Tak Kuat Bersaing, Pedagang Pasar Ular Ramai-Ramai Tutup Gerai
JAKARTA, investortrust.id – Pasar Ular Plumpang, salah satu pasar legendaris di Jakarta yang dikenal sebagai pusat belanja produk bermerek (branded) berharga miring, mulai ditinggal pengunjung karena kalah bersaing dengan marketplace dan e-commerce. Alhasil, sebagian pedagang pun ramai-ramai menutup gerai.
Pasar Ular Plumpang, Jakarta Utara sekitar satu dekade lalu termasyhur sebagai surga berbelanja pakaian branded. Pasar tradisional ini menjual berbagai jenis pakaian impor bermerek dengan harga miring, dari mulai kaos, jaket, celana, sepatu, tas, dompet, ikat pinggang, parfum, kacamata, hingga topi.
Barang-barang di Pasar Ular lebih ramah di kantong karena merupakan produk cacat minor pabrik, sisa ekspor, atau sudah lewat masa tren.
Baca Juga
Pindah ke Platform Digital
Man Usta Fifi, pedagang di Pasar Ular yang ditemui investortrust.id, mengungkapkan, seiring maraknya e-commerce dan marketplace, banyak pembeli beralih ke platform digital. “Mereka mulai meninggalkan Pasar Ular. Kunjungan makin sepi, sehingga banyak pedagang yang menutup gerainya,” tutur pria yang akrab dipanggil Haji Uus tersebut.
Uus menambahkan, para pedagang di Pasar Ular kini hanya mengandalkanpengunjung di hari-hari libur dan Ramadan atau menjelang Idulfitri. “Kami merindukan masa-masa kejayaan Pasar Ular pada 2013-2014,” ujar Uus.
Uus mengakui, banyak pedagang Pasar Ular beralih ke penjualan online. Tetapi mereka tetap kesulitan bersaing dalam soal harga dan promosi. “Apalagi platform online sekarang banyak melibatkan artis dalam promosinya,” kata dia.
Baca Juga
Sebagian Tutup Gerai
Pedagang mi di Pasar Ular, Anjas, mengatakan, jumlah pengunjung di pasar tersebut telah berkurang signifikan. Tak mengherankan jika para pedagang mulai menutup sebagian besar gerainya.
Anjas, yang telah berdagang mi ayam bakso di pasar ini sejak 2001, menjelaskan, karena sepi pengunjung, para pedagang di Pasar Ular kini membuka tokonya pada jam 11.00. Mereka hanya berani membuka toko sejak pagi pada momen-momen ramai pembeli, misalnya selama Ramadan.
“Di sini mah udah mulai sepi, karena ada online-online begitu. Akhirnya pada buka jam 11 siang,” tutur dia, kepada investortrust.id.
Menurut Anjas, jumlah toko yang beroperasi di Pasar Ular juga terus menyusut. “Dulu mah tokonya bisa sampai puluhan, Mas. Sekarang tinggal belasan doang. Tapidi bulan Ramadan pasti ramai. Cuma kalau Idulfitri dan Iduladha pasti tutup karena pedagangnya pada mudik,” papar dia.
Baca Juga
Esriomri Br Simanjuntak, pedagang sepatu di Pasar Ular, menjelaskan, para pedagang di pasar tersebut berharap pemerintah turun tangan membantu mereka agar bisa bersaing dengan marketplace dan e-commerce.
“Kalau dari pemerintah sih nggak ada bantuan, Bang. Pokoknya udah banyak yang tutup saat pandemic Covid-19. Sepi pelanggan juga kan. Kami mengharapkan solusi dari pemerintah, bagaimana caranya agar pembeli di Pasar Ular tidak turun terus,” ucap dia.
Semula Bernama Pasar Buaya
Uus berkisah, Pasar Ular sudah ada sejak era 1960-an. Pasar Ularsemula dikenal sebagai Pasar Buaya karena dekat dengan pelabuhan atau muara. Dulu, di muara tersebut mudah ditemui buaya berkeliaran. Baru pada 1987, pasar itudipindahkan ke lokasi saat ini, Jl Plumpang Raya. “Mungkin karena lokasinya dekat pintu pelabuhan, dulu barangbebas aja keluar-masuktanpa izin,” tutur dia.
Baca Juga
Pasar yang hanya sepelemparan batu dari Pelabuhan Tanjung Priok ini, kata Uus, awalnya merupakan pasar loak yang menyediakan berbagai jenis barang, seperti pakaian, sepatu, keramik, dan barang elektronik. Barang-barang tersebut datang langsung dari kapal-kapal yang berlabuh di Pelabuhan Priok.
Uus mengungkapkan, Pasar Ular yang kini tampak kumuh, mencapai puncak kejayaannya pada2013-2014. Pembelinya bukan hanya berasal dari Jakarta, tapi juga dari darah lain. Bahkan, pelancong dari berbagai negara kerap berkunjung ke Pasar Ular untuk berbelanja. “Sekarang mah boro-boro,” kata Uus.(CR-3)

