Biaya Listrik Jadi Tantangan Utama Penambangan Kripto di Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Penambangan kripto terus menarik perhatian investor di Indonesia, tetapi biaya listrik tetap menjadi tantangan utama. Konsumsi energi penambangan sangat bergantung pada jenis mesin yang digunakan, mulai central processing unit (CPU), graphics processing unit (GPU), hingga ASIC, dengan masing-masing memiliki efisiensi dan kapasitas berbeda.
Menurut Egi Sukandar, penambang kripto berpengalaman, secara umum ada beberapa kategori skala penambang yang sangat tergantung dari kapasitas perangkat, tujuan, modal, dan konsumsi daya listrik. Pertama adalah penambang mini (mini miner), yakni skala kecil atau rumahan. Ciri-cirinya, hanya pakai 1–6 GPU, atau bahkan cuma 1 PC dengan CPU/GPU kuat. Lokasinya bisa rumah, kamar, atau garasi tanpa infrastruktur khusus. Daya listriknya 500 – 2.000 watt.
Baca Juga
"Mesin CPU relatif hemat listrik karena ukurannya kecil dan hashrate yang dihasilkan juga terbatas. Yang dimaksud mining CPU itu kayak mining pakai mesin PC (personal computer) atau laptop, ada juga sekarang yang produksi mesin mining dari STB (set top box) bekas," kata Egi saat dihubungi Investortrust.id, Rabu (12/11/2025).
Adapun hashrate adalah ukuran seberapa cepat sebuah perangkat (CPU, GPU, ASIC) dapat melakukan proses perhitungan kriptografi yang diperlukan untuk mining cryptocurrency.
Kedua adalah farm mining (skala menengah) berupa rig-rig GPU dan ASIC yang dirakit dan dijalankan di ruang khusus dengan ventilasi dan pendingin. Adapun konsumsi dayanya 5 – 50 kW.
"GPU membutuhkan daya lebih besar, karena rata-rata satu motherboard bisa menampung enam video graphics array (VGA), masing-masing dengan catu daya sendiri, sehingga menghasilkan hashrate lebih tinggi," kata Egi.
Terakhir adalah skala besar/industrial mining farm dengan operasi seperti pabrik berupa ratusan hingga ribuan GPU atau ASIC. Biasanya dikelola perusahaan, bukan individu dengan daya listrik ratusan kilowatt hingga megawatt. Mesin ASIC merupakan yang paling rakus listrik, mengonsumsi antara 3.000 hingga 5.000 watt per unit, sekaligus menghasilkan hashrate terbesar di antara semua jenis mesin.
"Di Indonesia skala besar belum ada, masih banyak didominasi mini miner dan farm mining yang banyak di Pulau Jawa," kata Egi.
Menurut dia, penggunaan listrik dari PLN untuk menambang kripto dianggap tidak menguntungkan. Perhitungan biaya operasional menunjukkan bahwa keuntungan yang diperoleh tidak sebanding dengan konsumsi listrik. Hal ini mendorong banyak miner (penambang kripto) beralih ke energi terbarukan atau green energy, yang dianggap solusi paling efisien untuk menekan biaya energi.
Baca Juga
Tren terbaru menunjukkan miner mulai memanfaatkan pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) di berbagai daerah, bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Strategi ini tidak hanya menekan biaya listrik, tetapi juga mendukung kesejahteraan desa yang memiliki aliran sungai deras. Daerah pegunungan sejuk yang dekat sungai biasanya menjadi lokasi favorit untuk pembangunan mining farm karena aliran sungai tetap stabil meski musim kemarau.
Egi menilai, meski green energy menawarkan solusi hemat biaya, tidak semua teknologi dianggap ideal. Misalnya, instalasi solar panel membutuhkan lahan luas dan biaya tambahan, sehingga tidak selalu disarankan untuk mining farm. "Miner harus menyeimbangkan antara potensi penghematan biaya energi dan investasi awal yang tinggi untuk memastikan operasi tetap menguntungkan," kata dia.

