“Laborare ex Oratione”, Kerja Adalah Buah dari Doa, Catatan Ulang Tahun ke-82, Theodore Permadi (TP) Rachmat
Poin Penting
| ● | Nilai kerja TP Rachmat menekankan tanggung jawab moral demi keluarga dan masyarakat. |
| ● | Perjalanan karier Teddy dari salesman hingga membangun Triputra menjadi teladan integritas. |
| ● | Prinsip “laborare ex oratione” menjadi benang merah hidup, bisnis, dan pengabdian sosialnya. |
JAKARTA, Investortrust.id— Pada suatu hari, ia mengumpulkan anak-anaknya dan bertanya, “Mana yang diutamakan, pekerjaan atau keluarga?”
Anak-anaknya kompak menjawab, “Keluarga!” “Tidak benar. Yang harus diutamakan adalah pekerjaan!” jawabnya.
Semua terdiam. Masak Papa menjungkirbalikkan sesuatu yang sudah menjadi keyakinan manusia pada umumnya. Demikian kata anak-anaknya dalam hati.
“Mengapa bukan keluarga, tapi justru pekerjaan yang harus didahulukan?” tanya seorang anak.
“Kalau kalian tidak bekerja, kalian tidak bisa menafkahi keluarga. Tanpa nafkah, keluarga akan berantakan, dampaknya akan sangat luas,” jelas sang Bapak.
Demikian sekilas cerita dari Theodore Permadi (TP) Rachmat, pendiri dan chairman Triputra Group pada suatu kesempatan dekade lalu. Ia sama sekali tidak menomorduakan keluarga. Dengan cerita itu, Pak Teddy —begitu ia biasa disapa— hendak menekankan pentingnya kerja dalam hidup manusia.
Dengan mengajukan pertanyaan fundamental tentang keluarga dan pekerjaan, Pak Teddy ingin anak-anaknya menjadi petarung. “Anak-anak saya harus membuktikan diri. Tidak ada karpet merah di perusahaan,” katanya.
Sebagai orang yang berwawasan luas, berpengalaman, beriman, dan bijak, Pak Teddy tahu persis bahwa keluarga adalah sumber identitas, kasih, dan dukungan emosional. Sedang pekerjaan adalah sarana, bukan tujuan hidup. Pekerjaan dapat diganti. Tidak demikian dengan keluarga.
Pekerjaan adalah sumber nafkah, sarana membangun harga diri dan martabat, alat pengabdian kepada masyarakat luas, dan wahana membangun bangsa dan negara. Tanpa pekerjaan, keluarga tidak dapat berjalan dengan baik. Pekerjaan adalah tanggung jawab moral demi keberlangsungan keluarga.
Baca Juga
Triputra Group Apresiasi Peresmian Gedung Paramadina Kampus Cipayung
Keluarga adalah institusi paling dasar dalam hidup manusia. Pekerjaan adalah tugas, tetapi keluarga adalah cinta. Keluarga adalah tujuan, sedang pekerjaan adalah alat untuk menopangnya. Keduanya saling terkait, bukan saling meniadakan.
Dengan menyatakan hadur diutamakannya pekerjaan, Pak Teddy hendak mendorong anak-anaknya membangun perusahaan dengan serius dan melaksanakan pekerjaan secara all out.
Kerja dan pekerjaan memiliki makna sangat tinggi dalam kehidupan manusia. Kita acap mendengar peribahasa Latin “Ora et labora,” “Berdoalah dan bekerjalah.” Keduanya berjalan bersama-sama. Keduanya sama penting.
Ada juga pepatah Latin lain, “Laborare est orare,” “Bekerja adalah berdoa.” Setiap pekerjaan yang dilakukan dengan cinta dan ketulusan menjadi doa itu sendiri. Kerja bukan hanya kegiatan duniawi, tetapi tindakan ibadah jika dilakukan demi kasih kepada Allah dan sesama.
Tapi, ada juga pepatah Latin lainnya, “Laborare ex oratione,” “Bekerja adalah buah dari doa.” Kerja menjadi buah doa, bukan ambisi pribadi. Doa menjadi napas kerja: memberi ketenangan, keikhlasan, dan arah moral. Kerja menjadi bentuk pelayanan, bukan sekadar mencari hasil, tetapi menjadi sarana kasih.
Maka, orang yang hidup dalam semangat laborare ex oratione akan bekerja dengan hati yang berdoa, dan berdoa dengan tangan yang bekerja. Seorang Kristiani dipanggil untuk menjadi saksi kasih Allah lewat kerja yang lahir dari doa.
Nilai hidup ini sudah dijalankan Pak Teddy. Di usianya yang ke-82, tanggal 5 Desember 2025, ia sudah menjalani nilai ini: laborare ex oratione. Kerja keras yang sudah ia tunjukkan dan perusahaan yang sudah ia bangun adalah buah dari doa.
Dengan lapangan kerja yang ia ciptakan, kerja bukan lagi sekadar untuk menafkahi keluarga, melainkan menghidupi banyak orang, sesama yang membutuhkan pekerjaan. Hidup yang berarti adalah hidup yang berdampak positif kepada sesama dan dampak positif itu sudah ditunjukkan Pak Teddy. Saat ini, karyawan yang bekerja di Triputra Group sudah lebih dari 60.000 orang.
Jika satu karyawan menanggung tiga anggota keluarga, maka ada 180.000 orang yang langsung menggantungkan hidupnya dari perusahaan yang ia dirikan. Ini belum termasuk tenaga kerja yang terserap perusahaan yang berada di backward linkage dan foreward linkage dari grup usaha yang terdiri atas lima lini bisnis ini.
Lapangan Kerja
Angka pengangguran dan kemiskinan yang saat ini dialami Indonesia bersumber dari minimnya lapangan pekerjaan. Pada Agustus 2025, pengangguran terbuka di Indonesia 7,5 juta atau setara 4,85%. Pada periode yang sama, 59,4% pekerja Indonesia ada di sektor informal. Hanya 42,20% tenaga kerja yang bekerja di sektor formal.
Kelas menengah yang tangguh tidak lahir dari sektor informal, melainkan dari sektor formal. Indonesia membutuhkan lahirnya entrepreneur baru. Pada tahun 2024, jumlah wirausaha Indonesia baru sekitar 3,2% dari jumlah penduduk, berada di bawah Malaysia (4,7%) dan Singapura (8,5%). Wirausahawan di AS dan negara maju lainnya sudah di atas 12%.
Baca Juga
Triputra Agro (TAPG) Raih Penghargaan The Best Six Investortrust Companies 2025
Pak Teddy memulai kariernya tahun 1968 di PT Astra International Tbk sebagai salesman. Pria kelahiran Majalengka, Jawa Barat, pada 5 Desember 1943 itu memulai karier dari bidang yang menuntut kesabaran, ketekunan, dan kemampuan memahami manusia. Melihat latar belakang pendidikannya di Institut Teknologi Bandung (ITB), Jurusan Teknik Mesin, orang akan mengatakan, mestinya Pak Teddy bekerja di bagian permesinan, PT Toyota Astra Motor.
Dengan kemampuan komunikasi, negosiasi, dan persuasi yang ia peroleh dari lapangan sebagai salesman, kariernya terus menanjak perlahan. Ditopang oleh kesederhanaan dan kerendahan hati, Pak Teddy dipercaya memimpin PT United Tractors tahun 1972. Di tangannya, United Tractors berubah menjadi raksasa distribusi alat berat dan salah satu anak usaha Astra paling menguntungkan.
Puncak kariernya tiba pada 1984, ketika ia diangkat menjadi Presiden Direktur PT Astra International Tbk. Di bawah kepemimpinannya, Astra bukan hanya tumbuh, tetapi juga menjadi perusahaan modern Indonesia dengan standar operasional dan tata kelola yang diperhitungkan di Asia. Keberhasilannya di Astra menjadi bukti bahwa integritas, disiplin, dan kerja keras tetap relevan di dunia bisnis yang kompetitif.
Setelah dua dekade memberikan yang terbaik bagi Astra, Pak Teddy mengambil langkah berani: pensiun lebih awal dan memulai bisnisnya sendiri. Pada tahun 1998, saat Indonesia berada di puncak krisis ekonomi, ia mendirikan PT Triputra Investindo Arya, yang hingga kini menjadi induk Triputra Group. Adira Mobil dan Adira Finance, dua perusahaan yang sebelumnya dimiliki oleh ayahnya, dijadikan satu. Di bawah kepemimpinannya, Adira Finance tumbuh pesat dan membuatnya menjadi salah satu perusahaan pembiayaan terbaik di Indonesia. Pada tahun 2004, Adira Finance dijual kepada PT Bank Danamon Tbk dengan tujuan pengembangan dan rencana diversifikasi masa depan dari Triputra Group.
Triputra Group kini mempekerjakan lebih dari 60.000 karyawan dan mengelola lima lini bisnis. Kelima lini bisnis itu adalah (1) agribisnis (Triputra Agro Persada dan Kirana Megatara Group, Sumber Energi Pangan, dan Kedai Pangan), (2) manufaktur (Dharma Group dan Binabusana Internusa), (3) energi (Triputra Visi Energi, Triputra Energi Megatara, Triputra Solusi Terpadu, Armada Bahtera Semesta, ATW Solar Indonesia, dan juga menjadi salah satu pemegang saham di Adaro Energy), (4) perdagangan & jasa (Adi Sarana Armada dan Puninar Logistics), dan (5) pendidikan & teknologi.
Di usia yang sudah 82, Pak Teddy sesekali ke kantor. Tidak ada jabatan khusus untuknya selain predikat sebagai founder Triputra Group. Ketiga anaknya —Ayu Rachmat, Christian Ariano Rachmat, dan Arif Rachmat— sudah mampu menjalankan usaha berkat pendidikan dan kepemimpinannya.
Kepemimpinan dan Kemanusiaan
Salah satu ciri khas kepemimpinan Pak Teddy adalah non-nepotisme. Di Triputra, tidak ada “kursi keluarga”. Anak-anaknya harus mulai dari bawah dan membuktikan kompetensi sebelum diberi tanggung jawab.
Pak Teddy adalah sosok yang sangat tegas, tetapi jauh dari otoriter. Tegas dalam standar, tegas dalam etika, tegas dalam disiplin. Namun ia sangat menghargai manusia sesuai dengan filosofinya: “Less for self, more for others.” “Lebih sedikit untuk diri sendiri, lebih banyak untuk orang lain.”
Ia percaya bahwa perusahaan yang besar bukan dibangun oleh satu orang, tetapi oleh karakter dan kompetensi ribuan karyawan yang setiap hari bekerja dalam senyap. Dalam kepemimpinannya, ia menekankan proses yang baik, disiplin yang konsisten, strategi yang jelas, dan perbaikan yang tidak pernah berhenti.
Baca Juga
Politik Pendidikan, Peningkatan Industri dan Kesejahteraan: Terobosan Triputra
Triputra bahkan memiliki semboyan: “Excellence Through People and Process.” Nilai-nilai Triputra dijaga seperti warisan keluarga, bukan demi romantisme, tetapi sebagai pedoman hidup profesional.
Di balik ketegasan itu, ada sisi lembut yang mengakar kuat pada diri Pak Teddy, yakni kepedulian terhadap sesama. Ia dan istrinya mendirikan Yayasan Pelayanan Kasih A & A Rachmat, yayasan yang aktif di bidang pendidikan, kesehatan, bantuan sosial, dan pelayanan kemanusiaan. Yayasan ini berperan aktif dalam penanganan pandemi Covid-19.
Triputra juga mengembangkan Yayasan Triputra Persada Horizon Education, yang menjadi payung bagi penyelenggaraan pendidikan modern seperti Horizon University Indonesia. Yayasan ini, antara lain, mengelola Kalbis University.
Triputra Group menunjukkan komitmen kuat pada pendidikan dan Corporate Social Responsibility (CSR). Melalui yayasan dan anak usahanya seperti Dharma Group, ASSA Group, Kirana Megatara, Triputra Group aktif dalam kegiatan CSR, termasuk donasi, dukungan kesehatan, dan program pengembangan sumber daya manusia.
Bagi Pak Teddy, keberhasilan bisnis tidak lengkap tanpa pengabdian sosial. Program sosialnya berjalan dalam senyap, tanpa sorotan berlebih, sesuai filosofi hidupnya yang menolak pamer.
Sukses Pak Teddy tak lepas dari pendidikan di keluarga. Berasal dari keluarga sederhana yang menjunjung tinggi nilai kerja keras dan kejujuran, ia menempuh jalan sulit untuk mencapai cita-cita. Seorang insinyur mesin menjadi salesman bukan hal mudah. Tapi, karena tekadnya yang kuat, ia mampu beradaptasi dan terus menapak menuju puncak.
Pak Teddy adalah contoh bagaimana kesederhanaan dapat berjalan bergandengan dengan visi besar. Ia membuktikan bahwa kesuksesan tidak harus lahir dari privilese, tetapi dari karakter. Dari seorang salesman muda di tahun 1968, ia berubah menjadi salah satu tokoh industri paling berpengaruh di Indonesia.
Namun hingga hari ini, kesan yang paling melekat tentang dirinya bukanlah kekayaannya, melainkan integritas, kerendahan hati, dan komitmen untuk memberi manfaat bagi banyak orang.
Warisan terbesarnya bukan Triputra, bukan Adaro, bukan Astra, melainkan nilai-nilai yang ia tinggalkan: bekerja sungguh-sungguh, memperlakukan manusia dengan hormat, dan memberikan lebih banyak kepada dunia daripada yang kita ambil darinya.
Di sepanjang perjalanan hidupnya, Pak Teddy menunjukkan bahwa kerja bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan panggilan moral yang lahir dari doa dan nilai-nilai batin. Prinsip laborare ex oratione —bahwa pekerjaan adalah buah dari doa— tampak jelas dalam kesungguhan, integritas, dan ketekunannya membangun Astra, Triputra, serta berbagai inisiatif kemanusiaan yang ia jalankan. Dalam pandangannya, pekerjaan bukanlah lawan dari keluarga, melainkan sarana untuk menopang dan meneguhkan keluarga, karena hanya melalui kerja yang bertanggung jawab seseorang dapat menghidupi orang-orang yang dikasihi dan memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Nilai kerja yang ia tanamkan tidak terlepas dari pandangan humanis dan spiritual yang ia hidupi: bahwa setiap pekerjaan yang dilakukan dengan cinta dan ketulusan menjadi doa itu sendiri. Karena itu, bagi Pak Teddy, kerja adalah jalan pengabdian. Ia meyakini bahwa perusahaan tidak dibangun oleh satu orang, melainkan oleh karakter, proses, dan komitmen ribuan insan yang bekerja dalam diam. Dari prinsip non-nepotisme, disiplin yang konsisten, hingga kepedulian sosial yang dijalankan tanpa hiruk-pikuk, semuanya menunjukkan bahwa kerja baginya bukan sekadar mencari hasil, tetapi menjadi wujud kasih bagi sesama.
Dalam usia ke-82, nilai laborare ex oratione itu tampak sebagai benang merah seluruh perjalanan hidupnya. Kerja keras yang ia lakukan, perusahaan yang ia bangun, para pemimpin yang ia bentuk, lapangan kerja yang ia ciptakan, serta pelayanan sosial yang ia jalankan, semuanya adalah buah dari doa yang hidup dan doa yang bekerja. Warisan terbesar Pak Teddy bukan hanya Triputra atau perannya di Astra, melainkan nilai-nilai yang ia tinggalkan: bekerja dengan sungguh-sungguh, hidup dengan rendah hati, memperlakukan manusia dengan hormat, dan memberikan lebih banyak kepada dunia daripada yang diambil darinya. Nilai itulah yang akan terus menyala, melampaui usia dan zaman.

