Pendidikan Teknologi Sejak Dini Percepat Modernisasi Distribusi Pangan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Kebijakan pangan nasional dan model distribusi berbasis teknologi terus membentuk ulang sistem pangan domestik di kawasan Indo-Pasifik. Dalam proses ini, pendidikan teknologi sejak usia dini dinilai krusial untuk mempercepat modernisasi distribusi pangan.
Secretary NEISSS India, Chhavi Rajawat, menilai bahwa memperkenalkan teknologi pertanian dan inovasi kepada komunitas pertanian—terutama petani kecil—merupakan tugas besar dengan dampak strategis jangka panjang. Namun ia meyakini, pemanfaatan teknologi mampu mengubah perspektif masyarakat desa dan petani terhadap sistem distribusi pangan modern.
“Saya pikir yang dibutuhkan adalah pendidikan yang lebih baik untuk kesadaran yang lebih besar. Teknologi perlu diajarkan di sekolah sejak dini, sehingga adaptasi terhadap teknologi meningkatkan kualitas kebijakan di seluruh negara bagian, seperti kami,” ujar Chhavi kepada Investortrust.id.
Ia menjelaskan bahwa pergeseran model distribusi pangan menuntut pemahaman teknologi tidak hanya bagi orang dewasa, tetapi juga bagi generasi muda. Di India, banyak anak muda kini mulai meninggalkan pekerjaan di kota dan memilih merintis usaha di sektor pertanian, berkat terbukanya peluang melalui teknologi.
Baca Juga
Data Kebutuhan Masyarakat Perkuat Distribusi Pangan Berbasis Teknologi
Pendidikan teknologi sejak dini, menurut Chhavi, menjadi sistem pendukung penting dalam mendorong keterlibatan generasi muda, serta mengurangi kesenjangan antara wilayah pedesaan dan perkotaan.
“Pemerintah India telah benar-benar mempromosikan apa yang disebut sebagai FPO, yaitu Organisasi Produsen Petani. Juga keterlibatan kaum muda, berkat perusahaan rintisan, berkat teknologi, dan pengenalan drone. Misalnya di sektor pedesaan, yang dapat dimanfaatkan dan digunakan secara lebih efisien oleh generasi muda,” jelasnya.
Chhavi juga menekankan pentingnya kolaborasi negara-negara Indo-Pasifik untuk saling berbagi praktik terbaik dalam membangun sistem pangan yang tangguh dan inklusif. Mengingat banyak negara di kawasan ini memiliki kesamaan karakter peradaban dan tantangan, maka pendekatan kolaboratif menjadi sangat relevan.
Sebagai negara-negara bertetangga, ujar Chhavi, kawasan Indo-Pasifik harus membangun jaring pengaman bersama untuk meningkatkan ketahanan pangan. Ia mendorong agar pemangku kebijakan fokus pada perkembangan regional, serta memperkuat kolaborasi melalui sistem perdagangan digital seperti penggunaan teknologi blockchain dan kecerdasan buatan (AI).
“Karena itulah yang akan benar-benar memastikan dan memperkuat kolaborasi yang dapat dilihat dan diupayakan oleh kawasan kita, sebagai kawasan Indo-Pasifik,” pungkasnya.

