DBS Bank: Kebutuhan Investasi Pertambangan Capai US$ 3,5 Triliun dalam 10 Tahun, Indonesia Jadi Pemain Kunci Mineral Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – DBS Bank Ltd (Bank DBS) memprediksi kebutuhan investasi sektor pertambangan global mencapai US$ 3,5 triliun dalam satu dekade mendatang, dengan permintaan tertinggi sebanyak 25% datang dari Amerika Latin.
Besarnya kebutuhan dana investasi sejalan dengan permintaan logam diperkirakan tetap kuat, meski ekonomi global masih penuh tantangan.
Managing Director Global Head of Metals and Mining DBS Bank Ltd Mike Zhang menyampaikan hal tersebut dalam ajang The 4th Metal and Mining Forum 2025: Forging Global Connections yang digelar Bank DBS sebagai forum strategis bagi pelaku industri dari hulu hingga hilir di Jakarta, Kamis (27/11/2025). Agenda ini menjadi wadah berbagi pengetahuan, membahas regulasi terbaru, dan mendorong masuknya investasi asing langsung (FDI) ke Indonesia.
Mike Zhang memaparkan bahwa belanja modal sektor pertambangan masih terkonsentrasi pada komoditas tembaga sebesar 35%, emas 17%, diikuti batu bara 14%, dan bijih besi 12%. Menurutnya, komoditas tersebut tetap menarik di tengah tekanan geopolitik global.
Baca Juga
Freeport Targetkan Produksi 26 Ton Emas untuk Antam (ANTM) pada 2026
Indonesia, dengan kekayaan mineral seperti nikel, tembaga, dan bauksit, disebut memainkan peran kunci dalam rantai pasok industri masa depan, termasuk kendaraan listrik dan energi rendah karbon. Namun, dinamika geopolitik dan ketidakpastian pasar mendorong sektor pertambangan nasional memasuki fase transformasi yang semakin kompleks.
Pemerintah Indonesia telah menetapkan 47 komoditas sebagai mineral kritis karena penting bagi ekonomi dan pertahanan nasional. Komoditas ini memiliki risiko tinggi terhadap gangguan pasokan, namun menjadi fondasi transformasi teknologi global. Mineral kritis tersebut menyumbang 10–11% PDB nasional, sehingga hilirisasi menjadi strategi utama, terutama pada nikel, tembaga, dan bauksit.
Source:
Mike Zhang menegaskan bahwa fragmentasi pasar global, tarif impor AS terhadap mineral strategis, serta pembatasan ekspor logam tanah jarang oleh Tiongkok telah menciptakan distorsi harga dan menantang prinsip “hukum harga tunggal”. Hal itu juga memunculkan tantangan besar berupa trilemma energi: keterjangkauan, keandalan, dan keberlanjutan.
Sementara itu, Senior Economist DBS Bank Radhika Rao menilai bahwa sentimen industri dalam negeri terus membaik didorong oleh permintaan kuat dan peningkatan belanja pemerintah. Dengan ruang kebijakan yang masih tersedia, prospek pertumbuhan ekonomi dinilai tetap positif.
Baca Juga
Investasi KPBU di IKN Tembus Rp 158,73 Triliun, Siapa Saja Investornya?
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menjadi satu daru beberapa negara tujuan utama investasi dari Tiongkok dan Hong Kong. Investasi Tiongkok naik pesat dari US$ 0,6 miliar pada 2015 menjadi US$ 8,1 miliar pada 2024. Sepanjang 2019–September 2024, total investasi yang masuk mencapai US$ 34,19 miliar, atau sekitar 18% dari total FDI nasional, terutama pada sektor logam dan pertambangan.
Sementara itu, Head of Institutional Banking Group DBS Indonesia Anthonius Sehonamin menegaskan bahwa industri logam dan mineral tengah memasuki era yang menuntut efisiensi sumber daya, ketahanan rantai pasok, dan analisis pasar yang lebih presisi. Bank DBS berkomitmen menjadi mitra strategis pelaku usaha, tidak hanya melalui pembiayaan, tetapi juga analisis industri yang mendalam.
Dengan pengalaman luas di 14 sektor termasuk logam dan mineral, serta rekam jejak membiayai proyek strategis di koridor Tiongkok–ASEAN, Bank DBS Indonesia disebut siap mendukung transformasi industri nasional. Dukungan ini diperkuat oleh solusi digital RAPID dan IDEAL untuk mempermudah proses treasury dan trade, serta jaringan regional yang menghubungkan Indonesia ke arus investasi dan perdagangan global.

