Ngobrol 40 Menit di Whoosh Berujung Kolaborasi Kemenperin-Kementrans
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kolaborasi antara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Transmigrasi (Kementrans) dalam pengembangan industri di kawasan transmigrasi berawal dari pertemuan singkat di Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita (AGK) mengungkapkan, pertemuan itu berlangsung saat dirinya dan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bersama Menteri Transmigrasi Iftitah S Suryanagara usai menghadiri acara wisuda di Universitas Padjadjaran (Unpad) beberapa waktu lalu.
Menurut dia, diskusi singkat selama 40 menit di perjalanan Jakarta-Bandung cukup untuk menemukan titik temu kerja sama. “Waktu 40 menit kita berdiskusi begitu dalam, sehingga kita bisa menemukan sebuah titik temu di mana Kementerian Transmigrasi dan Kementerian Perindustrian bisa berkolaborasi,” kata AGK di Kantor Kemenko IPK, Jakarta Pusat, Jumat (26/9/2025).
Baca Juga
Kucurkan Rp 1,8 Triliun, Pemerintah Percepat Pengembangan 154 Kawasan Transmigrasi
Pada kesempatan yang sama, Menko AHY berkelakar bahwa trase Kereta Cepat Jakarta-Bandung saja dapat menghasilkan satu kesepakatan bersama untuk mendorong Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, bila diperpanjang hingga Surabaya bisa menciptakan kolaborasi berkali lipat.
“Cerita Pak Menteri Perindustrian tadi juga saya konfirmasi, benar memang ada pertemuan di kereta cepat Jakarta-Bandung. Bayangkan, Jakarta-Bandung saja satu MoU, kalau Jakarta-Surabaya itu minimal lima MoU dengan lima kementerian,” ujar AHY dalam acara penandatanganan MoU, Jumat (26/9/2025).
Sekadar informasi, Menteri AGK bersama Menteri Iftitah akan menggodok peta jalan pengembangan kawasan ekonomi transmigrasi terintegrasi (KETT) guna memperkuat basis industri di sejumlah wilayah transmigran.
“Ini permulaan dari journey yang panjang, dan jangan sampai MoU ini hanya menjadi suatu yang diawang-awang. Dan mungkin dalam waktu dekat, kita bisa membuat roadmap untuk daerah-daerah transmigrasi yang bisa dikawinkan dengan sumber daya alam. Ke depan, kita juga perlu melibatkan secara aktif Kepulauan Kawasan Industri untuk bisa diimplementasikan,” kata AGK di kantor Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Jakarta, Jumat (26/9/2025).
Menko AHY juga menjelaskan, kawasan tersebut akan dipetakan secara ilmiah melalui program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) yang melibatkan dosen, mahasiswa, dan alumni perguruan tinggi.
Dikatakan AHY, pemetaan tersebut ditujukan untuk mengidentifikasi potensi ekonomi di setiap kawasan transmigrasi.
Baca Juga
Kemenperin - Kementrans Godok Peta Jalan untuk Kawasan Ekonomi Transmigrasi Terintegrasi
Sementara itu, Menteri Iftitah menambahkan, pengembangan dilakukan secara bertahap sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029. Menurut dia, total anggaran yang disiapkan mencapai Rp 1,8 triliun untuk mendukung pengembangan di seluruh kawasan.
Iftitah juga menuturkan, roadmap pengembangan kawasan transmigrasi diarahkan berbasis industri. Misalnya di Desa Salor, Merauke, Papua Selatan, kawasan transmigrasi akan disinergikan dengan proyek strategis nasional (PSN) industri tebu.
Adapun beberapa pilot project telah berjalan, seperti di kawasan transmigrasi Melolo, Nusa Tenggara Timur. Kemudian, lanjut Iftitah, rencana pengembangan kawasan transmigrasi Kampung Tanjung Banon, Pulau Rempang, Pulau Galang di Batam, serta Pulau Morotai di Maluku Utara.
Pola kepemilikan lahan ke depan juga dirancang melalui korporasi bersama di bawah Koperasi Merah Putih yang bermitra dengan industri.
“Dengan model bisnis ini, masyarakat akan memperoleh dua keuntungan, baik sebagai pekerja dengan penghasilan bulanan maupun pemegang saham yang mendapat dividen,” jelas Iftitah.

