Transisi Ekonomi Rendah Emisi Buka Peluang Investasi US$ 3,8 Triliun
JAKARTA, Investortrust.id – Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) memperkenalkan dokumen ringkasan terbaru berjudul “Peran Dunia Usaha dalam Mewujudkan Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia 2035”. Dokumen ini disusun bersama We Mean Business Coalition (WMBC) dan diperkenalkan dalam rangkaian Rapat Umum Tahunan Anggota IBCSD pada Rabu (3/12/2025).
Dokumen ringkasan yang disusun menyebut bahwa transisi ekonomi rendah emisi membuka peluang investasi hingga US$ 3,8 triliun.
Baca Juga
Pertamina Energy Terminal Kuatkan Implementasi ESG di Terminal Energi Nasional
"Lebih dari 100 perusahaan Indonesia telah menetapkan target net zero berdasarkan science based target," kata Direktur Eksekutif IBCSD, Indah Budiani dalam keterangannya, Jumat (5/12/2025).
Sebelumnya, dokumen ringkasan ini telah diluncurkan secara resmi di tengah momentum COP30 di Belém, Brasil yang menegaskan pentingnya komitmen iklim terbaru negara-negara menuju 2035.
Indonesia sendiri telah menetapkan Second Nationally Determined Contribution (SNDC) 2031–2035 yang selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) dan visi net-zero 2060. Namun, kebutuhan pendanaan transisi sangat besar, hingga mencapai US$ 757,6 miliar.
Indah mengatakan, persoalan struktural masih menghambat implementasi. RUPTL 2025-2034 menunjukkan komitmen untuk meningkatkan porsi energi terbarukan, tetapi tetap memperluas infrastruktur batu bara dan gas, sehingga memberi sinyal pasar yang beragam.
"Ketidakpastian regulasi, terbatasnya akses energi terbarukan bagi bisnis, dan belum adanya definisi nasional investasi hijau turut menahan arus investasi," kata Indah.
Kesimpulan dokumen ringkasan ini menegaskan bahwa keunggulan kompetitif Indonesia kini sangat bergantung pada kepastian bahwa NDC dapat diinvestasikan.
“Perusahaan-perusahaan Indonesia telah menunjukkan kesiapan untuk berinvestasi dalam dekarbonisasi dan selaras dengan tujuan iklim jangka panjang nasional," kata Indah
Baca Juga
Telkom Raih Penghargaan Asia ESG Positive Impact 2025 Berkat Program DigiUp
Namun, kata dia, perlunya modal yang besar untuk dekarbonisasi masih menjadi tantangan. "Kerangka implementasi yang jelas, terkoordinasi, memberikan kepastian, serta insentif fiskal dan pengembangan teknologi, bisa menjadi kunci dalam mewujudkan target NDC 2035,” sebut Indah.
Sementara peluncuran dokumen ini sekaligus mempertemukan pemerintah, dunia usaha, dan mitra pembangunan untuk membahas percepatan aksi iklim Indonesia.
Dalam acara ini, kata Indah, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menegaskan bahwa sektor swasta adalah penggerak utama ekonomi hijau Indonesia.
Perusahaan berperan sebagai penggerak adopsi teknologi rendah karbon, pendorong pertumbuhan rendah emisi, serta mitra strategis dalam pembiayaan iklim dan pengembangan pasar karbon.
Pemerintah kata dia, juga menyoroti berbagai kebijakan dan insentif yang sedang dipersiapkan untuk memudahkan investasi hijau.
CEO WMBC Maria Mendiluce, mengatakan jajak pendapat menunjukkan bahwa 88% pemimpin bisnis Indonesia menginginkan pemerintah beralih dari bahan bakar fosil menuju sistem ketenagalistrikan berbasis energi terbarukan pada tahun 2035.
"Ini memberikan sinyal yang jelas bahwa dunia usaha siap berinvestasi," kata Maria.
Dengan melaksanakan NDC 2035 melalui kebijakan yang jelas dan konsisten, Indonesia dapat membuka sumber-sumber baru pertumbuhan ekonomi, meningkatkan daya saing industri, dan memperkuat ketahanan energi.
Pada sesi dialog, tiga perusahaan anggota IBCSD mempresentasikan kontribusi mereka terhadap NDC. APRIL Group menunjukkan penerapan ekonomi sirkular dan energi bersih skala besar, termasuk target 90% energi terbarukan dan pengurangan signifikan limbah ke landfill.
Sementara Solusi Bangun Indonesia (SBI) entitas PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) group menampilkan langkah dekarbonisasi industri semen melalui bahan bakar alternatif, efisiensi proses, dan inovasi produk rendah karbon.
Adapun APP Sinar Mas menyoroti peran strategis program perlindungan hutan yang berkontribusi pada FOLU net sink Indonesia 2030 dan investasi berkelanjutan melalui program Regenesis.

