangat sensitif terhadap isu geopolitik.
Analis Bank of America memperkirakan harga minyak yang lebih rendah justru dapat mengurangi pasokan dalam jangka menengah. Mereka memperkirakan jika harga WTI rata-rata berada di level US$ 57 per barel pada 2026, sesuai proyeksi internal, produksi minyak serpih AS berpotensi menyusut hingga 70.000 barel per hari.

