Bagikan

Toyota Siap Investasi Rp 2,5 Triliun Kembangkan Bioetanol di Indonesia

Poin Penting

Toyota investasi Rp 2,5 triliun bangun pabrik bioetanol di Lampung pada 2026
Mendukung kebijakan E10 dan swasembada energi Indonesia
Teknologi bioetanol generasi kedua dari limbah pertanian

JAKARTA, investortrust.id - Perusahaan asal Jepang, Toyota melalui PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menyampaikan minat berinvestasi dalam pengembangan industri bioetanol di Indonesia. Hal itu disampaikan Wakil Menteri (Wamen) Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Todotua Pasaribu.

Todotua menjelaskan, langkah ini merupakan bagian strategi global Toyota untuk mengamankan pasokan bahan bakar bagi kendaraan flex-fuel berbasis bioetanol, sekaligus mendukung kebijakan Pemerintah Indonesia dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor.

“Kolaborasi ini dapat menjadi tonggak penting dalam pengembangan biofuel generasi berikutnya. Indonesia memiliki keunggulan sumber daya alam dan lahan pertanian luas, sementara Jepang memiliki keunggulan teknologi. Kombinasi keduanya akan menghasilkan dampak nyata bagi ketahanan energi dan ekonomi hijau,” kata Todotua dalam keterangan yang diterima dikutip Senin (10/11/2025).

Baca Juga

Tiga Strategi Besar Toyota di Japan Mobility Show 2025: Menjadi “Best in Town” untuk Dunia

Dalam rangkaian kunjungan kerja ke Jepang, Todotua melakukan pertemuan dengan CEO of Asia Region, Toyota Motor Corporation Masahiko Maeda serta mengunjungi fasilitas riset di Fukushima milik Research Association of Biomass Innovation for Next Generation Automobile Fuels (RABIT), asosiasi riset yang dibentuk beberapa perusahaan otomotif dan energi Jepang dengan Toyota sebagai kontributor terbesar di dalamnya, untuk meneliti teknologi bahan bakar termasuk bioethanol.

Pertemuan ini membahas rencana investasi Toyota dalam pengembangan ekosistem bioetanol di Indonesia, yang sejalan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong swasembada energi, ekonomi hijau, serta hilirisasi guna meningkatkan nilai tambah sumber daya alam (SDA) di dalam negeri.

Sepulangnya dari Tokyo, baik Toyota maupun Pertamina akan langsung melakukan joint study dan site visit ke lokasi di Lampung, targetnya pada awal 2026 perusahaan patungan (JV) sudah terbentuk.

"Dalam rangka mendukung kebijakan E10, saat ini tengah dikaji rencana pengembangan fasilitas dengan kapasitas produksi sebesar 60.000 kiloliter per tahun dan nilai investasi sekitar Rp 2,5 triliun. Investasi ini menjadi langkah awal yang diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga membuka peluang ekspor ke negara lain,” terang Todotua.

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu (kedua kanan) saat mengunjungi fasilitas riset di Fukushima milik Research Association of Biomass Innovation for Next Generation Automobile Fuels (RABIT) di Jepang, Jumat (7/10/2025). Foto: Dok/BKPM (Foto: Dok/BKPM)
Source: Foto: Dok/BKPM

Mandatory Blending Bioetanol oleh Pemerintah Indonesia

Dalam kesempatan tersebut, Todotua menyampaikan apresiasi atas komitmen Toyota dalam mendukung program pemerintah di bidang energy security dan transisi energi hijau. Ia mengungkap sebagai bagian dari strategi menekan impor BBM yang masih tinggi, Pemerintah Indonesia telah menetapkan kebijakan mandatory blending bioetanol dalam bensin sebesar 10% (E10) yang akan mulai diterapkan pada tahun 2027.

Pria yang juga menjabat sebagai wakil komisaris utama PT Pertamina (Persero) itu menilai, ada potensi besar kerja sama dengan Toyota untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi bioethanol di kawasan.

“Saat ini kebutuhan bahan bakar di dalam negeri mencapai lebih dari 40 juta kiloliter per tahun, dengan kewajiban E10 maka setidaknya Indonesia membutuhkan sekitar 4 juta kiloliter bioetanol di 2027, agar tidak kehilangan momentum, maka persiapan pembangunan pabrik pendukung harus dimulai dari sekarang. Peluang inilah yang ditangkap oleh Toyota yang juga sudah mengembangkan mobil berbahan bakar bioetanol di banyak negara” tutur dia.

Beberapa negara seperti Brasil bahkan sedang mengkaji kebijakan E100 yang artinya 100% bahan bakar berasal dari bioetanol. Kebijakan serupa juga diambil sejumlah negara, di antaranya Amerika Serikat, China, India, Prancis, Thailand, dan Filipina yang sudah menerapkan kebijakan E10 – E20.

Baca Juga

Purbaya Buka Peluang Turunkan PPN di 2026, Bos Toyota: Bagus!

“Dalam beberapa minggu ke depan di COP 30 Brasil, dunia akan membicarakan aksi nyata terhadap perubahan iklim yang diantaranya berfokus kepada transisi energi dan transportasi, rencana investasi Toyota di Indonesia untuk pengembangan industri Bioetanol ini sangat didukung Pemerintah Indonesia karena merupakan bagian dari salah satu langkah nyata tersebut” ujar Todotua.

Dalam kolaborasi risetnya di Jepang melalui RABIT (Research Association of Biomass Innovation), Toyota tengah mengembangkan bioethanol generasi kedua yang bersumber dari biomassa non-pangan, seperti limbah pertanian dan tanaman sorgum. Teknologi ini dinilai sangat relevan dengan potensi agrikultur Indonesia yang melimpah dan kondisi agroklimat yang cocok untuk budidaya secara berkelanjutan.

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu (kiri) dan CEO of Asia Region Toyota Motor Corporation Masahiko Maeda (kanan) saat melakukan pertemuan di Jepang, Jumat (7/10/2025). Foto: Dok/BKPM (Foto: Dok/BKPM)
Source: Foto: Dok/BKPM

“Kemarin saat kunjungan kami juga telah berdiskusi dengan RABIT, bahwa teknologi pabrik bioethanol generasi kedua ini dapat memanfaatkan berbagai macam limbah pertanian (multi-feedstock), sehingga teknologinya cocok dengan Indonesia yang tidak hanya memiliki potensi tanaman sorgum, tetapi bisa juga dari tebu, padi, singkong, kelapa sawit, aren dan lain-lain ” tutur Todotua.

Berdasarkan Roadmap Hilirisasi Investasi Strategis yang dimiliki Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, sejumlah wilayah seperti Lampung telah disiapkan untuk menjadi sentra pengembangan industri bioethanol, dengan dukungan bahan baku dari tebu, singkong, dan sorgum. Investasi di sektor ini diproyeksikan tidak hanya memperkuat rantai pasok energi bersih, tetapi juga membuka lapangan kerja baru dan mendorong kesejahteraan petani lokal di daerah.

“Sebagai pioneer project, tadi sudah didiskusikan akan bekerja sama dengan Pertamina NRE (New Renewable Energy) di Lampung, untuk bahan bakunya juga tidak hanya dari perusahaan tapi juga melibatkan petani dan koperasi tani setempat sehingga juga dapat menggerakan perekonomian di daerah, nantinya untuk suplai energi juga diintegrasikan dengan plant geothermal dan hidrogen milik Pertamina,” jelas Todotua.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024