Harga Emas dan Perak Naik, Apa yang Bikin Pasar Logam Gila-gilaan?
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harga emas naik pada Kamis (11/12/2025) ke level tertinggi dalam lebih dari satu bulan setelah Federal Reserve Amerika Serikat (The Fed) menurunkan suku bunga seperempat poin, yang menekan nilai dolar AS dan mendorong reli logam mulia. Pada saat yang sama, harga perak meroket mendekati rekor tertingginya.
Harga emas spot naik 1,2% menjadi US$ 4.280,08 per ons atau sekitar Rp 71,40 juta per ons (kurs Rp 16.680). Level ini merupakan yang tertinggi sejak 21 Oktober. Kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Februari ditutup 2,1% lebih tinggi pada US$ 4.313 per ons atau sekitar Rp 72 juta per ons.
Kenaikan lebih tajam terjadi pada perak. Harga perak spot melonjak hampir 4% menjadi US$ 64,22 per ons, setara dengan Rp 1,07 juta per ons, mendekati rekor tertinggi US$ 64,31 per ons yang dicapai pada sesi perdagangan sebelumnya.
Baca Juga
The Fed Potong Suku Bunga, Emas Antam (ANTM) Langsung 'Ngegas'
Analis Marex, Edward Meir mengatakan kenaikan perak memicu reli yang lebih luas di pasar logam mulia. “Perak mendorong harga emas naik, dan juga mendorong harga platinum dan paladium, banyak momentum di baliknya,” ujar Meir dilansir CNBC.
Dolar AS melemah ke level terendah 8 minggu terhadap sekeranjang mata uang utama dunia. Pelemahan dolar membuat harga emas yang dikutip dalam dolar menjadi lebih terjangkau bagi pembeli non-AS, sehingga meningkatkan permintaan.
Meir menambahkan pelemahan dolar dan kebijakan suku bunga longgar menciptakan ruang bagi kenaikan emas lebih lanjut. “Inflasi sebenarnya belum kembali ke target 2% The Fed, jadi, ketika Anda menurunkan suku bunga dalam lingkungan inflasi yang masih belum optimal, dan itu sangat menguntungkan bagi emas,” ujarnya.
Federal Reserve pada Rabu (11/12/2025) kembali memangkas suku bunga seperempat poin, pemotongan ketiga secara berturut-turut sepanjang tahun ini. Para pembuat kebijakan mengisyaratkan kemungkinan jeda pemangkasan berikutnya sambil memantau pasar tenaga kerja dan inflasi yang dinilai “masih agak tinggi”.
Di sisi politik, Presiden AS Donald Trump terus mendorong penurunan suku bunga sejak awal masa jabatan keduanya pada Januari. Calon yang diajukan untuk posisi ketua Federal Reserve berikutnya diperkirakan akan mempertahankan sikap tersebut. Penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett kini dipandang sebagai kandidat terkuat.
Baca Juga
Net Buy Melambung Rp 1,35 Triliun, Pemodal Asing Borong Saham IMPC hingga EMAS
Pelaku pasar kini menunggu laporan tenaga kerja non-farm payrolls Amerika Serikat yang akan dirilis pada 16 Desember. Data tersebut menjadi indikator penting arah kebijakan moneter The Fed dalam beberapa bulan ke depan.
Sementara itu, regulator dana pensiun India pada Rabu memberikan izin investasi pada exchange-traded fund (ETF) emas dan perak untuk dana pensiun negara. Kebijakan ini diperkirakan meningkatkan permintaan logam mulia dari pasar Asia Selatan.

