Fokus Kemandirian Energi, ESDM Siapkan Strategi Dekarbonisasi 2025-2029
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah Indonesia menguatkan langkah untuk mencapai kemandirian dan ketahanan energi nasional. Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan bahwa kepemimpinannya akan fokus pada pencapaian kemandirian energi, guna memastikan Indonesia tidak bergantung sepenuhnya pada negara lain.
Direktorat Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyiapkan langkah-langkah dekarbonisasi untuk periode 2025-2029.
Direktur Pembinaan Program Migas Kementerian ESDM, Mirza Mahendra, menegaskan bahwa ketahanan energi menjadi prioritas utama pemerintah saat ini. Dalam berbagai kesempatan, Menteri ESDM Bahlil Hadilillah juga menekankan komitmen Kementerian ESDM dalam mencapai ketahanan energi nasional.
"Indonesia saat ini dihadapkan pada tantangan pemenuhan elemen 4A, yaitu availability (ketersediaan), accessibility (aksesibilitas), affordability (keterjangkauan), dan acceptability (keberterimaan) energi bagi masyarakat," ujar Mirza dalam webinar bertajuk "Menata Pasokan Gas untuk Penguatan Transisi Energi", di Jakarta, Selasa (5/8/2025).
Baca Juga
30.000 Sumur Minyak Rakyat Bisa Hemat Impor 100.000 Barel Per Hari
Mirza menerangkan, untuk aspek availability, pemerintah terus mendorong peningkatan produksi minyak dan gas (migas) serta pengembangan kilang minyak dalam rangka memastikan ketersediaan energi yang memadai bagi kebutuhan nasional.
Sementara di sisi accessibility, program BBM satu harga menjadi salah satu wujud nyata komitmen pemerintah agar seluruh masyarakat Indonesia, tanpa memandang lokasi geografis, dapat mengakses energi dengan harga yang sama.
Mirza juga menekankan pentingnya acceptability dalam kebijakan energi. Pemerintah mendorong penggunaan teknologi yang lebih bersih dan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) untuk mendukung transisi menuju energi ramah lingkungan.
Kendati demikian, upaya mencapai ketahanan energi nasional dinilai tidak lepas dari tantangan besar. Di antaranya penurunan produksi migas, disparitas harga energi, ketergantungan pada impor energi, serta rendahnya tingkat pemanfaatan EBT.
"Kami sebagai pemerintah berkomitmen untuk terus mengambil langkah strategis dalam mencapai ketahanan energi. Selain itu, Indonesia juga berupaya mengejar target net zero emission (NZE) pada 2060 atau lebih cepat," ujar Mirza.
Sebagai bagian dari strategi jangka menengah, Direktorat Jenderal Migas telah menyiapkan langkah-langkah dekarbonisasi untuk periode 2025-2029. Strategi tersebut mencakup penyusunan kebijakan dan regulasi yang mendukung dekarbonisasi, serta pemanfaatan gas sebagai jembatan menuju transisi energi.
Baca Juga
DJP, Ditjen Minerba, dan SKK Migas Bersinergi Genjot Penerimaan Negara dari Tambang dan Migas
"Pemanfaatan gas untuk kebutuhan domestik akan ditingkatkan, sementara ekspor gas akan dikurangi secara bertahap seiring berakhirnya kontrak-kontrak dengan negara mitra. Penyusunan rencana induk jaringan transmisi dan distribusi gas bumi juga tengah dipersiapkan untuk mempercepat utilisasi gas dalam mendukung transisi energi," tambahnya.
Langkah-langkah strategis ini diharapkan dapat memperkuat fondasi Indonesia menuju kemandirian energi yang berkelanjutan, sekaligus mendorong tercapainya target dekarbonisasi nasional.

