Kisah Radio Kayu Asal Cianjur yang Potensial di Pasar Mancanegara
JAKARTA, investortrust.id - Radio menjadi barang yang langka di rumah tangga Indonesia. Tapi, di tangan Helmi Suana Permanahadi, produk radio menjadikan koleksi pajangan unik yang potensial dijual ke mancanegara.
Helmi yang juga pendiri dan pemilik Fiber Instrument Indonesia tersebut membuat radio dengan bahan kayu limbah dari Perhutani.
“Konsep produknya bertema vintage dengan rasa kekinian, karena (radio) support bluetooth, usb, dan FM radio,” kata Helmi saat ditemui Investortrust.id, di gelaran BRI UMKM Expo(RT) Brilianpreneur 2023, di JCC, Jakarta, Sabtu (9/12/2023).
Helmi mengatakan ide membuat radio kayu ini muncul saat berkunjung ke Cianjur, Jawa Barat. Dia melihat di lokasi tersebut banyak limbah kayu yang tidak digunakan dengan baik.
Limbah kehutanan hanya digunakan untuk pembakaran di pabrik tahu. “Kita ingin menaikkan nilai jual dari potensi si kayu ini,” kata dia.
Helmi mengatakan sejak 2016-2018 dia mulai membuat purwarupa radio kayu. Mulai dari desain hingga elektronikanya. Barulah pada 2018, dia berani memasarkan produk tersebut.
“Bluetoothnya yang kita beli impor. Semua kita produksi sendiri. Power segala macam. Speaker di-support teman-teman UMKM,” ucap dia.
Respons pasar
Dengan keunikan yang dimiliki, radio ini segera mendapat respons baik dari dalam maupun pasar luar negeri. Helmi bercerita, saat mengikuti pameran di China beberapa bulan lalu, sekitar 40 unit radio yang dibawanya ludes. “Responsnya bagus sekali. Karena kan belum banyak yang buat produk sejenis,” ujar dia.
Salah satu respons yang baik karena cerita dibalik pembuatan radio ini. Menurut dia, cerita dibalik produk penting untuk memberi kesan saat mengikuti pameran internasional. “Story telling penting, setiap produk yang pameran di luar perlu story telling yang kuat,” kata dia.
Salah satu cerita yang kerap membuat kagum pelanggan luar negeri yaitu bagaimana radio tersebut memakai kayu limbah dan bukan hasil pembalakan liar. “Biasanya kayu yang rubuh dari Perhutani dikasih ke binaannya, seperti saya yang sudah punya SVLK (Sistem Verifikasi Legalitas Kayu). Biasanya di-support bahan bakunya,” ujar dia.
Mengenai potensi ekspor, Helmi saat ini masih mengandalkan rekanan di luar negeri yang membeli produknya secara beli putus. Dia menyebut, setiap pembelian beli putus, rekanan itu akan menjualnya ke e-commerce dengan harga jual yang disesuaikan.
Produksi dan pasar
Helmi mengatakan saat ini perusahaannya sudah memiliki 10 model radio. Setiap model dinamai dengan nama tempat. Helmi mengatakan model radio Gede Pangrango sempat menarik minat Presiden Joko Widodo saat membuka BRI UMKM Expo(RT) Brilianpreneur 2023. “Pak Jokowi membeli produk kita, Gede Pangrango saat pembukaan,” ujar dia.
Dengan 10 karyawan di lokasi workshop, Helmi dalam sebulan bisa menghasilkan sekitar 150-200 piece radio.
Helmi bercerita produknya telah menjadi oleh-oleh resmi di perhelatan MotoGP dan G20. Ke depannya, dia berharap bisa membangun ekosistem sentra kerajinan kayu di Cianjur. “Kami harap dengan adanya itu muncul ekosistem berkelanjutan sehingga ke depannya bisa jadi wisata edukasi khususnya di Cianjur,” ujar dia.
Selain mengembangkan ekosistem, Helmi juga berharap muncul regulasi yang tepat untuk UMKM dari pemerintah. Terutama mengenai pembiayaan. Dia menyebut saat ini UMKM memerlukan jaminan yang lebih mudah.
“Tahun ke depan, setelah tahun politik ada regulasi yang kalau kita misalnya punya satu desain ber-HAKI bisa dijadikan jaminan KUR. Karena kalau di luar negeri sudah memungkinkan,” ujar dia. (CR-7)

