DPM Siap Garap Tambang Seng dan Timbal 1 Juta Ton Senilai Rp 7 Triliun di Sumut
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – PT Dairi Prima Mineral (DPM), perusahaan patungan PT Bumi Resources Minerals Tbk (49%) dan China Nonferrous Metal Industry’s Foreign Engineering & Construction Co. Ltd (NFC China, 51%), menyatakan komitmennya memulai konstruksi dan produksi tambang seng dan timbal di Kabupaten Dairi, Sumatra Utara.
Proyek strategis ini bernilai investasi sekitar US$ 452 juta atau setara Rp 7 triliun, dengan kapasitas produksi mencapai 1 juta ton bijih kering per tahun.
Government Relation and Media Relation Manager PT DPM Baiq Idayani menjelaskan, perusahaan saat ini masih berada di tahap perencanaan dan pengajuan perizinan. Proses tersebut, meliputi adendum analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) dan revisi feasibility study (FS) sebagai syarat kelayakan operasi.
Baca Juga
Tambang Masa Kini ala Harita Nickel dan Dairi Prima, Ramah Lingkungan hingga Berorientasi SDGs
“Kami berharap proses perizinan ini dapat segera selesai agar perusahaan bisa memulai konstruksi dalam waktu dekat. Kami juga memohon dukungan dari Kementerian Lingkungan Hidup serta Kementerian ESDM agar operasional tambang ini bisa segera memberikan kontribusi terhadap ekonomi daerah dan nasional,” ujar Baiq saat acara media gathering Energi Editor Society (E2S) di Bogor, seperti dikutip Selasa (12/8/2025).
Menurut Baiq, bijih yang akan ditambang memiliki kadar rata-rata sekitar 6,9% untuk zinc (seng) dan 11–12% untuk lead (timbal), dengan tingkat pemulihan (recovery) produksi sekitar 85%. Proses pengolahan akan dilakukan melalui tiga jalur konsentrator untuk memisahkan konsentrat seng, timbal, dan sulfur.
Baca Juga
Caplok Grup HBS AU$ 40 Juta, Petrosea (PTRO) Ekspansi ke Mineral Emas di Papua New Guinea
Saat ini, jumlah tenaga kerja DPM masih terbatas karena kegiatan operasional belum berjalan penuh. “Total karyawan saat ini sekitar 150 orang, dengan 72% berasal dari Kabupaten Dairi. Namun ke depan, saat tambang mulai beroperasi, kebutuhan tenaga kerja akan meningkat signifikan menjadi sekitar 600–1.000 orang,” jelasnya.
DPM menargetkan tahap konstruksi akan berlangsung selama 2 tahun sebelum memasuki fase produksi. Perusahaan optimistis, kerja sama erat antara pemerintah pusat dan daerah akan mempercepat realisasi proyek ini, sekaligus membawa dampak ekonomi positif bagi Sumatera Utara.

