Pertamina Patra Niaga Pacu Pengembangan SAF, Siap Jalankan Mandatori Penerbangan Rendah Emisi 2040
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Dalam rangka mendorong transisi energi berkeadilan di sektor transportasi udara, PT Pertamina Patra Niaga terus memantapkan langkah pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) sebagai bagian dari ekosistem bioenergi nasional. Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis PT Pertamina Patra Niaga, Harsono Budi Santoso, menegaskan hal ini saat menjadi salah satu pembicara pada sesi panel Investortrust Green Energy Summit 2025, yang mengangkat tema “Transisi Energi yang Adil: Menjaga Bumi, Menyejahterakan Rakyat”, di Jakarta, Selasa (23/9/2025).
Menurut Harsono, Pertamina Patra Niaga telah melaksanakan uji coba ekosistem SAF secara menyeluruh pada Agustus 2025. Uji coba tersebut mencakup produksi SAF dengan metode co-processing, penyaluran bahan baku berupa Used Cooking Oil (UCO), persiapan kilang, serta perencanaan distribusi dan penjualan bahan bakar ramah lingkungan tersebut.
Ia menyebut bahwa SAF bukan sekadar inovasi teknologi, namun juga bagian penting dari strategi dekarbonisasi nasional yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Harsono memaparkan bahwa roadmap ekosistem SAF telah disusun hingga tahun 2040 dengan tiga tahap besar. Tahap pertama, inkubasi, sedang berjalan di tahun 2025, yang fokus pada pembangunan kemitraan dengan maskapai internasional guna menciptakan permintaan yang terjamin bagi produsen SAF. Sejumlah maskapai yang menjadi mitra potensial antara lain Garuda Indonesia, Singapore Airlines, United, hingga Pelita Air yang telah sukses menjalankan joy flight menggunakan SAF pada 17 Agustus 2025 bersama PT PAS.
Baca Juga
Memasuki 2027, tahap pra-komersial akan dimulai. Pemerintah mewajibkan penggunaan SAF untuk seluruh penerbangan internasional yang berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta (CGK) dan Ngurah Rai (DPS). Harsono menyebut, pada tahun tersebut, target penggunaan bio-jet fuel mencapai 3 persen dari total kebutuhan bahan bakar penerbangan nasional, atau sekitar 168 juta liter dari total 5,6 miliar liter per tahun.
Puncak dari roadmap ini adalah tahun 2040, di mana SAF akan diwajibkan untuk seluruh penerbangan domestik yang berangkat dari bandara utama di Indonesia. Pada tahap ini, porsi SAF ditargetkan mencapai 15 persen dari total konsumsi jet fuel nasional, dengan proyeksi kebutuhan bio mencapai 1,116 miliar liter dari total 8,928 miliar liter per tahun.
Lebih lanjut, Harsono menegaskan bahwa Pertamina Patra Niaga siap menjadi penggerak utama dalam pengembangan dan distribusi SAF dengan memanfaatkan potensi feedstock lokal, termasuk limbah minyak jelantah. Ia optimistis bahwa dukungan terhadap SAF tidak hanya memberikan solusi bagi penurunan emisi karbon di sektor aviasi, tetapi juga membuka peluang ekonomi sirkular dan pengembangan industri hilir berbasis bioenergi.
“SAF adalah jembatan kita menuju masa depan energi yang lebih bersih dan inklusif. Kami berkomitmen menjadikan Indonesia sebagai pemain penting di pasar SAF regional, sejalan dengan arah kebijakan transisi energi nasional,” ujar Harsono.

