Wamen Investasi Ungkap Hilirisasi Butuh Energi Murah dan Berkelanjutan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Menteri Investasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Todotua Pasaribu menegaskan, hilirisasi merupakan kebijakan strategis yang tidak hanya bertujuan mengurangi ekspor bahan mentah, tetapi membangun daya saing industri berkelanjutan.
Kendati demikian, Todotua tidak memungkiri bahwa terdapat sejumlah tantangan dalam menggenjot hilirisasi. Salah satunya kekuatan suplai energi. Sebab, semakin jauh proses hilirisasi yang dilakukan, membutuhkan konsolidasi energi dengan volumenya lebih besar.
“Saya ambil contoh dalam rangkaian bauksit. Itu kan alurnya bauksit diproses menjadi alumina, kemudian alumina menjadi aluminium. Bauksit menjadi alumina, let's say satu plan kita butuh power-nya 250 megawatt (MW). Pada saat masuk ke plan aluminium itu 4 kali lipat,” kata Todotua dalam acara "Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2025", di Jakarta, Selasa (28/10/2025).
Baca Juga
Tak Hanya Nikel dan Timah, Simbara Juga Direncanakan Cakup Bauksit hingga Tembaga
Untuk itu, kata dia, untuk memaksimalkan program hilirisasi, perlu pasokan energi kompetitif, efisien, dan berkelanjutan agar industri hilir nasional mampu bersaing di tingkat global. Ketersediaan energi murah dan andal menjadi faktor krusial dalam mendukung proses hilirisasi industri. “Di sini kalau energi yang dipakai tidak mempunyai daya saing, karena di sini 40% faktor cost-nya adalah energi, maka kita harus mencari energi murah,” ujar Todotua.
Pemerintah terus mendorong program hilirisasi sumber daya alam sebagai strategi utama memperkuat struktur ekonomi nasional dan meningkatkan nilai tambah ekspor. “Hilirisasi ini kita dorong karena dua alasan utama. Pertama, policy, kita tidak lagi memperbolehkan ekspor bahan mentah. Kedua, kita sudah memiliki strategi nasional berbasis kluster komoditas,” terangnya.
Dia membeberkan bahwa pemerintah telah menetapkan sembilan kluster komoditas utama dengan total 28 jenis komoditas unggulan yang menjadi fokus hilirisasi. Kluster tersebut mencakup sektor mineral, batu bara, minyak dan gas, pertanian, kehutanan, maritim, hingga perikanan.
Todotua menjelaskan, Indonesia memiliki posisi strategis di banyak komoditas global. Misalnya, nikel dan crude palm oil (CPO) Indonesia menempati peringkat pertama di dunia, sementara rumput laut, ikan, serta beberapa mineral seperti bauksit, tembaga, emas, dan timah masuk dalam jajaran lima hingga sepuluh besar dunia.
Baca Juga
Hilirisasi Tembaga dan Bauksit Wajib Perhatikan Dampak Lingkungan
“Kita punya sumber daya alam yang sangat kuat dan lengkap. Karena itu, logis kalau kita tidak mengekspor bahan mentah, tetapi justru mengolahnya di dalam negeri agar nilai tambahnya lebih besar,” katanya.
Kendati demikian, Todotua mengakui bahwa hilirisasi tidak lepas dari tantangan, terutama dari sisi daya saing, keberlanjutan, dan dampak lingkungan. “Saat kita masuk ke eksplorasi dan hilirisasi, pasti ada dampak terhadap lingkungan, terutama di sektor mineral, batu bara, dan migas. Untuk itu, pemberian perizinan harus dilakukan dengan sangat hati-hati,” jelasnya.

