Inflasi AS Lemah, Harga Emas Naik Dekati Rekor Tertinggi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas mendekati rekor tertinggi sepanjang masa pada Rabu (10/9/2025) seiring meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan kembali memangkas suku bunga pada pertemuan 16-17 September mendatang. Dorongan ini datang setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) lebih lemah dari perkiraan, memperkuat keyakinan investor bahwa sikap kebijakan moneter akan semakin longgar.
Harga emas spot naik 0,6% menjadi US$ 3.645,96 (sekitar Rp 56,4 juta per ons) setelah sempat mencapai rekor US$ 3.673,95 pada Selasa (9/9/2025). Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember ditutup naik tipis 0,1% di US$ 3.685,9.
Baca Juga
Emas Global Tembus Rekor Tertinggi tapi Harga Antam malah Turun, Kok Bisa?
Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan harga produsen turun tak terduga pada Agustus akibat penurunan biaya jasa. Kondisi ini memperkuat pandangan pasar bahwa inflasi mulai mereda, memberi ruang bagi The Fed untuk melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter.
“Setiap pelemahan lebih lanjut dalam data AS akan mendukung emas mengingat lebih dua kali pemotongan suku bunga mungkin akan terjadi sebelum tahun ini berakhir,” kata analis pasar di City Index dan FOREX.com, Fawad Razaqzada dilansir CNBC
Emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap ketidakpastian politik dan inflasi. Dalam kondisi suku bunga rendah, emas cenderung lebih menarik bagi investor karena biaya peluang menyimpannya lebih rendah. Tahun ini harga emas telah melonjak lebih dari 38%, mencatatkan reli terkuat dalam beberapa tahun terakhir.
Pasar yakin pemotongan suku bunga berlanjut
Alat FedWatch CME menunjukkan probabilitas 90% terjadinya pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin pekan depan, dengan kemungkinan kecil terjadinya pemotongan yang lebih besar. Keyakinan ini semakin menguat pasca-laporan penggajian nonpertanian (NFP) pekan lalu menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja.
Departemen Tenaga Kerja AS juga merevisi turun estimasi pertumbuhan lapangan kerja hingga Maret, menandakan perlambatan terjadi bahkan sebelum kebijakan tarif impor agresif Presiden AS Donald Trump diberlakukan.
Baca Juga
Emas Global Tembus Rekor Tertinggi tapi Harga Antam malah Turun, Kok Bisa?
Situasi politik turut menjadi sorotan setelah seorang hakim federal memblokir upaya Trump mencopot Gubernur Federal Reserve Lisa Cook. Keputusan ini menjadi kemunduran awal bagi Gedung Putih dan memicu perdebatan mengenai independensi bank sentral.
Pasar kini menunggu rilis indeks harga konsumen (CPI) pada Kamis (11/9/2025) yang dianggap krusial dalam menentukan arah kebijakan The Fed selanjutnya. “Angka US$ 3.750 muncul sebagai level resistensi berikutnya, dan jika harga berhasil konsolidasi di atasnya, emas berpotensi menuju US$ 3.900 pada akhir tahun,” ujar Ricardo Evangelista, analis senior ActivTrades.
Selain emas, harga perak spot naik 0,7% menjadi US$ 41,16 per ons, platinum menguat 1,8% menjadi US$ 1.392,65, dan paladium melonjak 2,9% menjadi US$ 1.180,95.

