Inalum Kejar Kapasitas Produksi 900.000 Ton Aluminium pada 2029
JAKARTA, investortrust.id – PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) mematok target ambisius untuk meningkatkan kapasitas produksi aluminium nasional dari 275.000 ton per tahun menjadi 900.000 ton pada 2029. Direktur Utama Inalum Melati Sarnita menegaskan bahwa peningkatan ini menjadi fondasi roadmap hilirisasi aluminium yang tengah dijalankan perusahaan.
Menurut Melati, lonjakan kapasitas hanya dapat dicapai melalui integrasi penuh dari hulu ke hilir, mencakup tambang bauksit, refinery alumina, dan smelter. “Inalum diarahkan menjadi perusahaan aluminium terintegrasi bertaraf internasional, dan peningkatan kapasitas menjadi 900.000 ton per tahun adalah fondasi utamanya,” ujarnya dalam RDP dengan Komisi VI DPR, Kamis (20/11/2025).
Baca Juga
Inalum Sebut Danantara Siap Biayai Proyek SGAR Tahap II Senilai Rp 13,36 Triliun
Dua proyek kunci yang menopang kebutuhan bahan baku alumina adalah Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah Fase 1 dan Fase 2. Fase 1 berkapasitas 1 juta ton ditargetkan COD pada akhir 2024, sedangkan Fase 2 menambah kapasitas 1 juta ton lagi dengan target COD 2028. Anak usaha Inalum, PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), telah memasuki tahap komisioning dan mengirim hampir 150.000 ton alumina untuk smelter Kuala Tanjung, dengan kapasitas penuh 1 juta ton diharapkan pada 2026.
Pilar utama untuk mencapai target 900.000 ton adalah pembangunan New Aluminium Smelter Mempawah berkapasitas 600.000 ton per tahun. Proyek ini membutuhkan pasokan listrik 932 MW dan Inalum berharap PLN dapat menyediakan hingga 1,2 GW agar operasional smelter andal. Smelter ini ditargetkan rampung pada 2029.
Baca Juga
Kebutuhan Listrik Inalum untuk Smelter Baru dan Ekspansi Kuala Tanjung Capai 1,6 GW
Selain itu, Inalum menyiapkan peningkatan kapasitas di smelter Kuala Tanjung melalui pembangunan potline ke-4 dan optimalisasi smelter eksisting. Tambahan kapasitas mencapai 100.000–245.000 ton aluminium dengan jadwal pengembangan 2029–2031. Kebutuhan listrik naik bertahap, dari 209 MW pada 2029 menjadi 406 MW pada 2031 saat kapasitas produksi penuh 520.000 ton.
Melati menegaskan bahwa ekspansi besar ini penting untuk memenuhi permintaan aluminium nasional yang melonjak hingga 600% dalam 30 tahun terakhir, terutama didorong industri kendaraan listrik (EV), baterai, dan energi terbarukan. Saat ini, pasar domestik hanya menyerap 46% produk Inalum, sementara 54% kebutuhan aluminium primer masih dipenuhi impor. “Pembangunan smelter dan refinery menjadi sangat krusial agar kita tidak terus bergantung pada impor,” tegasnya.

