Forbes CEO Global Conference: Anindya Bakrie Tekankan Indonesia Mau Naik Kelas Lewat Hilirisasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Anindya Novyan Bakrie, menekankan keinginan Indonesia untuk naik kelas dari sisi pertumbuhan perekonomian ke depan, utamanya melalui upaya hilirisasi. Hal itu disampaikan oleh Anindya dalam gelaran Forbes CEO Global Conference ke-23.
Mulanya, Anindya mengungkap, adanya peluang dari pergeseran global supply chain atau rantai pasok dunia. Ia menyampaikan, saat ini pelaku ekonomi global semestinya dapat bergerak adaptif memainkan peran dalam perdagangan dunia.
Ia mencontohkan, bagaimana Indonesia memainkan peran dalam beradaptasi terhadap peluang pergerakan rantai pasok dunia. Meski telah memiliki kesepakatan dengan Amerika Serikat (AS), Indonesia tetap menjajaki dan membuat perjanjian dagang bersama pihak lain, seperti Kanada dan Uni Eropa.
"Indonesia memang ada kesepakatan dengan Amerika, tapi tidak berhenti di Amerika saja. Kita ke Uni Eropa dan juga kita ke Kanada," kata dia kepada awak media saat sela-sela agenda Forbes CEO Global Conference di The St. Regis, Jakarta, Selasa (14/10/2025).
Menurutnya, penjajakan kerja sama multipihak tersebut adalah bagian dari upaya pemerintah dalam mendorong pengusaha skala besar maupun sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), guna memperluas diversifikasi pasar ekspor.
"(Perjanjian dengan Uni Eropa dan Kanada) untuk membantu teman-teman kita (pengusaha) dari yang besar sampai UMKM, penjualan hal-hal yang mirip dengan Amerika. Contohnya alas sepatu, garmen, tekstil, furniture, dan juga elektronik tentu," jelasnya.
Anindya mengatakan, peluang bagi Indonesia untuk naik kelas dalam perdagangan rantai pasok dunia, semakin besar lantaran adanya potensi dari cadangan mineral kritis. Ia menjelaskan, cadangan mineral kritis dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat negosiasi dalam perdagangan dunia.
Baca Juga
Namun ia menekankan agar cadangan mineral kritis tersebut harus diproses di Tanah Air, melalui proyek hilirisasi. Ia mencontohkan bagaimana komoditas nikel yang sekitar 10 tahun memiliki nilai ekspor bahan mentah US$1 miliar. Dan setelah diolah dengan hilirisasi, nilainya melonjak menjadi US$35 miliar.
"Jadi itu kita tekankan bahwa Indonesia itu mau naik kelas," tegasnya.
Kebutuhan Lapangan Kerja
CEO PT Bakrie & Brothers Tbk itu mengungkap, selain soal pentingnya proyek hilirisasi, ia juga mengungkap Indonesia harus menghadirkan solusi penciptaan lapangan pekerjaan dalam waktu dekat. Ia memperkirakan, Indonesia setidaknya harus menicptakan 2,5 juta-3 juta lapangan pekerjaan setiap tahun.
Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak agar seluruh pihak dapat berkontribusi terhadap percepatan penciptaan lapangan pekerjaan di Tanah Air.
Anindya menekankan penting bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas dan inklusifitas perekonomian di dalam negeri. Ia mengkhawatirkan, apabila solusi penciptaan lapangan pekerjaan tidak dapat ditemukan dalam waktu dekat, hal ini kemudian akan berdampak pada tingginya gini rasio.
"Karena negara kita ini kan banyak anak mudanya, dan jangan sampai terlihat yang besar semakin besar. Tapi yang kecil itu tidak bisa naik kelas," ungkapnya.
Forbes Global CEO Conference ke-23 secara resmi dibuka hari ini di Jakarta, Indonesia. Acara ini dihadiri oleh sekitar 380 orang yang merupakan CEO terkemuka, para tokoh pemikir/thought leaders, wirausahawan, dan investor.
Mengusung tema “The World Pivots”, konferensi ini akan membahas babak baru dalam perekonomian global, sebuah era yang ditandai dengan turbulensi geopolitik dan kemajuan teknologi yang luar biasa. Bagi para pemimpin bisnis dan investor, inovasi yang lebih cepat serta langkah strategis yang berani, akan menjadi kunci utama dalam menghadapi era baru yang penuh tantangan.

