ASEAN Bisa Tertinggal? Groq Ingatkan Negara dengan Energi Mahal Susah Bangun Infrastruktur AI
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ekspansi investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kian bergeser ke kawasan dengan biaya energi kompetitif. CEO Groq Jonathan Ross menegaskan, negara di ASEAN yang memiliki harga listrik mahal akan kesulitan membangun kapasitas komputasi AI berskala besar.
“Infrastruktur AI membutuhkan konsumsi daya besar dan tidak bisa diakali. Negara dengan energi mahal akan kesulitan membangun AI compute,” ujar Ross dalam acara webinar Equinix x Groq, di Jakarta, Senin (17/11/2025).
Baca Juga
TelkomGroup Kembangkan Hyperscale Data Center Berbasis AI, Batam Siap Jadi Hub Digital Asia Tenggara
Menurutnya, efisiensi energi menjadi faktor utama dalam persaingan global industri AI, bahkan lebih menentukan daripada insentif fiskal atau ketersediaan talenta. Groq dengan Equinix saat ini juga memperluas jaringan pusat komputasi berlatensi rendah di Australia dan Asia-Pasifik, termasuk negara-negara ASEAN yang tengah mendorong adopsi AI untuk perbankan, layanan publik, dan manufaktur.
Ekspansi Equinix membantu memastikan kepatuhan terhadap regulasi data masing-masing negara, sekaligus menawarkan latency rendah yang dibutuhkan aplikasi real-time. Ross juga menepis anggapan bahwa lonjakan investasi AI berpotensi menjadi gelembung.
“Investasi AI masih sangat kecil dibandingkan ukuran ekonomi global. Infrastruktur ini berumur panjang dan efek produktivitasnya jauh lebih besar dari nilainya,” tegasnya.
Ia menilai kebutuhan komputasi akan melonjak tajam dalam 3 tahun ke depan, terutama untuk inferensi AI real-time.
Baca Juga
Saham Data Center hingga Komoditas Jadi Penopang Utama Penguatan IHSG 2025
Di sisi lain, negara-negara ASEAN yang masih bergantung pada energi mahal berpotensi tertinggal dalam kompetisi membangun AI compute hub regional. Groq menilai bahwa akses listrik murah, data center efisien, dan regulasi data modern akan menjadi kunci pemenang di era percepatan adopsi AI.
Pada kesempatan yang sama, Groq dan Equinix juga memilih Australia untuk mengembangkan infrastruktur AI di daerah kawasan. Negeri Kangguru dinilai memiliki suplai energi stabil, standar pusat data kuat, dan dukungan kebijakan yang sejalan dengan rencana pemerintah merilis National AI Strategy akhir tahun ini.

