Percepat Transisi Energi, IISD Dorong Reformasi Subsidi Energi dan Tarif Listrik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - International Institute for Sustainable Development (IISD) menilai, Indonesia perlu memperkuat reformasi kebijakan energi agar transisi menuju energi bersih berjalan efektif dan tidak membebani keuangan negara.
Lead, Electric Mobility and Indonesia Energy IISD Achmad Zacky Ambadar mengungkapkan, ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil masih sangat besar, sementara bauran energi terbarukan justru sedikit menurun dibanding tahun sebelumnya.
“Di 2024, bauran energi terbarukan itu 16% agak menurun dibandingkan 2023 yang 17%. Meski masih sesuai dengan target pemerintah yang baru, yaitu antara 16%-23%. Tapi sebetulnya kita masih bisa lebih optimalkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil,” ujarnya, di Jakarta, Senin (10/11/2025).
Baca Juga
Menurut Zacky, pemerintah perlu melakukan reformasi kebijakan subsidi energi agar lebih tepat sasaran. Sebab, skema subsidi saat ini belum efektif, dan perlu mencari mekanisme baru yang dapat membantu masyarakat dan tetap mendorong pergeseran dari energi fosil ke energi terbarukan.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya koordinasi lintas kementerian dan lembaga agar kebijakan yang diambil tidak saling bertentangan. Konsolidasi antara pemerintah dan para pemangku kepentingan sangat penting, jangan sampai satu kebijakan justru malah membebani pihak lain.
Reformasi tarif listrik, lanjut Zacky, juga perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan masyarakat dan keberlanjutan fiskal negara.
“Subsidi tarif listrik tadi kan ada sekitar Rp 106 triliun untuk rumah tangga di kategori 1. Penyesuaian tarif ini juga harus memikirkan antara affordability dari masyarakat dan juga nilai ekonomi,” katanya.
Baca Juga
Di sisi bersamaan, Zacky juga menyoroti efektivitas insentif kendaraan listrik. Menurutnya, pemerintah perlu mengevaluasi skema yang ada agar pertumbuhan kendaraan listrik sejalan dengan peningkatan porsi energi terbarukan.
“Yang paling ideal menurut saya adalah ketika kita berbicara kendaraan listrik, listrik yang dihasilkan itu bersumber dari renewable energy. Hal ini yang perlu juga kita identifikasi. Jangan sampai kita mendorong penjualan kendaraan listrik, tetapi di saat yang bersamaan ketergantungan kendaraan listriknya adalah masih terhadap coal,” ucapnya.

